
Deringan ponsel membangunkan Eun Mi pagi itu. Dia perlahan membuka mata. Tangannya meraba nakas untuk mencari keberadaan benda pipih itu. Mata Eun Mi mengerjap, berusaha melihat nama yang tertera pada layar ponsel.
"Ye Jin?" gumam Eun Mi.
Eun Mi menggeser layar ponsel ke atas untuk menjawab panggilan Ye Jin, kemudian menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
"Halo."
" .... "
"Sekarang?" Mata Eun Mi melebar karena mendengar ucapan Ye jin.
" ...."
"Ba-baik. Aku akan segera kesana!" Eun Mi menutup panggilan, kemudian turun dari ranjang, dan masuk ke kamar mandi.
Usai menyelesaikan ritual mandi, Eun Mi duduk di depan meja rias. Dia memakai mekap tipis agar terlihat lebih segar. Setelahnya, perempuan itu mengganti bathrobe yang membalut tubuh rampingnya dengan setelan blazer berwarna merah muda.
Tak lama kemudian, Min Ah mengetuk pintu. Mengetahui pintu tidak terkunci, gadis kecil itu masuk ke kamar sang ibu.
"Mama rapi sekali. Mau ke mana?" Min Ah mendekati Eun Mi kemudian duduk di atas ranjang.
"Menemui Bibi Ye Jin. Mau ikut?" Eun Mi mencoba untuk berbasa-basi.
"Tidak. Aku mau istirahat dan menikmati masa menjadi pengangguran." Min Ah terkekeh.
"Dasar! Oya, nanti jam sembilan, Miss Luna akan datang. Kamu harus mengejar ketertinggalan dan masuk ke sekolah favorit. Bagaimanapun juga, pendidikan harus tetap nomor satu!" Eun Mi mengusap lembut pipi Min Ah.
"Yes, Mom!" seru Min Ah.
"Baiklah, Mama berangkat dulu." Eun Mi membingkai wajah Min Ah kemudian mengecup puncak kepalanya.
Eun Mi melangkah keluar rumah dengan hati ringan. Bibirnya bersenandung bahagia. Dia sangat senang karena bisa kembali bekerja dengan Ye Jin. Perempuan itu melajuan mobil menuju butik Ye Jin.
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di butik Ye Jin. Beberapa karyawan menunduk umtuk menyapa Eun Mi. Dia membalas dengan sebuah senyum tipis.
Langkah kaki Eun Mi berhenti ketika sampai di depan ruangan Ye Jin. Namun, senyum perempuan itu sirna karena tak sengaja mendengar percakapan Ye Jin dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Aku sebenarnya malas sekali meminta Eun Mi kembali ke sini. Tapi, Oppa mengancam untuk menghentikan bantuan materi untuk butik ini! Bisa habis aku jika hal itu benar-benar terjadi!"
Eun Mi membatu di depan pintu. Kakinya seakan terpatri di atas lantai. Dadanya bergemuruh menahan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya, Eun Mi menguatkan hatinya. Dia memutar gagang pintu dan masuk ke ruangan Ye Jin.
"E-Eun Mi?" gagap Ye Jin.
Perlahan Eun Mi berjalan mendekati Ye Jin. Matanya mulai berkaca-kaca dan terasa berat karena menahan tangis. Dia tersenyum miring kemudian mengambil napas dan membuangnya kasar.
"Apa kabar, Ye Jin?"
"Ba-baik. Se-sejak kapan kamu datang? A-ayo duduk!" Ye Jin menunjuk sofa.
"Tidak perlu. Aku tiidak mau bekerja dengan orang yang tidak nyaman terhadapku. Sebaiknya kita hentikan saja kerja sama ini. Terima kasih sudah bersedia menerimaku." Eun Mi menunduk kemudian keluar dari ruangan Ye Jin.
"Eun Mi, tunggu! Mari kita bicarakan baik-baik!" Ye Jin berlari kecil mengejar langkah Eun Mi.
Saat jarak Ye Jin dan Eun Mi sudah dekat, dia menarik lengannya. Eun Mi otomatis menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan badan hingga tatapan mereka beradu.
"Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Eun Mi menatap tajam ke arah Ye Jin.
