My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Hati Yang Bimbang



Jantung Eun Bi berdebar lebih cepat. Dia tidak tahu jawaban apa yang akan keluar dari gadis kecil di depannya itu.


"Papa ya ... sebenarnya ... Aku ingin mama tetap begini," ucap Min Ah.


Min Ah menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Mata gadis kecil itu menerawang jauh. Dalam benaknya sosok Seung Min hanyalah orang asing.


"Aku tidak peduli dengan papa, yang Aku punya hanya mama. Namun, jika bisa memilih ... Aku ingin orang lain yang menjadi papaku," ucap Min Ah.


Eun Bi hanya terdiam, dia berpikir masih ada sedikit kesempatan untuk membuat hati Seung Min berbalik padanya. Akan tetapi, masalahnya adalah Eun Mi. Jika perempuan itu masih mencintai suaminya, dia harus bagaimana?


"Udara sudah mulai dingin, masuklah," ucap Eun Bi sambil mengelus rambut panjang Min Ah.


"Itu ... boleh Aku tidur dengan Bibi?"


Min Ah menunduk sambil memainkan kakinya di atas pasir.


"Boleh, kamar Kita bersebelahan. Ayo, bibi temani sampai Kau tidur. Besok Kita harus bangun awal untuk acara geladi bersih." Eun Bi menggandeng tangan Min Ah.


.


.


.


Di Seoul, Eun Mi masih sibuk dengan usahanya untuk merintis studio mekap. Setelah mencari beberapa informasi, dia memutuskan untuk bekerja sama dengan sebuah butik yang khusus menjual dan menyewakan baju pengantin.


Eun Mi bertemu di Araru Ovene, sebuah kafe yang ada di Yeonnam. Sambil menunggu calon partnernya datang, perempuan itu menyedot Strawberry Milk Tea ditemani sepotong Sakura Tart.


Saat sedang menikmati suasana pagi dari jendela kafe, sebuah panggilan masuk. Deretan nomor ponsel yang dia hafal di luar kepala muncul di layar ponsel pintarnya. Sebuah keraguan muncul, dia ingin sekali mengabaikan telepon itu. Namun, hatinya memberontak.


"Halo ...."


" ... "


"Aku sudah ada janji dengan seseorang, maaf."


" ... "


Eun Mi mengakhiri panggilan telepon dari Seung Min. Dia tidak mau membuka celah untuk lelaki itu. Beda halnya jika saat ini Seung Min belum menikah. Namun, rasanya pasti akan sulit karena hubungan mereka sejak awal tidak mendapatkan restu dari Tuan Park.


"Nona Eun Mi?" Seorang perempuan berambut pendek menghampiri Eun Mi. Di tangannya terdapat sebuah map berwarna hijau.


"Ah, ya. Saya Kim Soo Jin pemilik butik Miracle," ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangan.


Eun Mi bangkit dari kursinya lalu bersalaman dengan Soo Jin. Kemudian, mereka duduk dan membahas rencana kerja sama. Setelah berbincang selama satu jam, akhirnya mereka sepakat untuk menjalin kerjasama.


"Baiklah, Saya akan mengirimkan draft kontrak. Setelah Anda setuju dengan semua poin, silahkan ditandatangani." Soo Jin mulai merapikan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja.


"Ya, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu," ucap Eun Mi.


"Saya permisi," pamit Soo Jin lalu membungkukkan badan.


Begitu Soo Jin pergi, Eun Mi berniat untuk segera pulang. Namun, sosok Seung Min sudah berjalan ke arahnya. Eun Mi tak bisa menghindar lagi sekarang.


"Ayo bicara," ucap Seung Min tanpa basa-basi.


"Apa yang harus dibicarakan lagi?" ucap Eun Mi sambil menatap dingin ke arah Seung Min.


"Tentang hubungan Kita, dan juga Min Ah,"


"Hubungan Kita sudah berakhir tujuh tahun lalu bukan? Jadi tidak ada yang harus dibicarakan lagi." Eun Mi meraih tasnya lalu melangkah meninggalkan Seung Min.


Melihat Eun Mi yang mengacuhkannya, tentu saja Seung Min tidak terima. Dia menahan dan menarik pergelangan tangan Eun Mi. Lelaki itu menyeretnya masuk ke mobil. Lee Young Tae yang bersiap melajukan mobil, mulai menginjak pedal gas setelah Eun Mi duduk dengan tenang.


"Seung Min, tolong hargai istrimu," ucap Eun Mi sambil menatap Seung Min.


"Aku tidak peduli padanya!"


"Teman? Sejak kapan kalian berteman?" Tatapan Seung Min selalu berhasil membuat nyali Eun Mi menciut.


