
Aku menuliskan semua ini sambil bercucuran air mata. Kisah perjalanan cintaku yang sangat panjang dan berakhir menyedihkan. Semua cinta yang aku curahkan untuk tiga orang laki-laki di waktu yang berbeda, semuanya berakhir dengan kegagalan.
Cinta pertamaku, Yesung. Dia adalah laki-laki pertama yang aku cintai, sekaligus orang pertama yang mengukir luka dalam hatiku. Yesung adalah idola banyak siswi di sekolahku. Ketua dari tim basket sekolah itu memiliki tubuh yang atletis. Kalian akan merasa aman ketika berada dalam dekapannya.
Aku bertemu pertama kali dengan Yesung saat kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Mungkin pepatah 'Cinta Berawal Karena Terbiasa' sangat tepat untuk menggambarkan awal perjalanan cinta pertamaku dengan Yesung.
***
"Lee Eun Mi!" Seorang guru perempuan dengan kacamata menggantung di hidung, sedang mengabsen murid-muridnya.
"Ya!" Eun Mi mengangkat lengannya agar sang guru melihat kehadirannya.
"Astaga! Kenapa absensimu jelek sekali akhir-akhir ini?"
"Ah, itu ... aku harus menemani ibuku di rumah sakit, Bu." Eun Mi tersenyum kecut ketika menjawab pertanyaan sang guru.
"Baiklah, semoga cepat sembuh. Kamu juga jagalah kesehatan!" Guru Eun Mi tersenyum, kemudian kembali mengabsen nama-nama anak didiknya di kelas itu.
Tak lama kemudian, Kepala Sekolah mengetuk pintu kelas. Beliau masuk ke kelas, menghampiri wali kelas Eun Mi, dan membisikkan sesuatu kepadanya. Guru perempuan itu mengangguk tanda mengerti, kemudian Pak Kepala Sekolah keluar dari ruang kelas.
"Ayo, perhatikan sebentar!" Ibu Han mengetuk meja di depannya menggunakan tongkat yang biasa ia gunakan saat mengajar.
Ruang kelas yang awalnya gaduh, mendadak senyap. Ibu Han kembali berbicara di depan kelas.
"Hari ini, kalian kedatangan murid baru. Ayo Jisung, masuklah!"
Seorang perempuan cantik memasuki ruang kelas. Suasana kelas kembali gaduh karena siulan murid laki-laki yang saling bersahutan. Gadis itu terlihat cantik dengan rambut hitam yang digerai. Puncak kepalanya dihiasi oleh pita cantik berwana maerah muda.
"Perkenalkan, namaku Han Jisung. Senang bertemu kalian!" Jisung membungkukkan badan, diikuti oleh tepuk tangan meriah seisi kelas.
Ibu Han meminta Jisung untuk duduk di bangku kosong yang ada di belakang Eun Mi. Gadis cantik itu melangkah ragu. Sesekali kakinya tersandung karena tali sepatu yang tidak diikat dengan baik.
Eun Mi langsung menoleh ke belakang dan mengajaknya berkenalan, setelah gadis itu mendaratkan bokongnya di atas kursi. Uluran tangan Eun Mi disambut oleh Jisung. Sejak hari itu, Eun Mi dan Jisung berteman baik.
Teman lain menghinndari Jisung karena merasa gadis cantik itu terlihat sedikit aneh. Beredar desas-desus konyol, yang mengatakan bahwa Jisung adalah seorang vampir karena wajahnya terlihat pucat. Gadis itu juga selalu menghindari cahaya matahari.
Suatu hari, Saat eun Mi mengantar ibunya menjalani kemoterapi, dia bertemu dengan Jisung di rumah sakit. Gadis cantik itu bersama dengan seorang lai-laki tampan bertubuh tegap. Sambil menunggu ibunya menjalani perawatan, Eun Mi menyapa Jisung.
"Hai, Jisung!" seru Eun Mi.
"Ah, halo Eun Mi!" Jisung tersenyum lebar kemudian mendekati Eun Mi.
"Perkenalkan, dia Yesung. Kakak laki-laki yang sering aku ceritakan." Jisung menoleh ke arah Yesung sekilas, kemudian kembali menatap Eun Mi. Eun Mi mengangguk sopan sambil tersenyum. Begitu juga dengan Yesung.
