
Senyum Min Ah mengembang. Hatinya terasa lega melihat sosok Wo Joon yang sangat dia rindukan. Perlahan gadis itu melepaskan tautan jemarinya dari Eun Mi, dan mulai mendekati Wo Joon.
"Oppa," sapa Min Ah.
Mendengar namanya terucap dari bibir gadis kecil yang dia rindukan, Wo Joon mendongak. Remaja itu berdiri, kemudian melemparkan senyum ke arah Min Ah.
"Apa kabar?"
"Kabarku baru saja membaik. Bagaimana dengan Oppa?"
"Apa Kamu sakit?" Wo Joon mengerutkan alisnya sambil mengamati wajah Min Ah.
"Iya, aku baru saja sembuh."
"Bagian mana yang sakit? Kau sakit apa? Sudah berobat?" Mata Wo Joon melebar, kemudian menarik lembut lengan Min Ah.
"Disini." Min Ah memegang dadanya sambil tersenyum kecut.
Melihat sikap Min Ah membuat hati Wo Joon mencelos. Dia menarik lengan gadis kecil itu, kemudian mengajaknya duduk di sudut kafe.
"Kenapa?" tanya Wo Joon.
"Karena Oppa pergi begitu saja hari itu, dan tidak protes sedikit pun pada Manajer Kim. Bahkan, tak melihat ke arahku ketika meninggalkan ruangan Manajer." Mata Min Ah mulai berkaca-kaca.
"Maaf, hal itu kulakukan karena malu." Bahu Wo Joon merosot mengingat sikap ibunya yang tidak mau mengakui kesalahan.
"Kenapa malu? Karena ibumu? Kan yang bersalah bukan Oppa, melainkan beliau. Jadi, Oppa tidak perlu malu." Min Ah tersenyum lebar mencoba untuk menghibur Wo Joon.
"Sebenarnya, waktu itu aku mengetahui rencana ibuku. Aku ingin langsung memberitahu hal ini, tapi ragu. Aku takut ... Kamu akan membenciku nantinya." Wo Joon tertunduk dalam, sembari menautkan jemarinya.
Jari-jari mungil Min Ah mengusap punggung tangan Wo Joon. Remaja tampan itu mendongak kemudian tersenyum.
"Aku tidak akan pernah membenci Oppa," ucap Min Ah.
Sedetik kemudian wajah Wo Joon bersemu merah layaknya tomat, karena tiba-tiba Min Ah mencium pipi Wo Joon. Mata remaja itu melebar, jantungnya berpacu lebih cepat, dan perlahan dia menoleh ke arah Min Ah.
Di sisi lain, Eun Mi sedang tersenyum geli melihat tingkah putrinya. Lengan Eun Mi melingkari perut Ye Joon yang sedari tadi berontak. Lelaki itu ingin menghampiri sepasang anak manusia di sudut kafe karena tak tahan melihat sikap manis keduanya.
"Sudah, biarkan dulu. Namanya juga anak-anak, Pak!" seru Eun Mi.
"Aku harus memberi Wo Joon pelajaran! Astaga! Ciuman Min Ah hanya boleh untukku!" Ye Joon mendengus kesal.
Setelah mengobrol selama tiga puluh menit. Akhirnya Min Ah berpamitan. Dia masih berharap Wo Joon kembali ke grup orkestra.
"Oppa, ayo main musik bersama lagi." Min Ah menarik ujung kaos Wo Joon sambil menatap penuh harap.
"Maaf. Sebenarnya aku menemui Kamu hari ini, sekaligus untuk berpamitan."
"Oppa, mau kemana?" tanya Min Ah.
"Boston. Aku sudah berunding dengan ibu, dan beliau setuju. Aku berjanji padanya untuk serius belajar musik, dan beliau memilih salah satu sekolah di sana."
"Boston? Di mana itu?" Min Ah menautkan alisnya.
"Masschusettes, Amerika Serikat," jelas Wo Joon.
"Kenapa tidak belajar di Korea saja?" Min Ah menunduk, mata gadis itu kembali mengembun.
Wo Joon merangkum wajah kecil Min Ah yang mulai dibasahi air mata. Jemari remaja itu menghapus bulir bening yang meluap dari mata Min Ah.
"Aku malu karena kejadian di Miami. Ibu juga butuh waktu untuk memulihkan stresnya. Jadi, kami memilih untuk pergi ke luar negeri," ucap Wo Joon sambil tersenyum lembut.
