
Langit sudah berubah menjadi hitam saat Eun Mi, Ye Joon, dan Min Ah sampai di gedung Seoul Harmonic Orchestra. Mereka bertiga mulai melangkah masuk ke bangunan tiga lantai itu, dan menuju studio untuk berlatih. Namun, ketika baru sampai di depan pintu studio, Manajer Kim memanggil Eun Mi dan Ye Joon.
"Nyonya Lee!"
Eun Mi menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Ye Joon dan Min Ah. Saat Manajer Kim berada di hadapan mereka, dia meminta Min Ah untuk tetap masuk studio dan berlatih.
"Min Ah, masuklah. Aku ingin bicara dengan ibumu," ucap Manajer Kim sambil tersenyum kepada Min Ah.
Min Ah menatap sang ibu, dan diikuti anggukan dari Eun Mi. Akhirnya, dia masuk ke dalam studio dengan perasaan ragu. Ketika sudah masuk ke dalam studio, semua orang melihatnya dengan tatapan aneh. Beberapa dari saling berbisik, kemudian tersenyum miring.
Min Ah terus berjalan ke arah grand piano yang biasa dia mainkan. Namun, ketika hendak duduk di atas bangku, Se-Mi menarik kursi itu. Tak elak tubuh mungil Min Ah jatuh ke lantai. Gadis itu langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Se-Mi.
"Apa yang Kamu lakukan Se-Mi!" Min Ah mengepalkan tangannya di samping badan.
"Apa Manajer tidak memberi tahumu?" Se-Mi melipat kedua lengannya di depan dada sambil tersenyum miring.
"Apa maksudmu?" tanya Min Ah sambil mengerutkan keningnya.
"Kau dikeluarkan dari grup orkestra! Hah! Ibumu itu memang murahan seperti yang dibilang Bibi Nam!"
Mendengar ucapan Se-Mi membuat darah Min Ah seakan mendidih. Tangannya otomatis melayang di udara, dan mendarat mulus di rahang remaja berusia enam belas tahun itu.
Se-Mi mengusap rahangnya perlahan. Rasa sakitnya tidak seberapa, tetapi wajah Se-Mi merah padam karena malu. Mata gadis itu melebar dan mulutnya menganga.
"K-Kau!"
"Jangan pernah menyebut ibuku seperti itu! Jaga mulutmu yang tidak lebih bersih dari sampah itu!" Min Ah menunjuk wajah Se-Mi kemudian berbalik badan keluar dari studio.
Seisi studio dibuat terkejut oleh ucapan Min Ah. Mereka tidak menyangka, gadis yang belum genap berumur delapan tahun itu memiliki lidah yang sangat tajam.
Di dalam ruangan Manajer Kim, Eun Mi dan Ye Joon sedang serius menanti lelaki itu mulai bicara. Manajer Kim duduk tegap di kursi, dia mengambil napas panjang dan mengembuskannya kasar.
"Saya mewakili SHO akan menyampaikan keputusan dari CEO Kami. Mulai hari ini, Min Ah tidak perlu datang ke sini," ucap Manajer Kim.
Eun Mi mengerutkan dahi berusaha memahami arah pembicaraan Manajer Kim. Ye Joon yang awalnya duduk bersandar pada kepala sofa, kini menegakkan tubuhnya.
"Apa maksud Anda, Manajer?" tanya Eun Mi.
"Sehubungan dengan skandal Anda dengan Tuan Park Seung Min, Kami memutuskan untuk membatalkan kontrak secara sepihak. Kami akan mengirimkan uang pinalti paling lambat pekan depan."
"Tidak bisa begini, Manajer! Semua ini tidak ada hubungannya dengan Min Ah! Tolong biarkan putriku tetap bermain di grup ini!" Eun Mi beranjak dari kursi dan menangkupkan kedua telapak tangannya di ujung bibir.
"Maaf, tapi keputusan Kami tidak bisa dibatalkan lagi."
Ye Joon hanya menunduk tanpa bisa berbuat apapun. Dia mendongakkan kepala ketika pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Min Ah memasuki ruangan Manajer Kim sambil menatap tajam ke arah sang manajer.
"Ibu, ayo Kita pulang! Aku sudah tidak mau bermain di grup orkestra ini!" Min Ah menarik lembut lengan ibunya, kemudian berjalan ke arah pintu.
"Manajer, ingatlah hal ini! Kalian akan menyesal karena sudah berbuat seperti ini kepadaku! Jangan pernah mengemis dan memintaku kembali ke sini!"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Min Ah langsung keluar dari ruangan itu dan meninggalkan gedung orkestra. Ye Joon menyusul keduanya setelah sedikit berbicara dengan Manajer Kim.
.
.
.
Keesokan harinya, seluruh stasiun televisi menyiarkan mengenai skandal Seung Min dengan Eun Mi, kecuali PSJ TV. Seung Min duduk di kantornya dengan kepala yang seakan hampir meledak. Skandalnya itu justru dijadikan stasiun televisi lain untuk menjatuhkan pamor PSJ TV. Di bawah kepemimpinannya, PSJ TV menjadi stasiun televisi dengan rating tertinggi.
Saat Seung Min sedang tenggelam dalam pikirannya, Young Tae masuk ke ruangannya. Lelaki itu membungkuk dan mulai berbicara.
"Presdir, para pemegang saham, ingin Kita segera mengadakan rapat."
"Lakukan apapun yang mereka mau. Atur saja jadwalnya, Kita akan melakukan rapat sesuai keinginan mereka."
"Baik, Presdir." Young Tae kembali membungkuk dan keluar dari ruangan Seung Min.
Tiga puluh menit kemudian, rapat pemegang saham dimulai. Semua pemegang saham hadir, termasuk Tuan Lee, Tuan Park, dan adik tiri Seung Min. Mereka semua menatap tajam ke arah Seung Min yang baru saja masuk ruang rapat.
"Mari Kita mulai rapat hari ini. Langsung saja pada intinya. Apa tujuan Anda semua mendesak Saya mengadakan rapat?"
Seluruh petinggi yang ada di ruangan itu saling melemparkan tatapan tajam ke arah Seung Min. Tuan Park menggebrak meja, kemudian meninggikan suaranya.
"Seung Min! Segera selesaikan masalah ini! Jika tidak, Kamu tahu sendiri akibatnya!"
Tuan Park langsung berdiri dan beranjak meninggalkan ruang rapat, diikuti seluruh petinggi PSJ TV. Tuan Lee berhenti sejenak ketika melewati tubuh Seung Min yang masih membatu.
Dia melirik Seung Min, kemudian berkata, "Aku kecewa padamu!"
.
.
.
BERSAMBUNG ...
Pagi ...
Hari ini Chika mau merekomendasikan salah satu karya teman author, Kak Ria Aisyah, Tiger Wu.