My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Perang Batin



"Jadi ... Eun Bi adalah kakakku?"


Tuan Lee hanya mengangguk. Dia sendiri juga tidak menyangka bahwa hasil hubungan dengan Aecha dulu, membuahkan seorang putri. Sejak hari itu Aecha menghilang bagaikan ditelan bumi.


Obrolan mereka ternyata tertangkap oleh telinga Eun Bi. Mata perempuan itu melebar, tubuhnya goyah seakan kehilangan pijakan. Ketika hendak pergi dari teras rumah, tanpa sengaja lengannya menyenggol pot bunga hingga terjatuh.


Mendengar suara benda terjatuh, sontak Eun Mi keluar rumah. Dia melihat Eun Bi setengah berlari keluar dari pekarangan. Perempuan itu segera menyusul Eun Bi dan meneriakkan namanya berulang kali.


"Eun Bi! Berhenti!"


Eun Mi berhasil menyusul Eun Bi yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Dia berdiri di depan mobil Eun Bi, dan memintanya keluar. Eun Mi dapat melihat dengan jelas, Eun Bi tengah menunduk dan bertumpu pada roda kemudi. Tanpa menunggu nanti, Eun Mi langsung mengetuk kaca mobil Eun Bi dari samping.


"Eun Bi, keluarlah. Mari Kita bicarakan semua ini dengan kepala dingin, aku mohon!" Tangan Eun Mi terus mengetuk kaca, berharap Eun Bi segera keluar.


Di dalam mobil, Eun Bi masih tetap menunduk air matanya bercucuran keluar. Hatinya hancur mengetahui bahwa penyebab ibunya bunuh diri adalah Ibu Eun Mi. Suara ketukan dari luar mobil membuatnya menoleh.


"Kenapa harus Kamu! Aku membenci semua ini! Jika di masa lalu ibumu merenggut kebahagiaan ibuku, kenapa sekarang kamu yang merenggut kebahagiaanku?" lirih Eun Bi.


"Kumohon, keluarlah Eun Bi. Ayo, Kita bicara!"


Akhirnya, Eun Bi keluar dari mobil. Dia menatap sendu Eun Mi dan ayahnya yang sudah berada di belakang saudarinya itu.


"Aku butuh waktu sendiri. Tolong, biarkan aku sendiri sementara waktu. Setelah aku tenang, Kita bicarakan lagi semuanya." Eun Bi kembali membuka pintu mobil dan masuk.


Ketika hendak menutup kembali pintu mobil, Eun Mi menahannya.


"Jangan menyetir sendiri dalam kondisi seperti ini, aku akan menghubungi Ye Joon."


Eun Mi merogoh ponselnya dari dalam saku, dan menghubungi Ye Joon. Sambil menunggu Ye Joon datang, Eun Mi mencoba untuk mengajak Eun Bi bicara. Namun, hasilnya nol besar.


Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya Yee Joon datang. Lelaki itu langsung menghampiri Eun Bi yang bersandar pada mobilnya.


"Ayo!" Ye Joon meraih jemari Eun Bi dan membawanya masuk ke mobil.


Eun Mi menatap kepergian keduanya dengan hati yang gamang. Dia menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya kasar.


"Ayah, pulanglah. Ayah juga butuh istirahat. Kita akan bicarakan lagi setelah o**ennie tenang."


"Baiklah, jika butuh apa-apa ketuk saja pintu rumah Bibi Jang."


Sekali lagi mata Eun Mi melebar. Dia tak menyangka ternyata Bibi Jang adalah orang suruhan Tuan Lee. Lelaki itu masuk ke dalam mobil, dan sopirnya mulai melajukan kendaraann. Eun Mi menatap kepergian Tuan Lee dengan hati gamang.


Malam itu, Eun Mi tak bisa terpejam. Banyak hal memenuhi pikirannya. Perasaannya pada Seung Min harus kembali ia kubur dalam-dalam. Niatnya dari awal pergi ke Korea memang bukan untuk kembali bersama Seung Min, melainkan untuk membersamai putrinya meraih impian.


Masa lalu sang ibu yang terkuak membuat Eun Mi sedikit lega, karena bisa mengetahui siapa ayah kandungnya sebenarnya. Namun, di sisi lain hatinya merasa bersalah. Walau bukan dia yang membuat keluarga Eun Bi hancur, Eun Mi adalah salah satu jejak yang ditinggalkan dari kejadian itu.


Eun Mi menghela napas kasar, berharap beban hatinya sedikit berkurang. Sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Eun Mi menyipitkan mata karena nomor asing menelepon.


"Siapa malam-malam begini?"


Awalnya Eun Mi berusaha mengabaikan panggilan itu, tapi ponselnya tak berhenti berteriak. Akhirnya, Eun Mi mengangkat panggilan itu dengan berat hati.


.


.


.


