My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Double Kill, Triple Kill



Begitu pintu rumah Eun Mi terbuka, mata Seung Min melebar. Jantungnya berdegup begitu kencang, tangan Seung Min mulai gemetar karena melihat lelaki di hadapannya memandang dengan tatapan dingin.


"A-Ayah!"


Tuan Lee menatap tajam ke arah Seung Min. Sedetik kemudian dia mendarat tinju di pipi Seung Min sampai tersungkur di lantai. Rahang Tuan Lee mengerat menampilkan urat di area pelipis.


"Jadi kecurigaanku selama ini benar! Dasar bajingan! Tahu begitu, dulu aku tidak mengijinkan Eun Bi menikah denganmu!" Telunjuk Tuan Lee terus menunjuk muka Seung Min yang mulai bangkit.


Eun Mi langsung menghampiri dua lelaki beda usia itu. Min Ah berlari mengekor di belakangnya. Melihat Eun Mi, membuat mata Tuan Lee melebar. Perempuan itu mengingatkannya pada seseorang.


"Siapa Kamu!"


"Saya Lee Eun Mi, Tuan. Tolong jangan membuat keributan di rumah saya," ucap Eun Mi lemah.


"Seung Min, pergilah dari sini! Aku ingin membicarakan hal penting dengan Eun Mi!"


Tanpa protes sedikit pun, Seung Min langsung keluar rumah. Dia menuju mobil dengan langkah gontai. Setelah masuk ke dalam mobil, dia memukul keras setir mobil sekuat tenaga.


"Sial! Sedikit lagi aku bisa mengambil kembali hati mereka!" Seung Min mengusap wajahnya kasar.


Seung Min melajukan mobilnya menjauhi rumah Eun Mi. Langit senja mulai menyapa bumi. Air hujan perlahan turun membasahi jalanan beraspal kota Seoul.


.


.


.


Di rumah Eun Mi, Tuan Lee sedang memangku Min Ah yang tertidur pulas. Lelaki itu mengusap rambutnya penuh cinta. Kerinduannya akan sosok anak kecil terobati dengan adanya Min Ah.


Sejak Tuan Lee menyapa Min Ah, gadis kecil itu langsung menempel padanya. Bahkan, Min Ah merajuk ketika dia hendak pulang.


"Biar aku tidurkan Min Ah." Eun Mi menghampiri Tuan Lee dan mengambil alih tubuh putrinya.


Eun Mi menggendong Min Ah, dan perlahan menaiki anak tangga. Setelah sampai kamar, dia merebahkan tubuh mungil Min Ah ke atas ranjang, dan menyelimutinya. Eun Mi memandang sejenak wajah cantik sang putri.


"Mama harus bagaimana sekarang?" Bahu Eun Mi merosot, dia menghela napas kasar, kemudian mulai beranjak, dan turun menemui Tuan Lee.


Dari luar kamar Min Ah, Eun Mi melihat Tuan Lee sedang menatap ke arah foto yang menempel di dinding. Eun Mi terus melangkah mendekati lelaki itu. Menyadari kehadiran Eun Mi, Tuan Le menoleh dan tersenyum.


"Tolong, ceritakan semuanya." Eun Mi menatap tajam ke arah Tuan Lee.


Tuan Lee mulai kembali duduk, diikuti Eun Mi. Lelaki itu mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


"Jadi ... begini ceritanya ...."


Mata Tuan Lee menerawang, mengingat kembali kejadian puluhan tahun lalu.


***


Seorang perempuan muda sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia adalah ibu Eun Mi, Lee Aecha. Aecha sedang menata lembaran kertas dan memisahkannya berdasarkan tanggal penjualan. Tanpa dia sadari, sepasang mata sedang mengawasinya, dialah Tuan Lee


"Cantik ...." Gumaman seorang laki-laki membuat kepala gadis itu menoleh.


"Oppa?"


"A ... i-itu bunga sakura di luar sana terlihat cantik, bukan?" Tuan Lee Dae-Jung, ayah Eun Bi.


Aecha menoleh keluar jendela, tetapi alisnya saling bertautan. Dia baru ingat bahwa ini adalah bulan Januari, bunga sakura baru akan mekar dua sampai tiga bulan lagi. Perempuan itu memutar bola matanya, kemudian menoleh ke arah Tuan Lee.


"Oppa ...." Lidah Aecha mendadak kelu dan matanya melebar.


Di hadapannya, kini wajah Tuan Lee sedang tersenyum. Jarak di antara keduanya hanyalah sepanjang jengkalnya. Aecha menelan ludah kasar, mata bening gadis itu terus menatap wajah Tuan Lee.


