
Sejak hari itu, raut wajah ceria Min Ah menghilang. Dia kehilangan semangatnya untuk berlatih orkestra. Gadis kecil itu lebih sering menyendiri di kamar.
Eun Mi yang mulai khawatir dengan kondisi mental putrinya, mencoba berdiskusi dengan Ye Joon dan Eun Bi. Ketiganya kini sedang berkumpul di kediaman Eun Mi.
"Apa Perlu membawa Min Ah ke psikiater?" ucap Eun Bi.
"Putriku bukan orang gila!" seru Eun Mi sambil menatap datar perempuan di hadapannya.
"Eun Mi, bukan berarti yang datang ke psikiater itu orang gila. Kita memang harus ke sana untuk mencari solusi, demi Min Ah," jelas Ye Joon.
"Aku memiliki kenalan, Kita bisa memanggilnya ke sini jika Kamu mau," ucap Eun Bi.
"Baiklah, Kita coba cara ini. Tapi, apa nanti Min Ah tidak menolak? Dia saja enggan bicara dengan Kita, apa lagi orang lain?" Bahu Eun Mi merosot karena putus asa.
Setelah kenalan Eun Bi datang, mereka bertiga naik ke kamar Min Ah. Seorang perempuan cantik dengan setelan blazer biru tua mengekor di belakang Eun Mi. Pintu kamar berderit, menampilkan sosok Min Ah dengan mata sembab.
"Aku tidak mau makan. Berhentilah membujukku, Ma," ucap Min Ah lemah.
Dokter Han Ji Sun menyentuh lengan atas Eun Mi kemudian mengangguk pelan memberi kode. Eun Mi mundur dan kini Dokter Han berada di depan pintu sambil tersenyum ke arah Min Ah. Mata gadis kecil itu melebar ketika melihat boneka larva berwarna pink ada dalam dekapan Dokter Han.
"Mau?" Dokter Han menggoyangkan boneka dalam tangannya, diikuti anggukan kepala Min Ah.
"Bibi ingin bicara sebentar, boleh?"
"Boleh."
Dokter Han memberikan boneka larva itu kepada Min Ah, kemudian mengikutinya masuk ke kamar. Mata Dokter Han tertuju pada sebuah piano di sudut ruangan. Muncul sebuah ide di kepala perempuan itu, untuk memulai percakapan.
"Min Ah, bolehkah Bibi menyentuh piano itu?" Telunjuk Ji Sun mengarah ke piano di pojok kamar.
"Apa Bibi bisa memainkannya?"
"Ehm, tidak." Ji Sun tersenyum tipis kemudian melangkah ke piano itu.
Ji Sun duduk di depan piano, kemudian menekan tuts berwarna hitam, sambil berkata, "Kau tahu? Setiap deretan tuts dalam piano itu melambangkan kehidupan?"
Min Ah mengernyitkan dahi. Kaki kecilnya mulai melangkah mendekati Dokter Ji Sun. Gadis kecil itu mulai duduk di bangku yang sama dengan Dokter Ji Sun.
"Tuts hitam melambangkan kesedihan dalam hidup, sedangkan tuts putih adalah simbol kebahagiaan." Jemari lentik Dokter Ju Sun bergantian menekan tuts piano.
"Benarkah?" Min Ah kini memiringkan kepala diikuti oleh senyum lembut Dokter Ji Sun.
"Bagaimana jika Kamu hanya memainkan tuts berwarna hitam saja, atau tuts hanya berwarna putih?" tanya Dokter Ji Sun.
"Suaranya akan terasa monoton dan membosankan!" seru Min Ah.
"Kehidupan juga begitu. Itu sebabnya terkadang manusia itu menemui kesedihan dan kebahagiaan dalam hidup. Jadi, kehidupan Kita akan lebih indah."
Sebuah senyum indah terukir di bibir Min Ah. Rambut panjangnya mulai mendapat belaian dari Dokter Ji Sun.
"Apa yang Kita lihat baik, belum tentu baik untuk Kita. Begitu juga sebaliknya. Bersedih boleh, tapi Min Ah jangan lupa. Ada orang lain yang sangat merindukan senyumanmu."
"Bibi, benar. Aku jadi merasa bersalah terhadap Mama dan yang lain," ucap Min Ah sembari menunduk dan memilin permukaan boneka yang didekapnya.
"Apa yang membuatmu bersedih?" tanya Dokter Ji Sun.
"Karena Oppa tidak membela diri. Padahal, dia tidak tahu apa-apa."
