My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Tuntutan Para Ayah



Suatu hari Tuan Park menemui Seung Min di kantornya. Dua lelaki beda usia itu sama-sama mengeluarkan urat leher. Mata mereka saling beradu, melemparkan tatapan tajam.


"Jika aku tidak mau? Ayah bisa apa?" Seung Min memicingkan mata sambil tersenyum miring.


"Kau akan kehilangan segalanya!" bentak Tuan Park.


"Aku tidak mau memiliki anak dari Eun Bi!" teriak Seung Min.


"Kau akan menyesal jika tidak melakukan apa yang kumau!" Tuan Park meninggalkan ruangan Seung Min sambil membanting pintu kasar.


Setelah sang ayah keluar, Seung Min menyapu isi meja dengan lengannya. Seluruh barang yang ada di atas meja, kini berserakan di lantai. Tak lama kemudian, Young Tae menghampiri Seung Min.


"Presdir, Tuan Lee meminta Anda untuk segera menemuinya," ucap Young Tae sambil menundukkan kepala.


"Kapan Beliau ingin bertemu?"


"Kata beliau sesegera mungkin, Tuan Lee juga berpesan seperti ini." Young Tae berdehem dua kali, mengambil napas panjang, kemudian menirukan ucapan Tuan Lee. "Suruh saja dia buang ponselnya, jika mengabaikan panggilanku! Dasar menantu durhaka!"


Seung Min menyipitkan mata sambil mendengus kesal, sedangkan Young Tae menunduk berulang kali sebagai permintaan maaf.


"Maaf, Presdir, saya hanya menyampaikan pesan beliau," ucap Young Tae.


"Apa Kamu sudah bosan bekerja denganku?"


"Tidak, Presdir. Sekali lagi saya tegaskan. Saya hanya menyampaikan pesan. Tidak kurang dan tidak lebih." Young Tae menunduk dan langsung setengah berlari keluar dari ruangan itu, karena takut atasannya mengamuk.


"Haduh, ada apa dengan dua pak tua hari ini!" gerutu Seung Min sambil meraih ponselnya dari dalam saku.


Ketika Seung Min menyalakan ponselnya, ada belasan panggilan tak terjawab dari sang mertua. Akhirnya, dia menelepon Tuan Lee.


"Halo, Ayah. Ada apa?"


" ... "


Telinga Seung Min hampir pecah mendengar teriakan sang mertua. Lelaki itu menjauhkan ponselnya dari telinga, kemudian berkata, "Maaf, tadi saya sedang rapat. Jadi, ponsel kumatikan."


" ... "


"Baik. Nanti malam, saya akan datang bersama Eun Bi."


Seung Min langsung mematikan sambungan telepon, lalu mengirim pesan kepada Eun Bi untuk bersiap-siap sebelum dia pulang kerja. Lelaki itu berencana langsung ke rumah ayah mertuanya setelah pekerjaan selesai.


.


.


.


Langit pekat berhiaskan bintang menemani perjalanan Eun Bi dan Seung Min. Keheningan tercipta diantara keduanya. Eun Bi menatap jalanan Seoul yang ramai lancar, sedangkan arah pandangan Seung Min tetap fokus ke depan. Mereka sama sekali tidak pernah bertegur sapa sejak Eun Bi pulang dari Miami.


Tak terasa mereka sampai di kediaman Tuan Lee. Rumah dengan air mancur di tengah taman itu terlihat mewah. Empat pilar besar menjulang tinggi di teras rumah.


Usai memarkirkan mobil di depan rumah, Seung Min keluar dari mobil, kemudian membuka pintu untuk Eun Bi. Perempuan itu hanya tersenyum kecut melihat tingkah suaminya yang sangat pandai berpura-pura di depan sang ayah.


Seung Min selalu bersikap manis terhadap Eun Bi hanya jika di hadapan sang ayah. Suaminya itu akan membukakan pintu mobil, menggandeng tangan, dan sesekali mencium pipi atau puncak kepalanya.


"Tersenyumlah," ucap Seung Min sambil mengulurkan tangannya.


Eun Bi mencoba tersenyum beberapa kali. Pipinya terasa kaku karena kepura-puraannya. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak. Perempuan itu tidak ingin membuat sang ayah kecewa, karena dialah yang merengek ingin dinikahkan dengan Seung Min.


Ketika memasuki rumah mewah itu, sosok Tuan Lee sudah menyambut mereka dengan senyum lebar. Lelaki berusia enam puluh tahunan itu merentangkan kedua tangannya. Eun Bi langsung berlari dan menghirup dalam aroma sang ayah yang ia rindukan.


"Dasar! Kamu jarang sekali berkunjung!" gerutu Tuan Lee sambil membelai rambut Eun Bi.


