My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Pernikahan Besar



Seluruh media berita Korea meliput persiapan pernikahan termewah tahun ini. Seung Min akhirnya menyanggupi keinginan terakhir ibunya. Rasa nyeri menghujam jantung lelaki itu karena tidak bisa memperjuangkan cintanya. Mungkin Tuhan memiliki rencana yang lebih indah untuk Seung Min.


Ketika Seung Min sedang sibuk dengan pikirannya, Young Tae masuk ke dalam ruangan, dan menyodorkan sebuah amplop coklat.


"Presdir, informan mengirimkan sebuah foto penting," ucap Young Tae.


Seung Min membuka amplop coklat itu dengan jantung yang berdetak tak beraturan. Seketika matanya terbelalak mengetahui isi amplop tersebut. Terdapat dua lembar foto yang memperlihatkan Eun Mi dan putri kecilnya sedang bersama dengan seorang pria.


"Siapa dia?" tanya Seung Min kepada Young Tae.


"Lelaki itu adalah Kim Ye Joon. Dia seorang guru di salah satu sekolah musik terkenal di sana." Young Tae sedikit menundukkan kepalanya ketika berbicara dengan Seung Min.


"Apa hubungannya dengan Eun Mi?"


"Lelaki itu adalah ...." Lee Young Tae tampak ragu-ragu, saat mengungkapkan informasi yang telah dia terima.


"Siapa lelaki itu!" Seung Min melempar kasar amplop coklat itu ke atas meja.


"Dia salah satu orang terdekat Nona Eun Mi saat ini. Pria itu orang yang banyak membantunya melewati hari-hari terburuknya." Kini kepala Young Tae tertunduk dalam.


Gigi-gigi Seung Min mengerat, tangannya mengepal di dalam saku celana. Sebisa mungkin dia menahan emosi, karena perasaan menyesal tidak bisa memperjuangkan cintanya untuk Eun Mi.


"Apa informanmu bisa dipercaya?" tanya Seung Min.


"I-iya, Tuan." Young Tae tampak ragu, karena sebenarnya dia sendiri tidak mengetahui secara pasti, siapa orang yang selalu mengirimkan informasi mengenai Eun Mi. Pikiran Young Tae kembali terlempar ke masa lalu, satu bulan setelah Eun Mi menghilang.


***


Raut muka Seung Min terlihat begitu putus asa. Dia mencoba berbagai cara untuk segera menemukan Eun Mi, tapi hasilnya nihil. Di sisi lain sebuah telepon rahasia menghubungi Young Tae.


"Apa benar, Anda Lee Young Tae, sekretaris Tuan Park Seung Min?" tanya lelaki di ujung telepon.


"Iya, benar. Anda siapa?" Young Tae mulai mendengarkan baik-baik setiap kata yang terucap oleh lelaki di ujung teleponnya.


"Tolong menjauh dari siapa pun. Saya ingin memberikan informasi penting mengenai Lee Eun Mi." Seketika bola mata Young Tae membulat.


Setelah menjauh dari keramaian, Young Tae kembali memulai percakapan. "Silahkan, bicara!"


"Lee Eun Mi, sekarang berada di Indonesia. Aku akan memberikan setiap detail informasi kepada Anda, setiap ada kejadian penting yang menyangkut Eun Mi."


"Baik. Tapi, siapa Anda?" tanya Young Tae penasaran.


"Bukan hal penting siapa Saya. Untuk imbalannya bagaimana?"


"Berapa yang Kamu minta?" tanya young Tae.


"Satu juta won untuk setiap informasi yang Saya berikan. Tenang saja, Saya akan memberikan informasi akurat disertai foto Eun Mi. Akan tetapi, jangan pernah memberikan informasi ini kepada siapa pun sampai Aku menyetujuinya."


"Baiklah. Saya setuju." Young Tae menutup sambungan teleponnya.


***


"Young Tae!" bentak Seung Min.


"Saya yakin dia bisa dipercaya, Presdir." Young Tae mengangguk mantap.


"Baiklah. Kau bisa pergi," ucap Seung Min.


Setelah Young Tae keluar ruangan, Seung Min meninju keras tembok di sampingnya. Hal itu menimbulkan luka di buku-buku jemarinya. Tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka. Eun Bi yang melihat suasana hati calon suaminya begitu kacau, perlahan mendekat.


"Seung Min, apa yang terjadi?" Mata Eun Bi tertuju pada tangan Seung Min yang mengeluarkan darah segar, kemudian berteriak, "Astaga! Tanganmu terluka!"


Seung Min masih tidak bergeming. Eun Bi meraih kotak P3K dan menuntun Seung Min untuk duduk di sofa. Perempuan itu membersihkan darah dan luka di tangan Seung Min dengan tisu antiseptik, kemudian mengoleskan obat.


"Seung Min, Kau kenapa?" Eun Bi terus mengajak calon suaminya berbicara, sembari membalutkan perban ke tangan Seung Min.


"Diam!" bentak Seung Min.


