My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Bertemu Calon Ayah Mertua



Langit senja berwarna jingga terlihat seperti lukisan di atas canvas. Sekawanan burung angsa terbang untuk pulang ke sarangnya. Mereka melewati cahaya matahari yang mulai memudar. Hembusan angin musim gugur dapat membuat tubuh bergidik karena dingin yang menusuk.


Di bawah semua keindahan langit senja kala itu, Ye Joon sedang mondar-mandir layaknya setrikaan. Ye Jin yang sedari tadi mengamati kakak lelakinya itu semakin pusing karena mengikuti gerakan Ye Joon.


"Ya! Oppa!" teriak Ye Jin.


Ye Joon berhenti karena mendengar teriakan adik perempuannya itu. Hanya beberapa detik ia menghentikan langkah, kemudian kembali berjalan mondar-mandir di depan sang adik. Melihat tingkah Ye Joon, membuat Ye Jin menepuk dahi. Dia beranjak dari sofa, mengambil majalah bekas di bawah meja, menggulungnya, dan menghampiri sang kakak.


Ye Jin mengambil ancang-ancang kemudian memukulkan gulungan majalah itu ke kepala belakang Ye Joon. Mendapatkan pukulan menyakitkan dari Ye Jin membuat Ye Joon berteriak. Dia mengusap kepala kemudian melemparkan tatapan tajam kepada sang adik.


"Apa kamu gila? Bagaimana jika nanti aku mengalami gegar otak karena perbuatanmu!" seru Ye Joon.


"Ha-ha-ha ... aku akan sangat senang jika kamu mengalami gegar otak! Apalagi sampai kamu kehilangan nyawa! Aku akan mencairkan asuransi jiwamu lebih cepat!" seru Ye Jin.


Ye Joon memicingkan mata, dan melayangkan lengannya ke udara untuk memukul sang adik. Namun, Ye Jin yang berhasil menghindar, menjulurkan lidahnya untuk mengejek sang kakak.


***


Di kediaman Tuan Lee, Bibi Jang sedang sibuk menyiapkan hidangan. Eun Mi berusaha menidurkan Yohan yang sedari tadi merengek karena kantuk yang menyerang. Min Ah dan Seung Min duduk di depan piano besar dan memainkan lagu milik Ludwig Beethoven. Tuan Lee masih sibuk dengan ponselnya, membalas pesan dari beberapa kolega.


Melihat Eun Mi yang kepayahan menidurkan Yohan, Bibi Jang menghampirinya. Dia mengambil si kecil Yohan dari dekapan Eun Mi kemudian menimangnya.


"Nyonya muda, sebaiknya Anda segera ganti pakaian dan bersiap-siap. Bukankah Tuan Muda Kim sebentar lagi akan datang?"


"Ah, baiklah, Bi. Tolong bantu aku menidurkan Yohan, ya?" pinta Eun Mi.


Bibi jang mengangguk kemudian mengajak bayi mungil itu masuk ke kamar. Eun Mi juga masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Dia mengganti kaos over size yang dipakai dengan kimono handuk. Eun Mi juga tak lupa mengikat rambut panjangnya agar lebih mudah saat memulaskan riasan.


Eun Mi duduk di bangku depan meja rias. Dia menatap pantulan bayangannya dari cermin. Jemari lentik Eun Mi mulai mengoleskan pelembab ke seluruh wajah. Setelah gel pelembab itu terserap dengan baik, dia menimpanya dengan BB krim dan diakhiri dengan pulasan bedak tabur.


Eun Mi hanya menyikat alisnya agar terlihat rapi dan menggambar garis mata dengan eyeliner cair. Sebagai pemanis agar wajahnya tidak pucat, Eun Mi menggunakan lipstik dan perona pipi berwarna merah muda.


"Aigoo ... cantik sekali kamu hari ini!" Eun Mi memuji dirinya sendiri yang terpantul dari cermin.


Sebuah senyum lebar menghiasi bibir Eun Mi. Dia mulai berjalan ke arah lemari. Saat membuka pintunya, terpampang berbagai macam pakaian yang membuat Eun Mi pusing.


Setelah menimbang berulang kali, akhirnya Eun Mi memilih sebuah gaun lengan panjang. Gaun itu menjuntai sampai ke atas lutut Eun Mi. Gaun berbahan satin yang terlihat elegan. Warnanya juga terlihat sangat cantik, ungu muda. Eun Mi kembali mematut diri di depan cermin setelah memakai gaun itu. Merasa puas dengan penampilannya, ia langsung keluar kamar dan kembali bergabung dengan Tuan Lee dan yang lain.


Perlahan tapi pasti, Eun Mi menuruni anak tangga. Jantungnya berdegup begitu kencang ketika melihat sosok Ye Joon sudah duduk di meja makan bersama keluarga kecilnya. Eun Mi susah payah menelan ludah untuk melenyapkan rasa gugup yang mendadak datang.


Ketika tinggal satu langkah lagi, Eun Mi sampai di meja makan. Tiba-tiba dia tersandung kakinya sendiri. Mata perempuan itu melebar kemudian terpejam rapat. Bayangan manisnya berciuman dengan lantai memenuhi otak. Bisa dipastikan setelah itu bibirnya akan terlihat semakin seksi karena memar.


Tanpa sadar Eun Mi berhitung dalam hati. Di hitungan kelima, dia membuka mata. Sosok Seung Min sudah berada di depannya dengan mata penuh kekhawatiran. Lelaki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Eun Mi.


"Sifat cerobohmu benar-benar sangat memprihatikan!" bisik Seung Min diikuti senyuman miring.


"Terima kasih." Eun Mi langsung menarik tubuhnya dari pelukan sang kakak ipar.


Di hadapan Eun Mi, Ye Joon sedang mematung menyaksikan kejadian itu. Gigi Ye Joon terkatup rapat sehingga menimbulkan bunyi. Jemarinya mengepal kuat di samping badan. Dia menatap tajam ke arah Seung Min.


"Seharusnya aku yang ada di sana untuk menolong Eun Mi! Bukan dirimu," ucap Ye Joon dalam hati.


Amarah yang berkobar di dalam dadanya seakan padam setelah Eun Mi datang menghampiri. Perempuan itu menggandeng jemari tangannya. Dia tersenyum lembut dan mengikuti langkah kaki sang kekasih. Mereka duduk berdampingan di meja makan. Suasana hening mendominasi ruangan itu. Semua yang ada di sana makan dengan tenang.


Setelah selesai menyantap hidangan, Ye Joon yang hendak menyampaikan maksud kedatangannya terkejut bukan main. Tuan Lee tiba-tiba berbicara dengan nada dingin tetapi sangat menusuk.


"Jauhi Eun Mi!" seru Tuan Lee.


"Ya?" Mata Ye Joon terbelalak mendengar ucapan Tuan Lee.


"Apa kurang jelas yang aku katakan? Jauhi Lee Eun Mi, putriku!"


Bersambung ...


Assalamualaikum teman-teman! Apa kabar hari ini? Sehat-sehat ya semua.


Terima kasih ya, sudah bersedia membaca tulisan saya yang masih jauh dari kata sempurna ini. Sambil nunggu author remahan ini update status, eh update bab, mampir yuk ke karya salah satu teman authorku. Saranghaeyo 😘😘