"Maaf, aku sangat sibuk akhir-akhir ini, Yah. Ayah, apa kabar?" Eun Bi melonggarkan pelukannya, kemudian menatap wajah sang ayah.


"Selamat malam, Ayah." Seung Min mengangguk kemudian mendekat.


Tuan Lee melepaskan pelukan, begitu juga dengan Eun Bi. Lelaki itu menghampiri menantunya kemudian menjabat tangan Seung Min.


"Ayo, makan dulu. Bibi Jang sudah menyiapkan banyak makanan untuk hari ini," ucap Tuan Lee sambil mengajak anak dan menantunya ke meja makan.


Di meja makan sudah terhidang beraneka macam makanan. Ada guksu, mi gandum dengan kaldu ikan teri. Galbi jjim, iga sapi rebus kesukaan Eun Bi. Tak lupa Bibi Jang juga memasak Dakganjeong, ayam goreng madu yang gurih dan manis.


Mereka bertiga makan dengan santai, sesekali mengobrol ringan mengenai keseharian. Usai makan malam, Eun Bi, Tuan Lee, dan Seung Min berkumpul di ruang keluarga.


Tuan Lee mulai menatap serius ke arah putri dan menantunya. Dia mengembuskan napas kasar, berusaha menghempaskan kekesalan yang ia pendam.


"Kalian ... belum ada niatan untuk memiliki anak?" tanya Tuan Lee.


Mata Seung Min dan Eun Bi sama-sama terbelalak. Mereka tak menyangka Tuan Lee menanyakan salah satu hal mustahil untuk diberikan. Eun Bi menunduk lemah, bahunya merosot.


"Kami sedang berusaha, Ayah. Semoga Tuhan segera memberikan keturunan untuk Kami." Seung Min meraih jemari Eun Bi, yang membuat perempuan itu sedikit tersentak dan menegakkan kepalanya lagi.


"Apa perlu berlibur? Aku rasa kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing," ucap Tuan Lee.


"Bu-bukan seperti itu, Ayah. Ka-kami hanya ...." Ucapan Eun Bi menggantung di udara.


"Kami hanya ingin mempersiapkan semuanya matang-matang sebelum memiliki anak," timpal Seung Min.


Tuan Lee menghirup udara, kemudian menghembuskannya kasar. Dia menyandarkan tubuh pada sofa, dan mulai kembali berbicara.


"Apa Kalian ada masalah keluarga?" terka Tuan Lee.


"Tidak!" seru Min Ah dan Seung Min bersamaan.


Tuan Lee tersenyum miring kemudian membuang muka. Dia mulai beranjak dari sofa, dan berjalan ke arah jendela. Lelaki itu memandangi bulan yang berbentuk setengah lingkaran.


"Jangan sungkan-sungkan berbagi cerita denganku. Aku ini ayah kalian."


Seung Min dan Eun Bi kini menunduk dalam. Dada mereka terasa sesak karena merasa bersalah. Tuan Lee adalah satu-satunya orang tua keduanya saat ini. Ayah terhebat bagi Eun Bi, dan juga sosok ayah kandung untuk Seung Min.


Tuan Lee memberikan curahan kasih sayang kepada Seung Min layaknya ayah kandung. Seung Min tersenyum miring mengingat perlakuan buruknya pada Eun Bi selama ini. Mungkin gelar menantu durhaka memang sangat cocok disematkan untuknya.


"Kalian pulanglah, sudah larut malam." Badan Tuan Lee berbalik, dan menatap sepasang suami istri dihadapannya.


Seung Min dan Eun Bi mulai berdiri dan berpamitan. Tuan Lee mengantar keduanya sampai ke depan rumah. Mata lelaki tua itu terus menatap mobil Seung Min sampai menghilang dari pandangan.


"Tuan, Saya sudah melakukan apa yang sudah Tuan perintahkan," ucap Bibi Jang menyusul majikannya ke teras rumah.


"Terus awasi, dan laporkan seluruh kegiatan perempuan itu. Terutama, jika Seung Min datang mengunjunginya." Tuan Lee terus berbicara tanpa berbalik badan, kedua jemarinya mengepal erat di dalam saku celana. Rahang laki-laki itu mengeras menahan gejolak amarah dalam dada.


"Baik, Tuan."


.


.


.


Bersambung ...


*Halo...


Maaf karena kemarin malam tidak update seperti biasa. Sebagai gantinya, hari ini Chika Up 2 Bab Yaa untuk menggantikan kemarin.


Sambil nunggu Chika Up, mampir yukkk ke salah satu karya Author keren kak Ingflora. Ceritanya dijamin bikin baper. Cusss bacaaa*