My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Kembali Kehilangan



Suara sirine ambulans bertalu-talu membelah jalanan kota Seoul. Di dalamnya sudah tergolek lemas seorang perempuan yang tengah hamil besar. Eun Bi sudah tak sadarkan diri karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Eun Mi duduk di sampingnya bersama seorang perawat. Dahi perempuan itu sedang di bersihkan dari darah dan dibalut dengan kain kasa.


***


"Nyonya ... apa ada yang terasa sakit?" tanya Pak Choi.


"Tidak, hanya saja perutku terasa sedikit kencang." Eun Bi meringis menahan kram pada perutnya.


"Aku akan melajukan mobil sedikit lebih cepat, Nyonya." Pak Choi menambah kecepatan mobil dan menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya.


Dari kejauhan tampak lampu akan berubah menjadi merah. Pak Choi yang berniat menurunkan kecepatan mobil terlihat panik. Eun Bi yang menyadari hal itu langsung bertanya kepada sopirnya.


"Ada apa, Paman?" Eun Bi menaikkan alisnya.


"Se-sepertinya ada yang salah dengan mobil ini, Nyonya."


"Apa maksud Paman?"


"Kecepatan mobil tidak mau turun, Nyonya."


"Bagaimana dengan remnya?"


"Rem ... juga tidak berfungsi." Suara Pak Choi melemah.


Mata Eun Bi melebar dan bibirnya menganga. Jemari perempuan itu mencengkeram kuat pegangan di atas jendela mobil. Sedangkan Pak Choi masih berusaha mengendalikan laju mobil. Tak elak umpatan dan teriakan dari pengendara lain terdengar.


Sampai akhirnya Pak Choi melakukan tindakan ekstrim. Dia membanting setir kanan setelah menyalip sebuah mobil, yang ternyata adalah mobil Eun Mi. Dentuman keras terdengar di jalanan itu. Mobil yang dikendarai Pak Choi menumbuk beton pembatas jalan. Tidak sampai di itu. Sebuah truk tiba-tiba muncul dari belakang, dan menghantam badan mobil Eun Bi dari samping.


***


Kini Eun Bi sudah sampai di Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit. Tim medis langsung melakukan penanganan. Usai menjalani beberapa rangkaian tes, tim dokter melakukan prosedur operasi secar untuk menyelamatkan bayi yang dikandung Eun Bi.


Eun Mi menunggu di luar kamar bedah sambil mondar-mandir. Sesekali dia menggigit jari kuku karena perasaan cemas berlebih.


Tak lama kemudian, Chang Min dan Seung Min datang. Seung Min melangkah lemah dibantu oleh Chang Min.


"Bagaimana keadaan Eun Bi?" tanya Seung Min.


"Kita berdoa saja agar dia tetap kuat. Dokter sedang melakukan operasi untuk mengeluarkan putramu." Eun Mi berusaha tegar. Suaranya bergetar dengan wajah berderai air mata.


"Hyung, duduklah. Aku akan membelikan air minum agar kau lebih tenang." Chang Min mendudukkan Seung Min di atas kursi kemudian meninggalkannya bersama Eun Mi.


"Bagaimana bisa kamu di sini?" Seung Min menyandarkan tubuhnya pada dinding.


"Aku kebetulan berada di lokasi yang sama saat kejadian berlangsung. Mereka menyalip mobilku sebelum kecelakaan itu terjadi." Eun Mi mencoba menjelaskan kronologi kejadian di sela isak tangisnya yang kembali keluar.


Sebuah pikiran buruk menghantui Seung Min. Baru saja hubungannya dengan Eun Bi membaik. Namun, semuanya terasa seperti mimpi. Bayangan kematian kini sedang menghantuinya. Dia benar-benar takut hal itu terjadi.


Eun Mi mendekati tubuh mantan kekasihnya itu dan mengusap punggungnya perlahan. "Tenanglah, Seung Min. Ini bukan salah siapa-siapa. Kita doakan semoga Eun Bi dan putramu baik-baik saja."


Tak lama kemudian, Chang Min kembali. Dia membawa tiga botol air mineral. Laki-laki itu menyodorkan dua botol untuk Seung Min dan Eun Mi.


"Terima kasih," ucap Eun Mi.


Seung Min masih tidak bergeming. Sampai akhirnya Eun Mi menyenggol lengan Seung Min. Barulah dia mau menerima botol minuman itu.


Hampir dua jam mereka menunggu kabar dari tim medis. Penantian mereka berakhir ketika seorang dokter keluar dari ruang bedah. Dokter laki-laki itu menghampiri.


"Keluarga Nyonya Eun Bi?"


"Ya, Dok. Saya suaminya. Bagaimana keadaan anak dan istri saya?" Seung Min bangkit dari kursi dan menghampiri sang dokter.


"Putra Anda lahir dengan selamat. Hanya saja harus dirawat secara intensif karena masih kurang bulan. Namun ...." Sang dokter menghela napas kasar.


"Kami minta maaf, karena gagal menyelamatkan istri Anda." Sang dokter menunduk penuh penyesalan.


Tubuh Seung Min langsung goyah. Chang Min memegang erat lengan sang kakak agar tidak roboh. Tatapan mata Seung Min kosong. Untuk kedua kalinya, dia kembali kehilangan perempuan yang disayanginya. Air mata seakan terkuras habis tak tersisa.


Di sisi lain, Eun Mi terduduk lemas. Dia membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangan dan menumpahkan air mata di sana. Bayangan momen indah bersama saudarinya kembali melintas.


Sejak pertemuan pertamanya di acara penyambutan anggota Seoul Harmonic Orchestra, Eun Mi mengagumi kecantikan dan sikap Eun Bi yang tegas dan berkarisma. Eun Bi yang selalu tegar dalam menghadapi masalah. Dia yang selalu menyembunyikan tangis di hadapan orang lain. Perempuan berhati kuat yang pernah ia temui.


Deringan ponsel membuat Eun Mi kembali mendongak. Dia merogoh tas dan mengambil benda pipih itu. Nama Ye Joon muncul pada layarnya. Eun Mi menggeser layar ponselnya ke atas untuk menjawab panggilan dari Ye Joon.


Eun Mi mengabarkan berita kematian Eun Bi. Dia juga berpesan kepada Ye Joon untuk datang ke rumah ayahnya dan menyampaikan kabar duka ini secara hati-hati. Setelah menyampaikan semuanya. Dia kembali menutup sambungan telepon.


.


.


.


Bersambung ...


Halooo...


Kira-kira bagaimana ya kisah selanjutnya?


Teruss ikuti kisah LIG yaa...


Hari ini Chika mau merekomendasikan novel karya salah teman author. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak yaa...