
Eun Mi sedang bersiap menjemput putri kesayangannya. Dia sedang menunggu Pak Jang di depan rumah, ketika Seung Min melintas.
"Sedang apa di sini?" tanya Seung Min dari dalam mobil.
"Pak Jang, seharusnya dia sudah sampai."
"Mau menjemput Min Ah? Ikut saja denganku!"
"Tidak! Aku akan menunggu Pak Jang!" Eun Mi menatap layar ponsel berharap sopir Ye Joon segera menjawab panggilannya.
Tak lama kemudian Pak Jang mengangkat telepon. Dia memberi kabar, bahwa mobilnya mendadak mengalami masalah. Hal itu membuat dia harus ke bengkel untuk memperbaiki mobil.
"Ah, baiklah ... kebetulan Tuan Muda Park ada di sini. Aku akan ikut dengan mobilnya."
Seung Min tersenyum miring, kemudian keluar dari mobil. Dia membukakan pintu untuk Eun Mi dan menutupnya kembali setelah kekasihnya masuk.
"Pakai sabuk pengamanmu!" Ye Joon memperingatkan Eun Mi.
Setelah sabuk pengaman terpasang dengan benar, Seung Min mulai melajukan mobilnya.
.
.
.
Di bandara, Min Ah sedang bergelayut manja dalam dekapan Wo Joon. Gadis itu minta duduk di sampingnya ketika berada di pesawat. Sebuah keajaiban muncul setelahnya. Min Ah sama sekali tidak merasa mual seperti biasanya.
"Min Ah, ayo, sini," ucap Ye Joon mengulurkan tangan berharap Min Ah berpindah ke dalam pelukannya.
"Tidak mau!" Min Ah semakin mengeratkan pelukannya.
"Min Ah, kasihan Kak Wo Joon. Lihat dia kepayahan menahan berat badanmu," kata Eun Bi mencoba membujuk gadis di hadapannya.
"Tidak, aku tidak berat! Iya kan, Oppa?" tanya Min Ah sambil mendongak, diikuti anggukan kepala Wo Joon.
Melihat tingkah Min Ah, membuat Ye Joon mendengus kesal. Dia merasa posisinya sebagai lelaki terpenting bagi Min Ah mulai terancam. Mata lelaki itu menatap tajam ke arah Wo Joon.
"Min Ah, sepertinya ibumu sudah datang." Wo Joon menatap lurus ke depan.
Eun Mi setengah berlari menghampiri empat orang itu, Seung Min berjalan santai di belakangnya. Wajah Eun Mi terlihat panik karena mendapati sang putri dalam dekapan Wo Joon.
"Min Ah, Kau baik-baik saja, Sayang?"
"Ck, Mama kenapa datangnya cepat sekali!" gerutu Min Ah sambil turun dari dekapan Wo Joon.
"Eh?" Eun Mi mengerutkan dahi, berusaha memahami perkataan putrinya.
Tak lama kemudian Eun Mi mengangguk, karena Eun Bi komat-kamit memberitahu jika putrinya sedang ingin bersama Wo Joon.
"Min Ah, ba-bagaimana kalau Kita antarkan Kak Wo Joon sekalian? Bukankah rumahnya searah dengan Kita?" ucap Eun Mi.
"Tapi ... ibuku ...." Ucapan Wo Joon berhenti ketika melihat Seung Min menganggukkan kepalanya memberi kode.
"Oppa ...." Min Ah mendongak sambil menarik ujung kaos Wo Joon.
"Ah, ba-baiklah."
Min Ah langsung melompat kegirangan begitu Wo Joon menyetujui ajakan ibunya. Akhirnya mereka mengantar Wo Joon sampai rumah.
"Dadah, Oppa! Sampai jumpa Minggu depan!" ucap Min Ah sambil melambaikan tangan.
Setelah Min Ah kembali duduk, Seung Min melajukan mobilnya. Suasana di dalam kendaraan roda empat itu terasa canggung. Keheningan menyelimuti lima orang di dalamnya.
"Aku lapar!" rengek Min Ah berusaha mencairkan suasana.
"Kalau begitu, kita makan seafood!" ucap Seung Min.
Di saat yang bersamaan, Ye Joon menyebutkan 'mi dingin'. Mata Seung Min dan Ye Joon kini beradu keduanya saling menatap tajam melalui pantulan kaca spion.
"Ah, bagaimana kalau Kita makan sup kimchi?" ucap Eun Mi.
"Ah! Benar! Bukankah akhir-akhir ini Kita tidak makan nasi di Miami? Semangkuk sup kimchi dengan nasi pasti akan membuat perut kita kenyang!" Eun Bi mencoba menimpali ucapan Eun Mi.
"Baiklah, Ayo!" teriak Min Ah semangat.
