
"Apa dia ketiduran?" gumam Ye Jin. Dia kemudian melangkah masuk ke kamar sang kakak. Manik matanya menangkap sosok sang kakak sedang tertidur pulas di atas piano. Sebuah senyum terukir di bibir Ye Jin. Dia mendekati sang kakak untuk membangunkannya.
Ketika berada di samping Ye Joon, Ye Jin menggoyangkan tubuh sang kakak. Dia mulai panik ketika tubuh lelaki itu tidak merespon. Ye Jin mengguncangkan tubuh kakaknya semakin kuat.
"Oppa, tolong jangan bercanda!" teriak Ye Jin.
Tubuh Ye joon masih tidak merespon. Ye Jin kembali membangunkan sang kakak. Akan tetapi, tangannya bergetar hebat saat tubuh tegap Ye Joon jatuh ke atas lantai. Ye Jin berjongkok, lalu membalik tubuh sang kakak hingga terlentang. Tubuh Ye Jin seakan kehilangan tulang-tulangnya ketika melihat mulut Ye Joon mengeluarkan buih berwarna putih.
"Oppa!" Ye Jin berteriak sekuat yang ia bisa.
Seung Min yang mendengar suara teriakan Ye
Jin langsung bergegas menuju kamar Ye Joon. Dia mengambil langkah seribu sampai akhirnya tiba di depan kamar Ye Joon dengan pintu yang terbuka lebar. Di dalamnya, Ye Jin sedang memangku kepala Ye Joon sambil menangis histeris. Seung Min perlahan mendekati mereka.
"Bangunlah, Oppa! Tolong jangan bercanda seperti ini!" Ye Jin mengguncangkan tubuh sang kakak kemudian memeluknya erat.
"Ayo, kita bawa ke rumah sakit." Seung Min merengkuh tubuh Ye Joon dan membawanya keluar kamar. Ye Jin berusaha sekuat yang ia bisa untuk tetap berdiri tegak. Dia mengekor di belakang Seung Min hingga masuk ke dalam mobil.
Mobil mewah Seung Min membelah jalanan Seoul. Setelah melakukan perjalanan selama dua puluh menit, mereka sampai ke rumah sakit. Tim medis membawa Ye Joon ke dalam Unit Gawat Darurat.
Seung Min dan Ye Jin menunggu di luar ruangan. Seung Min mencoba menghubungi Min Ah untuk memberitahukan kondisi Ye Joon. Ye Jin masih menangis histeris di bangku depan ruang UGD. Dia menyandarkan kepala pada dinding rumah sakit yang terasa dingin.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang UGD. Dokter itu menemui Seung Min dan Ye Jin. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Keluarga Tuan Kim?" tanya sang dokter.
"Sa-saya, Dok!" Ye Jin berdiri dibantu oleh Seung Min.
"Kami minta maaf. Nyawa Tuan Kim tidak dapat kami selamatkan."
"Anda jangan bercanda dokter! Kakakku baru saja bermain piano beberapa jam lalu! Dokter pasti bekerja sama dengan kakak 'kan untuk melemparkan lelucon kepadaku?" Suara Ye Jin tergetar, dia mulai berjalan mendekati sang dokter.
"Maaf." Sang dokter tertunduk penuh penyesalan.
"Katakan jika semua ini bohong! Dokter dan kakak sedang mempermainkanku 'kan? Cepat katakan bahwa semua ini hanya lelucon yang dibuat oleh Ye Joon!" Jemari Ye Jin mengepal dan ia daratkan ke atas dada bidang dokter di depannya itu.
Seung Min mendekati Ye Jin. Lelaki itu merengkuh tubuhnya, kemudian memberikannya pelukan. Ye Jin menangis sejadi-jadinya. Dia merasakan sesak yang luar biasa di dalam dada. Seakan ada batu besar yang mengimpitnya. Dunia yang ia pijak seperti berhenti detik itu juga.
"A-aku hanyalah gadis lemah yang selalu berlindung di bawah ketiaknya!"
Bibir Seung Min tak henti-hentinya memberikan semangat dan terus menenangkan Ye Jin. Akan tetapi semua itu terasa sia-sia. Dia seperti menabur garam ke dalam lautan ketika berbicara dengan Ye Jin. Gadis dalam pelukannya itu seakan kehilangan akal sehatnya.
Di bangsal tempat Eun Mi dirawat, Min Ah msih membatu. Sesekali ia melirik ibunya yang sudah tertidur pulas di atas brankar. Dia bingung harus melakukan apa, menyampaikan berita buruk mengenai Ye Joon atau menyimpannya, dan meminta bantuan Seung Min untuk menyampaikan hal itu kepada sang ibu.
Ketika Min Ah sedang bergelut dengan pikirannya, Seung Min masuk ke dalam ruangan itu. Min Ah menoleh ke arahnya. Sebuah senyum tipis menghiasi bibir Seung Min. Langkahnya terasa berat ketika mendekati Min Ah. Suara seakan tercekat di tenggorokan untuk sekedar menyapa sang putri.
"Bagaimana keadaan Paman Ye Jon, Yah?" tanya Min Ah.
"Dia sudah pergi." Seung Min mendaratkan bokongnya di samping Min Ah.
"Pergi?" Min Ah mengerutkan dahi, kemudian merubah posisi duduknya menghadap ke arah Seung Min.
"Nyawanya tak tertolong." Seung Min menundukkan wajah dan mengusapnya kasar.
"Apa? Bukankah tadi pagi Paman baik-baik saja?" Air mata Min Ah mulai berdesakan ingin keluar.
Seung Min tidak bisa berkata-kata lagi. Dia merengkuh tubuh mungil Min Ah. Gadis kecil itu menahan tangisnya di tenggorokan. Dia menggunakan jemari untuk membekap mulut, agar tidak mengeluarkan suara. Tubuhnya bergetar hebat. Seung Min mengusap punggung peri kecilnya itu agar tenang.
"Menangislah, aku tahu ini berat. Jika air mata yang keluar bisa mengurangi beban hati dan kesedihanmu, menangislah." Seung Min mengusap lembut rambut sang putri.
"Kenapa kamu menangis, Min Ah?"
Mendengar ucapan Eun Mi. Seung Min melepaskan pelukannya. Dia menatap nanar ke arah mantan kekasihnya itu. Seung Min ragu untuk mengatakan berita buruk mengenai Ye Joon sekarang atau nanti. Seung Min menghembuskan napas kasar. Bibirnya gemetar ketika hendak bicara.
"Ye Joon ... sudah pergi."
"Pergi ke mana?" Eun Mi mengerutkan dahi karena tidak mengerti dengan ucapan Seung Min.
"Ye Joon sudah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya."
Bersambung ...