My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Permintaan Seung Min



"Apa! Kau gila! Tidak! Aku tidak Mau!" Eun Mi menggelengkan kepala, kemudian mengembalikan kotak yang sudah diberikan Seung Min.


"Hanya sekali, ini persyaratan paling mudah!"


Bibir Eun Mi maju tiga senti, mengingat persyaratan konyol yang diajukan Seung Min. Dia diminta untuk menghabiskan hari itu bersama Seung Min. Namun, ketika melirik kembali figur karakter kesukaan Min Ah, hati Eun Mi goyah.


"Ba-baiklah! Tapi hari ini saja 'kan?" Eun Mi menghela napas kasar.


Seung Min memajukan jempolnya sambil tersenyum puas. Lelaki itu berjanji dalam hati untuk tidak akan menyia-nyiakan momen ini. Sebisa mungkin, dia ingin kembali meluluhkan hati Eun Mi.


"Ayo, kuantar pulang! Nanti sore, akan kujemput lagi!"


.


.


.


Eun Mi memandang bayangan wajah yang terpantul dari cermin. Wajah imutnya terlihat segar karena pulasan mekap natural bernuansa peach. Ia menghela napas kasar, kemudian menyapukan blush-on pada pipinya.


"Sudah, sekarang tinggal berpakaian," ucap Eun Mi.


Kaki Eun Mi melangkah ke depan lemari, dan membuka pintunya. Beraneka jenis pakaian tertata rapi di dalam lemari. Eun Mi melipat lengannya, kemudian mengamati satu per satu gaun yang menggantung.


Pilihannya jatuh pada sebuah gaun sederhana bermotif garis salur vertikal. Dia melepaskan kimono handuk, kemudian membalutkan gaun itu pada tubuh rampingnya.


"Nice," ucap Eun Mi sambil mengagumi dirinya sendiri di depan cermin.


Setelah selesai, Eun Mi keluar kamar. Perempuan itu membunuh waktu sambil melihat sosial media milik Min Ah. Stargram putrinya dipenuhi oleh potret cantik Min Ah bersama Eun Bi.


"Astaga, Aku iri!" gerutu Eun Mi.


Ia terus menggulir ke bawah layar ponselnya, sampai akhirnya menemukan foto seorang perempuan dari belakang. Eun Mi meneliti setiap detail potret perempuan itu.


"Bukankah ini Aku?"


Eun Mi melihat akun yang mengunggah gambar dirinya. Akun itu bernama, Seung Chan. Melihat nama tersebut pikiran Eun Mi langsung tertuju pada Seung Min. Tawa perempuan itu pecah.


"Seung Chan? Astaga! Sok, imut sekali!"


Karena penasaran, akhirnya Eun Bi melihat foto yang diunggah akun tersebut, untuk memastikan bahwa itu benar-benar Seung Min.


"Apa ini? Sungguh membosankan." Eun Mi menggelengkan kepala ketika mengetahui foto yang diunggah akun itu.


Hanya ada gambar pulpen, buku, pemandangan langit dari rooftop, sepeda di pinggir sungai Han, dan ketika melihat foto bayi, mata Eun Mi melebar. Dia menyentuh foto itu untuk melihat keterangannya.


Malaikat kecilku, tumbuhlah dengan sehat walaupun ayah tidak ada di sisimu.


Mata Eun Mi mulai mengembun. Dia yakin sekali bahwa itu adalah akun milik Seung Min, karena bayi mungil dalam foto adalah Min Ah. Eun Mi mendongakkan kepala, berharap air matanya tidak meluncur. Perempuan itu tidak menyangka bahwa Seung benar-benar menderita semenjak kepergiannya.


Kegiatan stalking Eun Mi berhenti, ketika bel rumahnya berbunyi. Dia segera keluar rumah dan menemui Seung Min. Setelah membuka pintu pagar, bahu lebar Seung Min menyambutnya.


Seung Min menoleh ketika mendengar pintu pagar terbuka. Matanya melebar melihat Eun Mi yang begitu memesona dalam balutan gaun sederhana. Dia berulang kali menelan ludah untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Seung Min," ucap Eun Mi sembari memiringkan kepala.


"Ah, ya! Ma-masuk!" Seung Min membukakan pintu mobil, kemudian menutupnya kembali setelah Eun Mi masuk ke dalamnya.


Kemudian, Seung Min masuk, dan mulai mengemudikan mobil. Perasaan canggung menyelubungi dua manusia itu. Seung Min sesekali mengetukkan jemarinya di atas roda kemudi, sedangkan Eun Mi memilin ujung gaun.


