
Cuitan burung pagi itu menyapa pendengaran Eun Mi. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya matahari yang menembus sela-sela tirai jendela kamar. Dia menguap untuk melepaskan sisa kantuk. Ibu satu anak itu duduk dan mulai meregangkan otot yang terasa kaku.
Setelah merasa nyaman, Eun Mi turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Dia menanggalkan pakaian, kemudian mengguyur tubuh rampingnya dengan air hangat. Mata perempuan itu terpejam menikmati setiap tetesan air yang membasahi tubuh. Eun Mi menyelesaikan ritual mandinya setelah tiga puluh menit.
Begitu selesai, Eun Mi keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias. Dia menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambut. Setelah kering, perempuan itu memulaskan riasan natural pada wajah cantiknya. Terakhir, Eun Mi mengganti kimono handuk yang ia pakai dengan pakaian kasual.
"Ma, sudah selesai?" Min Ah melongok dari balik pintu.
"Sudah. Apa Bibi Jang sudah menyiapkan Yohan?" Eun Mi bangkit dari kursi kemudian menyambar tas kecil yang ada di atas nakas.
"Sudah! Cepat, Ma! Aku sampai ditumbuhi lumut karena terlalu lama menunggu!" gerutu Min Ah.
"Aigoo ... galak sekali putriku ini!" Eun Mi tersenyum miring dan berjalan menghampiri Min Ah. Keduanya berjalan beriringan menuruni anak tangga.
Di ruang tengah, Seung Min dan Tuan Lee sedang mengobrol. Bibi Jang sedang menggendong Yohan sambil mengayunkan bayi mungil itu. Eun Mi langsung bergabung dengan Tuan Lee dan Seung Min, sedangkan Min Ah menghampiri Bibi Jang dan Yohan.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Eun Mi.
"Iya. Bibi Jang sudah menyiapkan keperluan Yohan dan beberapa camilan untuk Min Ah." Seung Min tersenyum tipis, kemudian beranjak dari kursi.
"Hati-hati di jalan." Tuan Lee memeluk Min Ah dan mengecup puncak kepalanya.
"Ya, Ayah."
"Da-da, Kakek. Aku menyayangimu." Min Ah melambaikan tangan, kemudian mengekor di belakang Seung Min.
"Kami berangkat dulu, Yah." Eun Mi mengambil alih tubuh mungil Yohan, menggendongnya, kemudian berjalan keluar rumah.
Seung Min membuka pintu untuk Eun Mi dan Min Ah. Setelah mereka masuk, Seung Min kembali menutup pintu dan mulai melajukan mobil. Sepanjang perjalanan, Min Ah bersenandung riang. Eun Mi duduk di kursi belakang sambil menimang Yohan.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di Everland. Saat melangkah masuk, mereka disambut oleh bangunan indah bergaya Victoria, Oriental, dan India. Min Ah menarik lengan Seung Min, dan meminta sang ayah untuk memotretnya di depan sebuah pohon buatan berukuran besar. Akar-akar pohon itu menjuntai ke bawah. Dedaunannya dihiasi oleh beberapa ornamen bola, bintang, dan daun pinus.
Sambil menunggu Seung Min dan Min Ah selesai mengambil gambar, Eun Mi kembali lagi ke Konter Pelayanan Pengunjung untuk mengambil stroller. Setelah mendapatkan benda beroda itu, Eun Mi merebahkan tubuh mungil Yohan ke dalamnya. Perempuan itu kembali masuk dan menghampiri Seung Min dan putrinya.
"Sudah?" tanya Eun Mi.
"O ... Mama, kemarilah! Ayo kita berfoto bersama!" Min Ah melambaikan tangan ke arah sang ibu.
"Ayo, aku yang ambil foto!" Seung Min mengarahkan kamera ke arah Eun Mi, Min Ah, dan Yohan.
Saat Seung Min sibuk mengambil gambar, tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri mereka. "Permisi," kata pemuda itu.
Seung Min menoleh kemudian tersenyum. "Ya? Ada apa?"
"Mau saya bantu untuk mengambil gambar?" tawar sang pemuda.
Usai puas berfoto di area itu, mereka melangkah masuk lebih dalam. Aneka wahana ada di area itu. Seperti kapal viking kuno, tornado, dan Double Rack Spin. min Ah merengek agar diperbolehkan naik, tapi Eun Mi melarangnya keras.
"Ayolah Ma, kapal viking saja!" rengek Min Ah.
"Tidak! tinggimu belum cukup untuk bisa menaiki wahana itu!" Eun Mi menatap tajam ke arah Min Ah sambil melipat tangan di dada.
"Ah, benar apa yang Mama katakan. Kita masuk saja ke area itu. Sepertinya lebih menyenangkan!" Seung Min menunjuk sebuah area yang disebut Magic Land.
"Ck! Aku tidak suka! Roller coaster di sana berjalan seperti kura-kura!" Min Ah menghentakkan kaki kemudian melenggang begitu saja.
Eun Mi memutar bola matanya melihat Min Ah yang kembali berulah. Akhirnya mereka kembali berjalan dan berhenti di area yang dipenuhi bunga. Di tempat itu juga terdapat bangunan ala istana Benua Eropa. Mood Min Ah kembali membaik. Dia meminta Seung Min untuk kembali memotretnya. Setelah puas, hari itu mereka akhiri dengan masuk ke kawasan Zootopia.
Mereka berkeliling area itu menggunakan sebuah mini bus dengan motif seperti harimau. Bus itu berhenti ketika melintasi sekumpulan jerapah. Min Ah memberi makan jerapah itu dedaunan yang sudah disiapkan sebelum naik bus. Gadis kecil itu berteriak dan melambaikan tangan saat dua ekor beruang coklat berdiri seakan menyapa pengunjung.
Setelah sampai di sebuah tempat mereka turun. Tempat itu dipenuhi oleh panda lucu dan gembul. Hewan asal Negeri Bambu itu terlihat menggemaskan. Mereka ada yang sedang asyik berguling di atas rumput, dan ada yang sedang asyik mengunyah batang bambu.
Tatapan Min Ah tertuju pada seekor kecil yang sedang melamun sendirian di bawah pohon. Melihat binatang itu, membuat hati Min Ah menjadi sedih.
"Kenapa dia sendirian?" lirih Min Ah.
"Ah, induknya baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu." Seorang pemandu menjelaskan mengenai penyebab panda itu sendirian.
"Sama seperti Yohan. Dia juga ditinggal oleh ibunya," ucap Min Ah.
Hati Min Ah terasa nyeri karena teringat Yohan yang juga baru saja kehilangan sang ibu. Setitik air mata meluncur ke pipi gadis kecil itu. Eun Mi yang melihat kesedihan Min Ah berjalan mendekatinya.
"Yohan tidak akan merasa kesepian!" Eun Mi memeluk putrinya, sambil mengusap lembut punggung Min Ah.
"Dia memiliki kakak sang baik dan cantik! Mama yakin bahwa kelak YOhan akan hidup dengan baik dan ceria!"
Min Ah melonggarkan pelukan, kemudian menatap sendu sang ibu. Ia tersenyum simpul, kemudian berkata, "Aku berjanji untuk selalu menjaga Yohan dan membuatnya terus tersenyum!"
.
.
.
Pagii ... mampir yuk maaakkk ke karya salah satu teman author...
Janhan lupa tinggalkan jejak yaa, supaya author semakin semangat dalam berkarya...