My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Setiap Orang Memiliki Penyesalan



Eun Mi justru tertawa terbahak-bahak, ketika mendengar ucapan Seung Min. Dia mengira Seung Min hanya mengucapkan omong kosong. Sampai akhirnya, Min Ah mendekat dan memberikan pelukan. Mata Eun Mi langsung berkaca-kaca.


"Ayah sedang tidak bercanda, Ma." Suara Min Ah bergetar saat berusaha mengatakan kalimat itu.


"Dia tadi pagi baik-baik saja. Dia juga memberikanku kecupan. Di sini! Dia mencium puncak kepalaku penuh cinta! Aku bahkan bisa merasakannya!" Eun Mi mengusap puncak kepala Min Ah. Air mata mulai berdesakan keluar dan membasahi pipi Eun Mi. Min Ah ikut menangis tersedu-sedu.


Gadis kecil itu kembali teringat dengan percakapannya bersama Eun Mi beberapa hari lalu. Dia sempat berkata bahwa ingin Seung Min saja yang menjadi ayahnya. Namun, hati kecilnya merasa Ye Joon tetaplah yang terbaik. Terlepas dari sikap kasarnya saat menghajar Yesung, Ye Joon adalah laki-laki yang selalu ada untuknya.


"Ma, aku tahu ini sulit. Aku juga tidak menyangka Paman Ye Joon melakukan hal sekonyol ini. Entah apa yang mendorong ia untuk mengakhiri hidupnya," ucap Min Ah diantara isak tangisnya.


Seung Min hanya bisa menunduk melihat kesedihan menyelimuti dua orang yang ia sayangi. Sebuah penyesalan memenuhi hati Seung Min saat ini. Jika tadi pagi ia tidak mengatakan hal buruk kepada Ye Joon mungkin saja ini semua tidak akan terjadi.


Di waktu yang sama, Chang Min sedang diinterogasi oleh dua orang polisi. Lelaki itu menatap tajam ke arah dua polisi yang ada di depannya. Rahang Chang Min mengeras, bibirnya terkatup rapat enggan menjawab pertanyaan dari mereka.


"Aigoo ... tolong bersikaplah kooperatif, Tuan Muda! Kami akan bertindak jauh lebih baik jika anda mau menceritakan kronologi kejadiannya!" Seorang polisi bernama Nam Hyujin menepuk pelan pipi Chang Min.


Chang Min masih tidak mau angkat bicara. Sampai akhirnya polisi lain bernama Han Byul beranjak dari kursinya. Wanita bertubuh ramping itu memutari meja, kemudian berhenti tepat di belakang Chang Min. Tubuhnya condong ke arah lelaki itu, kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya. "Apa kekasihmu juga terlibat dalam kasus ini?"


Mata Chang Min melebar. Dia menoleh ke arah Han Byul. Dia menyipitkan mata dan dadanya naik turun karena berusaha menahan amarah.


"Dia tidak ada hubungannya dengan kasus ini!" seru Chang Min.


"Ah, benarkan? Lalu ...." Han Byul berjalan ke arah laptopnya yang masih menyala.


"Siapa dia?" Han Byul memutar laptop sehingga Chang Min dapat melihat dengan jelas layar laptop di depannya. Perangkat canggih itu sedang memutar sebuah rekaman CCTV. Di dalam layar itu, tampak seorang wanita muda memasuki kamar perawatan Nyonya Park. Setelah tiga puluh menit berada dalam ruangan itu, dia keluar dan membuka masker. Walaupun samar, pihak kepolisian yang melakukan penyelidikan yakin bahwa ia adalah Choi Inha.


"Kami sedang menghubungi Direktur Rumah Sakit untuk dimintai keterangan. Sungguh romantis sekali! Sepasang kekasih bekerja sama untuk melakukan sebuah kejahatan! Tindakan kalian mengingatkanku pada pasangan psikopat terkenal di dunia!"


Chang Min masih tidak mau membuka mulutnya. Jemari lelaki itu mengepal erat di bawah meja. Urat lehernya juga dapat terlihat dengan jelas.


"Mereka berdua adalah pasangan psikopat yang membunuh para korban tanpa belas kasihan. Apa kalian juga pasangan seperti itu?" Han Byul tersenyum miring.


"Aku dan Inha bukan orang seperti mereka!" teriak Chang Min.


"Benarkah? Jadi atas dasar apa kamu dan Inha membunuh Nyonya Park!" Han Byul meninggikan suaranya sambil menggebrak meja di depannya. Chang Min kini mendongak dan menatap tajam ke arah polisi cantik itu.


"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya memiliki ibu tiri! Kamu tidak akan pernah tahu, bagaimana perlakuannya kepadaku saat aku masih kecil! Dia selalu membuatku tertekan ketika ibu dan ayah sedang bekerja." Chang Min menyipitkan mata. Dia kembali teringat hari-hari buruknya di masa lalu.


"Dia sudah merusak kebahagiaan ibu dan ayahku! Mereka berdua awalnya sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun, ketika dia dijodohkan dengan ayah, dengan mudahnya ia terima. Aku hanya ingin melihatnya merasakan apa yang pernah ibuku rasakan. Jadi, aku membuat Seung Min tidak bersatu dengan Eun Mi!"


"Lalu atas dasar apa kamu membunuhnya siang itu?"


"Dia ikut menentang rencanaku secara tidak langsung! Perempuan sialan itu memberi restu kepada Seung Min untuk tetap bersama Eun Mi! Jadi aku melenyapkannya! Agar Seung Min tidak memiliki dukungan dari siapapun!"


Tiba-tiba sebuah tawa keluar dari bibir Chang Min. Bahunya bergetar hebat karena tawa yang pecah, Han Byul sampai dibuat merinding saat melihat ekspresi lelaki itu. Seakan-akan dia sedang melihat serial drama bertema psikopat secara langsung. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun di mata Chang Min. Lelaki itu terus menceritakan setiap detail perbuatannya untuk menghilangkan nyawa sang ibu tiri.


***


Hari berganti begitu cepat, tujuh hari sudah Ye Joon pergi meninggalkan orang-orang yang ia sayangi. Ye Jin terduduk lesu di depan piano dalam kamar Ye Joon. Kenangan manis bersama sang kakak kembali melintas. Dia tidak menyangka hari itu adalah hari terakhir sang kakak bernapas.


"Jika hari itu aku berusaha lebih keras lagi untuk menerobos masuk ke kamarmu ... pasti hari ini oppa masih duduk di si untuk memainkan lagu kesukaanku."


Tetesan air mata perlahan turun dan membasahi pipi Ye Jin. Dia mengusap deretan tuts piano yang ada di depannya. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia ingin sekali mencegah sang kakak balas dendam kepada Seung Min. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalannya tidak akan mengubah apapun.


Bersambung ...