
"Jika masih mau di sini, aku yang akan pergi!" Ye Joon beranjak dari kursi, kemudian menarik lengan Eun Mi secara kasar.
Eun Mi mengangguk sopan kepada Yesung, kemudian mengikuti langkah Ye Joon. Sesampainya di depan mobil, Ye Joon membukakan pintu untuk Eun Mi. Perempuan itu masuk, kemudian memasang sabuk pengamannya. Diikuti Ye Joon yang masuk dan duduk di belakang roda kemudi. Lelaki itu membanting kasar pintu mobil.
"Omo!" seru Eun Mi.
Ye Joon mulai menyalakan mesin mobil kemudian mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Jemari Eun Mi meremas sabuk pengaman yang menyilang pada tubuhnya. Sesekali ia memejamkan mata karena Ye Joon mengendarai mobil seperti orang kesetanan. Puncaknya, Ye Joon mengerem mobil itu secara mendadak.
"Ya! Ada apa denganmu? Apa kamu ingin membunuhku?" teriak Eun Mi.
"Keluarlah." Nada bicara Ye Joon terdengar dingin dan menusuk.
"Ya?"
"Aku bilang keluar!" teriak Ye Joon.
Melihat sikap kasar Ye Joon membuat hati Eun Mi seakan dihujam sembilu berulang kali. Air mata perempuan itu mulai berdesakan ingin keluar. Namun, Eun Mi berusaha menahannya. Dia mengumpulkan kekuatan yang tersisa agar suaranya tidak bergetar saat berbicara.
"Baiklah, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba kamu seperti ini. Hubungi aku jika masih ingin melanjutkan semuanya." Eun Mi keluar dari mobil dan membanting pintu mobil kasar.
Di dalam mobil, Ye Joon memukul roda kemudi. Dia mengacak rambutnya frustrasi. Dada pria itu naik turun menahan amarah dan rasa cemburu tingkat tinggi. Setelah merasa sedikit tenang, Ye Joon mulai melajukan mobilnya.
"Dasar! Ketahuan sifat aslimu! Sialan kau Ye Joon!" teriak Eun Mi sambil menunjuk-nunjuk mobil Ye Joon yang sudah pergi.
Setelah puas memaki calon suaminya itu, Eun Mi berjongkok, dan menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangan. Air mata perempuan itu keluar dan membanjiri wajah cantiknya. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Eun Mi mulai mengangkat wajahnya. Seseorang dengan sepatu pantofel hitam sedang menatapnya. Eun Mi menyipitkan mata berusaha menajamkan penglihatan. Tubuh lelaki itu membelakangi cahaya matahari, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.
"Ayo, pulang!" Lelaki itu mengulurkan tangannya. Dia adalah Seung Min.
Tangis Eun Mi seketika berhenti. Dia menyambut tangan Seung Min, kemudian berdiri. Mereka masuk ke mobil untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Eun Mi hanya terdiam. Seung Min pun tetap membisu, dia tidak mau mencecar Eun Mi sampai perempuan itu menceritakan sendiri apa yang sedang mengganggu hatinya. Tak lama kemudian, Eun Mi menghela napas kasar.
"Kenapa?"
"Rasanya aku ingin mundur saja dari pernikahan ini." Bahu Eun Mi merosot dengan kepala menunduk, sampai dia bisa melihat ujung sepatunya sendiri.
"Ada masalah apa?" Seung Min tetap fokus dengan jalanan sambil terus berusaha mendengarkan keluhan adik ipar sekaligus mantan kekasihnya itu.
"Ye Joon menunjukkan sifat aslinya hari ini." Mata Eun Mi mulai berkaca-kaca mengingat perlakuan kasar Ye Joon beberapa waktu lalu.
"Sifat asli yang seperti apa?"
"Dia menyuruhku turun dari mobil sambil membentakku." Akhirnya air mata Eun Mi kembali bercucuran, suara isak tangis lolos dari bibirnya.
"Pasti ada alasan kenapa dia berbuat seperti itu. Apa sebelumnya kalian bertengkar?" tanya Seung Min.
"Kenapa terkejut? Bukannya senang bisa bertemu teman lama?" Seung Min tersenyum tipis.
"Masalahnya dia adalah cinta pertamaku, dan orang pertama yang membuatku sangat terluka!" seru Eun Mi.
Mendengar ucapan Eun Mi, Seung Min menghentikan mobilnya secara mendadak. Tubuh Eun Mi sampai terbanting dari depan ke belakang lagi.
"Ya! Ada apa dengan kalian para lelaki hari ini? Menyebalkan sekali!" gerutu Eun Mi.
"A-aku rasa ... aku tahu kenapa Ye Joon bersikap seperti itu!"
"Kenapa?" Eun Mi mengerutkan dahi sambil mengusap sisa tangisnya.
"Dia cemburu." Seung Min tersenyum miring.
"Bagaimana bisa cemburu? Yang dia tahu, aku dan Yesung hanya sekedar kakak dan adik kelas."
"Kamu tidak akan mengerti meski pun aku menjelaskannya." Seung Min kembali melajukan mobil.
"Aku tahu ... jelaskan saja!"
"Dasar keras kepala! Baiklah akan aku jelaskan, kami para lelaki akan mengetahui jika seseorang tertarik dengan pasangan kami. Jadi, tidak heran jika Ye Joon bersikap seperti itu. Tapi aku tidak membenarkan sikap bodohnya yang telah menurunkanmu begitu saja di jalanan." Seung Min tersenyum datar sambil memiringkan sedikit kepalanya.
"Jadi, layaknya insting seorang perempuan ketika pasangannya menyembunyikan wanita lain, atau tabungan dan uang rahasia? Begitu?"
"Ahahaha ... iya! Wanita memang sehebat itu! Masalah uang tidak bisa dikelabui!" Seung Min terkekeh mendengar penuturan Eun Mi.
Tak terasa, sekarang mereka sudah sampai di depan rumah. Ketika memasuki pekarangan, mobil milik Ye Joon sudah terparkir rapi di depan rumah. Eun Mi mempercepat langkah karena ingin segera menemui kekasihnya. Dia membanting pintu rumah secara kasar.
Ye Joon menoleh ke arah Eun Mi. Lelaki itu berdiri dan menghampiri Eun Mi. Dia merentangkan tangan karena ingin membawa Eun Mi ke dalam pelukannya. Namun, sang kekasih justru mendaratkan tamparan di atas pipinya. Ye Joon tersenyum miring.
Seung Min yang mengekor di belakang Eun Mi hanya bisa terdiam. Lelaki itu melebarkan mata karena terkejut dengan sikap Eun Mi. Dia berusaha memberikan ruang untuk mereka agar menyelesaikan masalah. Seung Min berjalan menaiki anak tangga, dan masuk ke ruang kerjanya.
"Maaf." Ye Joon terus berusaha memeluk sang kekasih. Berulang kali Eun Mi menghujani Ye Joon dengan pukulan. Akan tetapi, dia tak menyerah. Sampai akhirnya tangis Eun Mi pecah. Perempuan itu menyusupkan kepalanya ke dalam pelukan Ye Joon.
"Maafkan aku. Sebenarnya, aku cemburu. Aku merasa kalian memiliki hubungan spesial di masa lalu." Ye Joon mencium puncak kepala Eun Mi berulang kali.
"Itu hanya masa lalu. Tolong, jangan seperti itu lagi. Aku tidak suka. Kita bisa membicarakan setiap hal yang terasa mengganjal secara baik-baik," ucap Eun Mi lirih sambil terus menangis sesenggukan.
Bersambung ...