"Jadi, Kita mau ke mana?" ucap keduanya bersamaan.


"Bagaimana kalau ...." Mereka kembali berbicara bersamaan.


"Ja-jadi, Kita mau ke mana?" tanya Eun Mi.


"Mau ke Sungai Han?"


"Boleh," ucap Eun Mi sambil tersenyum lembut.


Semilir angin menerpa wajah keduanya. Eun Mi memenuhi paru-paru dengan udara segar, kemudian menghembuskan perlahan. Senyum perempuan itu mengembang.


"Masih ingat kapan terakhir kali ke sini?" tanya Seung Min.


"Sebelum Aku pergi dari Seoul. Sebenarnya Aku sangat merindukan Sungai Han. Udara paginya, jembatan Banpo ketika malam, dan ...." Ucapan Eun Mi menggantung di udara.


"Dan?" Seung Min memiringkan kepala menanti kelanjutan ucapan Eun Mi.


Eun Mi hanya tersenyum, kemudian menghela napas kasar. Ia berjalan mendekati bangku di tepi Sungai, sedangkan Seung Min mengekor di belakangnya. Setelah sampai di bangku itu, Eun Mi mendaratkan bokongnya.


"Sudah banyak yang berubah, ya? Sungai Han semakin cantik!" ucap Eun Mi.


"Kau tahu? Banyak hal yang berubah di dunia ini. Tapi, percayalah ... perasaanku padamu, tetap sama seperti delapan tahun lalu." Seung Min menatap lembut Eun Mi.


Mendengar ucapan Seung Min, membuat hati Eun Mi menghangat. Dadanya berdebar tak beraturan, mata Eun Mi mulai berair, tetapi dia mengalihkan pandangan.


"Ah, mataku terkena debu!" dalih Eun Mi sambil mengusap kelopak matanya yang mulai basah.


Seung Min hanya tersenyum geli melihat tingkah Eun Mi. Dia merangkum wajah Eun Mi, kemudian tersenyum.


"Mau kutiupkan debu nakal itu?"


Eun Mi mengangguk perlahan, diikuti wajah Seung Min yang semakin mendekat. Lelaki itu terus memangkas jarak di antara mereka. Eun Mi dapat merasakan embusan napas Seung Min yang hangat. Ketika jarak keduanya tinggal setipis kertas, sebuah bola mendarat tepat pada pelipis Seung Min.


"Ya!" teriak Seung Min.


Seorang anak kecil berlari ke arah Seung Min dan Eun Mi. Ia mengambil bola sepak, kemudian menunduk untuk meminta maaf.


"Maafkan Aku, Paman," ucap bocah itu sambil terus menunduk.


"Lain kali hati-hati, mengganggu saja!" seru Seung Min kesal.


Sebuah pukulan mendarat di punggung Seung Min, dan membuatnya menoleh ke arah Eun Mi. Perempuan itu menatap tajam ke arah Seung Min. Kemudian, dia kembali menatap si bocah yang masih mematung.


"Tidak apa-apa, mainlah lagi," ucap Eun Mi sambil tersenyum lebar.


Bibir Seung Min melengkung ke bawah, ia memasang mata sedih layaknya anak anjing. Eun Mi melayangkan tangan ke udara, berniat memukul Seung Min. Akan tetapi, sebelum. pukulannya mendarat di tubuh Seung Min, lelaki itu berlari menghindar.


"Ya! Seung Min! Kemari!" teriak Eun Mi sambil mengejar Seung Min.


Setelah berlari sepuluh menit untuk menghindari Eun Mi, akhirnya Seung Min menyerah. Napasnya hampir putus karena lelah berlari.


"A-ampun! A-aku akan lebih ramah lagi terhadap anak-anak!" ucap Seung Min sambil mengangkat tangannya untuk membuat janji.


"Tidak bisa! Kau harus dihukum!" teriak Eun Mi.


"Apa pun akan kulakukan! Maaf, Nyonya Lee!" Seung Min membungkuk penuh penyesalan.


Melihat tingkah Seung Min membuat sebuah senyum jahil terbit di bibir Eun Mi. Ia meminta lelaki itu mengayuh sepeda sambil memboncengkannya menyusuri Sungai Han, sampai matahari terbenam.


.


.


.


Bersambung...


Halooo...


Maaf yaaa untuk sementara Chika up sehari sekali karena harus merevisi beberapa nama tokoh, untuk kepentingan pengajuan kontrak.


Doakan lancar yaa ...


Sayang Kaliaaannnn😘