"Oppa?" Dokter Ji Sun menautkan alisnya mencoba mengorek informasi lebih dalam.
"Iya. Aku kecewa dengan sikap Kak Wo Joon yang tidak mau membela diri. Padahal dia tidak terlibat dengan insiden di Miami."
Min Ah menghela napas kasar, kemudian berkata, "Aku ini bisa menebak perasaan seseorang hanya dengan menatap wajahnya!"
"Benarkah? Tapi, kenapa Kamu tidak tahu bagaimana perasaan ibumu?"
"I-itu ... karena." Min Ah tertunduk, dia kalah telak.
Sebenarnya Min Ah sangat mengetahui bagaimana perasaan Eun Mi saat ini. Namun, egonya terlalu besar untuk mengabaikan rasa kecewa yang bergelayut dalam hati. Ditambah lagi, sejak Wo Joon keluar dari grup, gadis kecil itu seakan kehilangan sosok seorang kakak.
"Jadi, masih mau mengurung diri di kamar?"
Min Ah menggeleng, kemudian turun dari kursi. Gadis kecil itu mengulurkan tangan di hadapan Dokter Ji Sun.
"Terima kasih, Bibi. Aku ingin menemui Kak Wo Joon. Apa Bibi bisa membantuku?"
Dokter Ji Sun mengangguk kemudian menyambut uluran tangan Min Ah. Setelahnya mereka berdua melangkah keluar, dan turun menuju ruang tamu.
Di ruangan itu, Eun Bi, Eun Mi, dan Ye Joo. sudah menunggu dengan perasaan was-was. Ketiganya langsung menoleh ke arah Dokter Ji Sun dan Min Ah, ketika mereka ikut bergabung.
"Mama, Bibi, Paman, aku minta maaf, karena sudah membuat kalian khawatir dan kesulitan akhir-akhir ini." Min Ah menundukkan badan sebagai tanda permintaan maaf.
Eun Mi mulai melangkah mendekati putrinya, kemudian memeluk tubuh Min Ah. Dia mengecup puncak kepala gadis itu penuh cinta. Setelah puas, Eun Mi melepaskan pelukannya.
"Mama juga minta maaf, karena tidak bisa memahami perasaanmu," ucap Eun Mi sambil merangkum wajah Min Ah dan menatapnya lembut.
"Mama tidak salah, kepalaku saja yang sekeras batu. Tapi ... bolehkah aku menemui Oppa untuk memastikan sesuatu?" tanya Min Ah.
"Kalau hal itu membuatmu lega, Mama akan mengijinkannya." Eun Mi tersenyum dan mengusap lembut pipi putrinya.
.
.
.
Jantung Min Ah berdegup kencang selama perjalanan menuju kafe. Dia ditemani Eun Mi dan Ye Joon untuk bertemu Wo Joon. Gadis kecil itu bersikeras untuk mendengar alasan Wo Joon tidak membela diri.
Sesampainya di kafe, Min Ah menggandeng jemari sang ibu ketika memasuki bangunan bernuansa ceria itu. Dindingnya dicat dengan warna merah muda, dan di beberapa sisi ada mural karakter Hello Kitty.
Langkah keduanya berhenti, ketika melihat sosok seorang remaja laki-laki. Wo Joon terlihat tampan dalam balutan kaos putih dan celana jeans hitam. Dia sedang bermain bersama seekor kucing berwarna putih. Gumpalan bulu itu sedang asyik mencengkeram bola dari benang wol.
Senyum Min Ah mengembang. Hatinya terasa lega melihat sosok Wo Joon yang sangat dia rindukan. Perlahan dia melepaskan tautan jemarinya dari Eun Mi, dan mulai mendekati Wo Joon.
Eun Mi memutuskan untuk mengawasi keduanya dari kejauhan ditemani oleh Ye Joon. Dia ikut tersenyum ketika Min Ah tertawa lepas bersama Wo Joon.
"Lihatlah kepolosan putrimu! Sudah disakiti masih tetap mengejar laki-laki brengsek itu!" gerutu Ye Joon.
Mendengar ucapan Ye Joon, Eun Mi memukul kepala lelaki itu dengan tas yang dijinjingnya. Ye Joon mengaduh sambil mengusap kepala bagian belakang, sedangkan Eun Mi memicingkan mata.
"Putriku pasti memiliki alasan tersendiri kenapa bersikap seperti itu!"
.
.
.
Bersambung ...