Eun Mi sama sekali tidak menjawab, kini wajahnya tertunduk dalam. Seung Min menghela napas kasar, kemudian meninju jok di depannya.


"Tolong, turunkan Aku di sini," pinta Eun Mi.


"Pembicaraan Kita belum selesai." Seung Min terus menatap dingin kekasihnya itu.


Eun Mi terus menunduk sambil memilin ujung baju yang dipakai. Seung Min kehilangan kesabarannya detik itu juga. Lelaki itu meraih lengan Eun Mi kasar. Kini pandangan keduanya bertemu.


"Lihatlah Aku! Aku sedang bicara denganmu!" bentak Seung Min.


Tanpa Seung Min sadari, cengkeramannya pada lengan Eun Mi telalu kuat. Perempuan itu meringis merasakan sakit.


"Seung Min, lepaskan ... sakit," cicit Eun Mi.


"Tidak akan! Sampai Kau mau membicarakan semuanya denganku!" Seung Min terus mengeratkan cengkeramannya, seakan takut Eun Mi akan melompat dari mobil.


"Ba-baik, tolong lepaskan ... ini benar-benar menyakitkan," ucap Eun Mi sambil meringis menahan sakit pada lengan atasnya.


Perlahan jemari Seung Min terlepas dari lengan Eun Mi. Dia mengembuskan napas kasar, berusaha mengatur emosi. Setelah tenang, lelaki itu mulai buka suara.


"Jadi ... kenapa tujuh tahun lalu menghilang begitu saja?" Seung Min terus melayangkan tatapan dingin ke arah Eun Mi.


"Aku sangat bingung. Aku tidak mau nama baikmu tercoreng karena kehamilanku," ucap Eun Mi.


Matanya mulai mengembun, bibirnya sedikit bergetar menahan tangis. Tujuh tahun yang lalu adalah salah satu titik terendah dalam hidupnya. Dia tidak mau mengingat kembali kejadian itu, Eun Mi sudah bahagia dengan kehidupannya saat ini.


"Kau tahu? Aku sangat menderita setelah kepergianmu. Bahkan, ibuku juga pergi meninggalkanku. Apa Aku tidak pantas mendapat sedikit saja kasih sayang?" ucap Seung Min.


Eun Mi dapat melihat kepedihan dari sorot mata Seung Min, ketika dia mulai menatapnya. Perasaan sedih Seung Min seakan menjalar ke dalam hati perempuan itu. Hati Eun Mi tergetar dan goyah melihat keadaan Seung Min saat ini.


"Seung Min, Aku sudah nyaman dengan kehidupanku saat ini. Maaf," ucap Eun Mi sambil tertunduk lesu.


"Semudah itu, Kau melupakan cinta Kita? Kau tak tahu bagaimana menderitanya Aku selama ini!" teriak Seung Min frustrasi, matanya kini mulai memerah di balik kacamata.


"Iya! Aku tidak pernah tahu, dan tak akan mau tahu!" seru Eun Mi.


Seung Min tersenyum miring. Pandangannya kini beralih pada jalanan. Dia tak menyangka, Eun Mi telah tega mengacuhkan perasaannya. Rahang Seung Min mengeras, jemarinya mulai mengepal kuat hingga menimbulkan luka pada telapak tangan.


"Aku bersumpah akan membuatmu tergila-gila lagi padaku!" seru Seung Min.


"Lakukan saja kalau bisa!" tantang Eun Mi sambil mendekatkan mukanya ke arah Seung Min.


Seung-min memincingkan matanya, sambil mengembuskan napas secara kasar. Dia membingkai wajah mungil Eun Mi, dan mulai mendekatkan wajah tampannya.


Jantung Eun Mi berdetak begitu cepat. Tanpa dia sadari, matanya terpejam karena mengira Seung Min akan mendaratkan ciuman. Akan tetapi, mata Eun Mi terbuka lebar setelah mendengar suara tawa pecah dari bibir Seung Min.


"K-kau!" Mata Eun Mi melotot, wajahnya seakan terbakar karena malu.


"Dasar! Apa yang ada dalam otakmu yang tidak begitu bervolume itu?" Seung Min mendorong pelan dahi Eun Mi dengan jari telunjuknya.


"Ya! Seung Min!"


Bibir Eun Mi bisa saja berbohong. Namun, tidak dengan hatinya. Debaran jantung tujuh tahun lalu masih sama, saat bersama Seung Min. Dia tidak bisa memungkiri bahwa masih menyimpan rasa yang sama dengan tujuh tahun lalu.


.


.


.


Bersambung ...