"Aku mohon. Aku menyesal telah berbicara seperti tadi." Ye Jin menggenggam jemari Eun Mi.
Eun Mi memalingkan mukanya sesaat, kemudian kembali menatap Ye Jin. Dia tersenyum miring dan mengibaskan lengan.
"Maaf, aku tidak suka bekerja sama dengan orang yang suka menjilat ludahnya sendiri." Eun Mi kembali melangkah dan keluar dari butik.
Langit tiba-tiba mendung, seakan mengetahui isi hati Eun Mi saat ini. Perempuan itu membuka pintu mobil kemudian masuk. Air matanya seketika lolos. Dia tak menyangka kemudahannya bergabung dengan butik Ye Jin, karena campur tangan seseorang. Akhirnya Eun Mi menghapus air matanya dan melajukan mobil.
.
.
.
"Wah! Kamu benar-benar hebat, Min Ah!" seru Miss Luna.
"Terima kasih Miss!" Min Ah tersenyum bangga.
"Hanya saja, di bagian ini seharusnya begini ...." Miss Luna mencoret kertas latihan Min Ah, untuk mengoreksi beberapa bagian yang kurang tepat.
"Ah, aku mengerti!"
"Baiklah, untuk hari ini cukup sekian. Sampai jumpa besok." Miss Luna mulai memasukkan buku dan memasukkan ke dalam tasnya.
Min Ah juga membereskan buku-buku dan alat tulisnya. Setelah semua rapi, Min Ah mengantar Miss Luna sampai ke depan rumah. Begtu guru privatnya itu pergi, Min Ah kembali masuk.
Suara perut Min Ah mengingatkan bahwa ia belum makan sama sekali. Dia melangkkah menuju dapur untuk melihat isi kulkas. Min Ah mendenngus kesal karena tidak ada makanan di dalam lemari pendingin. Hanya ada beberapa botol air mineral dan juga sekotak kimchi.
"Aduh, Mama sepertiinya belum belanja mingguan!" Min Ah menutup kembali lemari pendingin di hadapannya dan naik menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Min Ah langsung meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Dia mengetik pesan kepada Ye Joon untuk datang dan membawa makanan. Lima menit setelah terkirim, sebuah panggilan masuk ke ponsel Min Ah.
"Halo, Paman."
"Mau makan apa?" tanya Ye Joon.
"Jjangmyeon, boleh?"
"Baiklah. Paman akan segera datang ke sana."
"Yeay! Terima kasih, Paman!"
"Ya, sama-sama."
Min Ah mematikan sambungan telepon lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Dua puluh menit kemudian, suara bel membuatnya beranjak dari kamar. Dia menuruni anak tangga perlahan, kemudian menuju pintu dan membuka benda itu.
"Cepat sekali ... Pa-man!" Mata Min Ah terbelalak melihat ibunya datang dengan mata basah.
Eun Mi tersenyum tipis, kemudian memeluk putrinya. Min Ah yang heran dengan sikap sang ibu hanya membalas pelukannya.
"Mama, kenapa? Ayo, kita masuk dulu!" Min Ah melepaskan pelukannya, kemudian menggandeng jemari Eun Mi.
Langkah keduanya berhenti ketika sampai di ruang tengah. Eun Mi duduk bersandar pada sofa. Dia menggunakan lengan kanan untuk menutup mata. Min Ah menuju dapur, dan kembali dengan membawa sebotol air mineral.
"Ma, minumlah dulu." Min Ah menyodorkan botol dingin itu kepada sang ibu.
Eun Mi menurunkan lengannya, kemudian meraih botol yang diberikan Min Ah. Dia membuka tutupnya dan mulai meneguk air perlahan.
"Mama ... kenapa?"
Helaan napas berat keluar dari bibir Eun Mi. Hatinya sudah mulai tenang, dan Eun Mi memutuskan untuk menceritakan tentang apa yang baru saja ia alami.
"Mama menolak permintaan Bibi Ye Jin untuk kembali ke butik."
"Kenapa, Ma?" Mata Min Ah melebar.
"Itu ... karena ...."
.
.
.
Bersambung ...
Assalamualaikum ....
Hari ini Chika mau merekomendasikan Novel karya salah satu teman author. Jangan lupa mampir yaaa❤️❤️❤️