Di sebuah bar, badan Seung Min sedang tertelungkup di atas meja. Aroma alkohol menguar dari tubuhnya. Mata lelaki itu terpejam rapat dengan bibir mengeluarkan dengkuran halus.


"Iya ... tolong segera ke sini. Dia sudah tak berdaya."


" ... "


Seorang bartender sedang menghubungi seseorang untuk menjemput Seung Min. Tak lama kemudian, seorang perempuan cantik dengan mantel coklat menghampiri tubuh Seung Min. Dia menggoyangkan tubuh lelaki itu. Kepala Seung Min mendongak, samar-samar dia melihat sosok Eun Mi yang menatapnya datar.


"Eun Mi ...."


"Bisa berjalan sendiri?"


Seung Min mulai bangkit dari kursi, dan berjalan perlahan dengan bantuan perempuan itu. Sesekali tubuhnya terhuyung menabrak meja atau pengunjung. Sesampainya di mobil, dia tertidur pulas. Matanya kembali terbuka ketika sebuah tepukan lembut mendarat di pipinya.


"Seung Min, bangunlah ... Kita sudah sampai."


Tubuh Seung Min seakan melayang karena efek alkohol. Kepalanya berputar dengan pandangan yang kabur. Dia terus berjalan dengan bantuan perempuan yang setahunya adalah Eun Mi.


Perempuan itu merebahkan tubuh Seung Min di atas kasur. Ketika hendak pergi dari sana, lengannya ditarik oleh Seung Min. Tubuh ramping perempuan itu kini berada dalam dekapan Seung Min.


Keesokan harinya, Seung Min terbangun dalam keadaan terkejut bukan main. Tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun sedang mengungkung tubuh seorang perempuan. Mata Seung Min terbelalak. Dia langsung menarik selimut untuk menutup bagian sensitifnya.


Eun Bi ikut terbangun karena gerakan Seung Min. Dia langsung ikut menarik selimut yang dipakai Seung Min. Pertarungan tarik menarik itu berlangsung begitu sengit.


"Lepaskan Seung Min! Aku punya dua aset berharga yang harus disembunyikan!" teriak Eun Bi.


"Hah! Kamu pikir, hanya dirimu yang memiliki aset berharga? Aku juga punya!" Seung Min terus mempertahankan selimut yang melingkari pinggangnya.


"Ayolah! Kamu itu laki-laki, mengalahlah! Berikan selimut ini padaku!"


"Tidak bisa! Aku tidak akan melepaskan hakku begitu saja! Ini kamarku! Dan ini selimutku!"


Entah mendapat kekuatan dari mana, Eun Bi berhasil menarik selimut yang membalut bagian bawah tubuh Seung Min. Dia langsung melilitkan selimut itu pada tubuh mulusnya, kemudian berlari keluar kamar meninggalkan Seung Min.


Seung Min memukul tembok kamar dengan telapak tangannya. Kemudian langsung melangkah menuju kamar mandi. Dia mengguyur kepalanya dengan air dingin, sambil mengumpulkan kepingan ingatan tentang kejadian semalam.


"Bagaimana bisa Eun Bi ada di kamarku? Seingatku, semalam aku dan Eun Mi ...."


Mata Seung Min melebar, dia menutup bibirnya yang menganga dengan jemari. Laki-laki itu bergegas menyelesaikan ritual mandi, dan berganti pakaian. Dia berniat untuk memastikan tidak terjadi apapun antara dia dan Eun Bi tadi malam.


Ketika hendak membereskan kekacauan ranjangnya, ia kembali menemukan bercak darah pada seprei. Mata Seung Min terbelalak. Otaknya berpikir keras, mencoba kembali mengingat apa yang dia lakukan semalam. Akan tetapi, kepalanya seakan hampir meledak dan akhirnya menyerah.


Seung Min mulai melangkah keluar, dan berniat untuk meminta penjelasan dari Eun Bi. Saat sampai di depan pintu kamar istrinya, dia berhenti.


"Apa aku tunggu penjelasannya saja. Bisa jadi dia yang menggodaku semalam." Seung Min mengusap dagu, sambil mengangguk pelan.


"Tapi rasanya tidak bermoral sekali jika hanya pura-pura diam menunggu Eun Bi memberikan penjelasan." Kini Seung Min melipat lengan di depan dada.


Kegiatannya itu berhenti ketika tiba-tiba pintu kamar Eun Bi terbuka lebar. Mata Seung Min terbelalak, dan tubuhnya mundur satu langkah. Eun Bi yang sama-sama terkejut, berteriak kemudian mennatap tajam ke arah Seung Min.


"Ada apa?"


.


.


.


Bersambung ...



Mampir yuk, ke salah satu karya author kece kitaaa... Tante Angel paling gemoy se-noveltoon. 😁😁😁


Dijamin baper kalau baca karya yang satu ini.❤️❤️❤️