Setelah mengendarai mobil selama lima belas menit, Seung Min memarkirkan mobilnya di sebuah kedai sederhana. Min Ah, Eun Mi, dan Eun Bi masuk terlebih dahulu. Seung Min dan Ye Joon, berjalan beriringan sambil sesekali saling melirik.
"Aku tidak tahu."
"Untuk itu aku memberitahumu!"
"Tidak perlu repot-repot!"
Seketika langkah Ye Joon berhenti. Seung Min ikut berhenti kemudian mendekati Ye Joon. Dia mengeratkan rahang dan menyembunyikan kepalan tangan di balik saku celana. Aura permusuhan menguar di antara kedua lelaki tampan itu.
"Kalian mau makan a-pa?" Eun Mi terdiam seketika saat melihat dua pasang mata menatapnya tajam.
Begitu menyadari kehadiran Eun Mi, Ye Joon melembutkan pandangan dan tersenyum canggung. Sedangkan Seung Min, membuang muka sambil mengusap tengkuknya.
"A-ayo masuk dulu," ucap Ye Joon kemudian berjalan ke arah Eun Mi.
Tiga orang itu berjalan beriringan dengan posisi Eun Mi di tengah. Ye Joon dan Seung Min masih saling melemparkan tatapan tajam. Setelah duduk di bangku masing-masing, pelayan datang dan menyodorkan daftar menu.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Eun Bi.
"Bibimbap!" seru Eun Mi, Seung Min, dan Ye Joon bersamaan.
Eun Bi menatap ketiga orang itu bergantian, sedangkan Min Ah menepuk jidat karena memiliki firasat buruk.
"Ba-baiklah, bibimbap tiga dan sup kimchi dua," ucap Eun Bi sambil mengembalikan daftar menu kepada pelayan.
Setelah pelayan pergi, Min Ah memutar otak untuk mencairkan suasana yang mendadak beku. Sebuah ide muncul, dia menanyakan mengenai pesta ulang tahun Jae Hyun.
"Ah, bagaimana pesta ulang tahun Jae Hyun kemarin, Ma?" tanya Min Ah.
"Sangat meriah, dan Kau tahu? Dia memakai tema Larva untuk pesta ulang tahunnya!"
"Benarkah! Sayang sekali aku tidak bisa hadir!" Bahu Min Ah merosot lesu.
"Tidak apa, bukankah Kamu sudah menyiapkan hadiah spesial untuk Jae Hyun?" Eun Bi mengingatkan Min Ah dengan ukulele yang dia beli di Miami.
"Ah, bagaimana kalau kita ke sana besok, Ma?"
"Boleh!" ucap Eun Mi sambil mencubit gemas pipi putrinya.
"Biar Aku yang antar!" Seung Min dan Ye Joon kembali berbicara bersamaan.
Sontak membuat Eun Mi dan Eun Bi menoleh ke arah dua laki-laki itu. Min Ah kembali menepuk dahinya karena usahanya mencairkan suasana kembali sia-sia.
"Pesanan siap, dua sup kimchi dan tiga bibimbap!"
"Terima kasih!" seru Min Ah.
Gadis kecil itu sudah tidak peduli lagi dengan suasana canggung sore itu, yang terpenting perutnya segera terisi dengan sup kimchi favoritnya.
Air liur Min Ah menetes ketika menghirup aroma yang menguar dari semangkuk sup kimchi. Aroma daging sapi bercampur dengan daun bawang seakan menghipnotis gadis itu. Dia mulai mencicipi kuah merah sup yang pedas dan asam.
"Aigoo ... segarnya. Selamat makan!"
Eun Bi tersenyum dan mulai menyuapkan perlahan sup kimchi ke dalam mulut. Di lain sisi, Eun Mi sedang sibuk memisahkan kuning telur dari bagian putihnya. Di saat yang bersamaan, Seung Min dan Ye Joon memberikan kuning telur mereka untuk Eun Mi.
"Makanlah!" ucap keduanya bersamaan.
Sontak Min Ah dan Eun Bi menghentikan kegiatan makan mereka, kemudian melihat ke arah Eun Mi.
"A-aku ... sekarang juga menyukai putih telur. Kalian makanlah telur kalian masing-masing!" ujar Eun Mi diikuti sebuah senyuman canggung.
Si kecil Min Ah yang pandai membaca situasi langsung bergerak cepat. Dia mencomot putih telur dari mangkuk sang ibu dan memasukkannya ke dalam sup kimchi.
"Sepertinya putih telur juga cocok di makan bersama sup kimchi. Apa Paman sekalian bersedia memberikan kuning telur itu kepadaku?" ucap Min Ah sambil mengedipkan mata berulang kali.
Eun Bi yang melihat Seung Min begitu perhatian kepada Eun Mi, menundukkan kepala. Seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya. Mata perempuan itu mulai memerah, dan cairan bening mulai keluar dari hidung Eun Bi.
"Sepertinya sup ini terlalu pedas untukku!" ucap Eun Bi.
.
.
.
Bersambung ....