"Bagaimana nanti, jika aku merindukan Oppa," rengek Min Ah di sela tangisnya.
Wo Joon menyentil pelan kening Min Ah, kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Dia mengguncangkan benda pipih itu di depan wajah Eun Mi.
"Janji?" Min Ah menyodorkan jari kelingkingnya.
Tanpa ragu sedikit pun, Wo Joon menautkan kelingkingnya. Sebuah senyum mengembang di bibir Min Ah.
"Pulanglah, dan berjanji tetap semangat untuk terus berlatih bersama grup orkestra," ucap Wo Joon kemudian melepaskan tautan kelingkingnya.
Min Ah mengangguk, kini tangannya berada dalam genggaman tangan Wo Joon. Mereka berjalan beriringan menghampiri Eun Mi dan Ye Joon.
"Paman, Bibi, aku pamit. Besok lusa, aku dan ibu akan berangkat ke Boston," ucap Wo Joon.
"O ... jangan pernah kembali lagi ke sini!" seru Ye Joon sambil melipat lengan di depan dada.
Tak lama bibir lelaki itu berteriak karena kesakitan. Sebuah cubitan mendarat mulus di perutnya. Ye Joon menoleh ke arah Eun Mi yang tengah memicingkan mata, kemudian menurunkan sudut bibirnya.
"Hati-hati di jalan, Wo Joon. Semoga sukses. Jika pulang kabari Bibi, karena seseorang pasti akan selalu merindukanmu!" ucap Eun Mi sembari melirik Min Ah.
"Baik, Bi. Saya pulang dulu, permisi." Wo Joon mengangguk kemudian berjalan keluar kafe.
Min Ah terus menatap punggung Wo Joon sampai menghilang di balik pintu. Gadis kecil itu menghela napas kasar. Kemudian menunduk. Eun Mi yang tanggap dengan tingkah putrinya, langsung teringat dengan figur karakter yang dia dapatkan saat ulang tahun Jae Hyun.
"Omo! Mama lupa!" seru Eun Mi.
Min Ah mendongak perlahan menatap ibunya yang setengah berteriak. Sebuah senyum terbit di bibir Eun Mi.
"Mama mendapat satu set figur karakter saat pesta ulang tahun Jae Hyun, tapi lupa memberikan untukmu."
"Figur Karakter apa, Ma?"
"Kau pasti menyukainya! Ayo, pulang!" ajak Eun Mi.
Akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Eun Mi berusaha membuat Min Ah tersenyum. Namun, hasilnya nihil. Sesampainya di rumah, Eun Mi langsung memberikan satu set figur karakter Larva. Hal itu membuat hati Min Ah sedikit terhibur.
"Wah ... Mama memang yang terbaik!" Mata Min Ah melebar, lalu dia mengacungkan jempolnya di hadapan Eun Mi.
"Mama berjuang melawan ratusan peserta demi mendapatkan figur itu!" Eun Mi membusungkan dada dengan kepala sedikit mendongak.
Min Ah memberi ibunya pelukan sebagai ucapan terima kasih. Suara bel membuat Min Ah harus melepaskan pelukan.
"Sebentar, Mama buka pintunya dulu." Eun Mi mengusap lembut pipi putrinya dan mulai menuruni anak tangga.
Begitu membuka pintu, Eun Mi disambut oleh seorang perempuan paruh baya yang membawa sebuah bungkusan.
"Pagi, Nyonya. Saya Jang Ji Yoo, baru pindah kemarin malam. Maaf, karena baru sempat menyapa," ucap Bibi Jang sambil menunduk.
"Ah, iya. Salam kenal, Bi. Saya Lee Eun Mi." Tubuh Eun Mi membungkuk untuk menghormati Bibi Jang.
"Ini kue beras, semoga kita bisa lebih akrab nantinya." Bibi Jang menyodorkan bungkusan yang dibawa kepada Eun Mi.
Eun Mi menerima bungkusan itu dan mengucapkan terima kasih. Bibi Jang langsung kembali ke rumahnya setelah itu.
"Wah, Bibi Jang baik sekali. Aigoo ... bahkan aku sudah melupakan tradisi ini ketika pindah rumah." Eun Mi melangkah masuk sambil terus bergumam.
Bersambung ...
Apa kabar teman-teman?
Sambil nunggu LIG update, yukk mampir ke salah satu karya teman Author❤️❤️❤️
Jangan lupa terus beri dukungan kepada Author yaa...
Kamsahamnida 😘