"Seung Min?" Mata Eun Bi mulai berkaca-kaca.


"Aku bilang diam!" Seung Min kembali membentak Eun Bi dan menarik lengannya menjauh.


Mencintai sepihak memang begitu menyakitkan, tetapi paling tidak Eun Bi akan terus berusaha meluluhkan hati Seung Min.


"Baiklah, Aku hanya ingin memberitahukan nanti sore, Kita harus bertemu di tempat fiting pakaian. Aku akan mengirimkan alamatnya." Eun Bi mulai beranjak dari sofa, dan meraih tas mahalnya.


"Aku tidak peduli! Urus saja semuanya sesuai keinginanmu!" Seung Min meninggalkan Eun Bi yang masih mematung.


Melihat sikap keras Seung Min membuat hati Eun Bi serasa ditusuk ribuan jarum. Diakembali terduduk di atas sofa. Akhirnya, bulir air mata yang di tahan Eun Bi mengalir deras.


.


.


.


Hari besar itu pun tiba. Para pemburu berita menghadiri acara pernikahan termewah tahun ini. Flash kamera berkelap-kelip rakus memotret setiap sudut aula. Ruangan besar di sebuah hotel berbintang itu, disulap layaknya negeri dongeng. Dekorasinya didominasi dengan perpaduan warna putih dan emas. Warna emas sangat identik dengan kemewahan, sedangkan warna putih adalah lambang kesucian dan sakral.


Di setiap sudut ruangan tertata dengan indah berbagai macam bunga berwarna putih. Ada dahlia, mawar putih dan juga baby breath flower. Seung Min sudah berdiri di altar dengan tatapan hampa. Mempelai wanita mulai memasuki ruangan. Semua mata terpukau melihat Eun Bi dengan gaun mewahnya.


Gaun itu dihiasi dengan taburan kristal Swarovski yang diimpor khusus dari Milan, Italia. Total kristal yang dipakai mencapai dua ribu butir, sehingga membuat gaun tersebut terlihat begitu gemerlap.


Gaun yang dikenakan Eun Bi makin terlihat elegan dengan long wedding veil yang menjuntai dari puncak kepalanya hingga ke lantai. Pulasan mekap natural menghiasi wajah cantik Eun Bi. Senyum tipisnya mampu memikat siapa pun yang melihat, tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Seung Min.


Setelah sampai di altar, pendeta mulai menuntun mereka untuk mengucapkan janji suci. Tepuk tangan meriah menggema memenuhi ruangan setelah prosesi janji suci selesai.


"Cium ... cium ... cium ...."


Seluruh hadirin serentak mengucapkan kata itu. Rona merah menghiasi pipi Eun Bi. Semua berjalan sesuai yang ia harapkan. Eun Bi memandang Seung Min malu-malu.


"Seung Min ...." Eun Bi melirik Seung Min yang masih mematung, dan menatapnya dingin.


Akhirnya Seung Min meraih pinggang ramping Eun Bi. Dia membalikkan badan, memunggungi para hadirin. Mata Eun Bi melotot sebentar lalu terpejam. Dari balik bulu mata lentiknya setetes air mata turun. Rangkaian buket mawar yang dia pegang jatuh ke lantai. Pesta hari itu benar-benar meriah, dan dihadiri artis serta orang penting Korea.


Setelah pesta usai, Eun Bi bergegas pulang ke rumah bersama Seung Min diantar oleh Young Tae. Di dalam mobil, mereka hanya diam menikmati keheningan yang menyelusup hati. Eun Bi melirik ke arah Seung Min. Pria itu masih terlihat tampan, tapi ucapannya beberapa jam yang lalu membuat hati Eun Bi tersayat.


Saat orang lain melihat mereka berciuman, sebenarnya Eun Bi sedang memulai sebuah karma buruk. Ternyata Seung Min terdidik dengan baik untuk menyembunyikan perasaannya di depan umum.


Saat itu jantung Eun Bi berdegup kencang. Dia berharap mendapatkan ciuman romantis dari Seung Min. Namun, yang didapatkan adalah sebuah kutukan. Seung Min mengucapkan sumpah dengan wajahnya yang dingin, di hadapan Eun Bi.


"Selamat, Kamu mungkin telah memiliki tubuhku. Akan tetapi, jangan pernah berharap lebih untuk memiliki hatiku. Aku akan menjadikan hari-harimu seindah di neraka!" bisik Seung Min.


Mengingat kejadian itu membuat air mata Eun Bi kembali menetes. Dia tak menyangka orang yang menjadi cinta pertamanya itu benar-benar pribadi yang begitu kejam.


"Young Tae, turunkan Aku disini!" Seung Min menatap dingin ke arah Young Tae.


"Tapi, Presdir ...." Young Tae bergidik ngeri, ketika melihat tatapan dingin sang Presdir dari kaca spion. Seketika ia menghentikan mobil.


"Aku malam ini tidak pulang, jangan menungguku," ucap Seung Min kepada Eun Bi sebelum keluar dari mobil.


.


.


.


Bersambung...