Tuan Lee terus memangkas jarangnya dengan Aecha. Jarak keduanya semakin dekat, dan tanpa sadar bibir mereka sudah menempel satu sama lain. Tuan Lee mulai mencecap bibir manis Aecha. Mendapat sentuhan lembut dari bibir Tuan Lee, Aecha memejamkan mata.


Dua anak manusia yang sudah lima tahun bekerja bersama itu, saling mengungkapkan perasaan melalui sentuhan. Napas mereka saling memburu, dan berujung pada sebuah penyatuan yang akhirnya justru memisahkan keduanya.


Telinga Nyonya Lee menangkap suara yang tak asing. Namun, hal itu menjadi janggal karena biasanya suara ******* suaminya berada di kamar mereka. Namun, hari ini dia mendengar suara serak sang suami di kantor.


Nyonya Lee menguatkan hatinya dan mulai membuka pintu kantor Tuan Lee. Mata indah perempuan itu terbelalak mendapati sang suami tengah memadu kasih dengan Aecha, sekretarisnya.


"A-apa yang kalian lakukan!" teriak Nyonya Lee sekuat tenaga.


Mendengar teriakan istrinya, membuat Tuan Lee menghentikan serangannya kepada Aecha. Dia langsung mengeluarkan ular pitonnya dari milik Aecha, kemudian segera memakai celana. Aecha juga melakukan hal yang sama. Ia segera merapikan kemeja dan rok span kemudian berjalan ke arah pintu.


Mata Nyonya Lee memerah, dadanya naik turun berusaha menahan amarah dan tangis di waktu yang bersamaan. Kedua tangannya mengepal kuat di samping badan. Saat Aecha hendak keluar dari ruangan suaminya, Nyonya Lee berteriak.


"Berhenti!" Nyonya Lee memutar tubuhnya, dan menatap punggung Aecha.


"Apa Kau tidak ada niatan untuk meminta maaf?" Suara Nyonya Lee mulai bergetar.


Aecha mulai membalikkan badan, tak lama kemudian gadis itu berjalan cepat ke arah Nyonya Lee. Dia mulai bersujud di ujung kaki Nyonya Lee. Air mata membanjiri pipi mulusnya.


"Oennie, maafkan aku! Aku khilaf! Aku akan mengundurkan diri dan pergi menjauh dari kehidupan Kalian! Aku mohon, maafkan aku!"


"Sejak kapan? Sejak kapan Kamu menyimpan perasaan itu!" teriak Nyonya Lee.


Aecha hanya menunduk, lidahnya seakan beku. Seandainya dia menghiraukan Tuan Lee, pasti semua ini tidak akan terjadi. Aecha kembali mendongak ketika Nyonya Lee kembali berteriak.


"Cepat jawab!"


"Sejak kuliah ... aku menyukai Oppa sejak Kami duduk di bangku universitas."


Nyonya Lee tersenyum miring, melipak lengan, kemudian membuang muka. Air matanya masih enggan meluap. Daripada rasa sedih, hatinya kini tengah dipenuhi amarah. Perempuan yang dia anggap seperti adik, ternyata telah menikamnya dari belakang.


"Pergilah sekarang, sebelum aku berubah pikiran!" ucap Nyonya Lee dengan nada sedingin es.


Perlahan Aecha bangkit, kemudian membungkukkan tubuhnya, dan mulai melangkah keluar. Tuan Lee hanya bisa menatap Aecha pergi tanpa bisa melakukan apa pun.


"Jadi ... sejak kapan Kamu menyukai Aecha?" Kini pandangan datar Nyonya tertuju pada Tuan Lee.


"Itu ...."


"Hah, aku saja yang terlalu naif. Besok pengacaraku akan mengirimkan surat gugatan," ucap Nyonya Lee kemudian melangkah keluar kantor.


***


"Sejak hari itu, aku dan ibu Eun Bi berpisah. Tak lama kemudian, dia ditemukan mengiris sendiri nadinya," ucap Tuan Lee sambil saling menautkan jemarinya dan tertunduk dalam.


"Jadi, a-aku dan Eun Bi bersaudara?"


Tuan Lee mengangguk, kemudian menatap nanar Eun Mi. Wajah perempuan itu benar-benar mirip dengan Lee Aecha, kekasih gelapnya. Dia tak menyangka, kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu justru menuai karma yang lebih menyakitkan. Dia harus melihat kedua putrinya sama-sama tersakiti karena mencintai laki-laki yang sama.


.


.


.


***Bersambung ...


Assalamualaikum ...


Terima kasih sudah setia dengan LIG...


Chika ada rekomendasi novel karya kak Lusiana Anwar yang gak kalah seru, ini diaaa***



Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan like dan komen positif yaa 😘😘😘