"Dia menderita albinisme sejak lahir." Yesung tiba-tiba buka suara, Eun Mi sontak menatap lelaki di sampingnya kemudian menautkan alisnya.
"Kamu pernah mendengarnya belum?" Yesung tersenyum kecut kemudian menatap balik mata Eun Mi. Eun Mi hanya menggeleng perlahan.
"Kadar melanin dalam tubuhnya berkurang. Kamu bisa melihatnya bukan? Jisung memiliki kulit pucat. Warna rambut aslinya tidak hitam, melainkan putih keemasan. Mata adikku juga berwarna merah muda. Dia menggunakan lensa mata buatan untuk membantu penglihatan."
Eun Mi mencoba memahami setiap penjelasan yang Yesung berikan. Dia mulai mengerti kenapa Jisung terlihat sangat menderita ketika berada di luar ruangan.
"Kata dokter, ia mulai menunjukkan gejala kanker kulit."
Jantung Eun Mi seakan berhenti berdetak, ketika bibir Yesung menyebutkan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Eun Mi hanya menjadi pendengar yang baik untuk Yesung. Sejak hari itu, mereka berdua sering bertemu saat sama-sama mengantar ibu dan adik mereka melakukan kemoterapi.
Kebiasaan itu membuat hati keduanya ditumbuhi benih-benih cinta. Yesung dan Eun Mi menjalin hubungan yang dinamakan pacaran. Perjalanan cinta mereka baik-baik saja sampai akhirnya Eun Mi mengetahui sebuah kenyataan pahit.
Siang itu, langit terlihat sedikit gelap. Udara dingin di penghujung bulan November menyelimuti Kota Seoul. Eun Mi berjalan santai sepanjang koridor rumah sakit, untuk menejenguk Jisung. Kondisi teman sekelasnya itu semakin memburuk. Sebagai sahabat sekaligus calon kakak ipar yang baik, tentu saja Eun Mi merasa bertanggungjawab untuk terus memberikan dukungan dan semangat untuknya.
Eun Mi membawa satu buket Bunga Aster berwarna ungu dalam dekapannya. Selain itu, dia juga menjinjing tas berisikan beberapa novel kesukaan Jisung. Sebuah senyum penuh harapan terukir di bibir Eun Mi. Akan tetapi, senyum cantiknya sirna karena mendengar hal menyakitkan dari bibir Yesung.
Yesung sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Senyum manis lelaki itu terlihat memikat seperti biasanya. Niat Eun Mi untuk menyapa kekasihnya tiba-tiba menguap ke udara.
"Eun Mi? Aigoo ... gadis cupu itu? Jika bukan demi adikku, aku tidak akan mau berpacaran dengannya! Cara berciman saja dia tidak tahu! Mana bisa aku bersenang-senang dengan gadis sepertinya! Aku akan segera memutuskan dia setelah Jisung sembuh!" Yesung terkekeh ketika menceritakan semua hal buruk mengenai Eun Mi.
Dada Eun Mi terasa sesak, seakan dipenuhi oleh air hingga tenggorokan. Air mata gadis itu mulai bercucuran membasahi pipi. Dia ingin sekali berteriak detik itu juga. Namun, dia masih berusaha untuk tetap kuat. Eun Mi menghapus air matanya, dan terus melangkah mendekati Yesung.
Setelah menyelesaikan panggilannya, Yesung balik badan. Mata lelaki itu seketika terbelalak karena mendapati Eun Mi sudah berdiri di belakangnya. Eun Mi mati-matian menahan tangis. Sebuah senyum kecut menghiasi bibir mungilnya.
"Aku titip untuk Jisung." Eun Mi menyerahkan buket bunga dan tas yang ia bawa.
"Tolong beritahu dia, aku hari ini tidak bisa datang. Tapi, besok atau lusa aku akan menemuinya. Oya, Oppa tidak perlu menunggu Ji-Sung sembuh untuk mengakhiri hubungan kita. Hari ini aku yang akan memutuskanmu! Oppa, sebaiknya kita harus putus! Karena aku tidak tahu cara berciuman, dan bersenang-senang denganmu. Aku harap Oppa tidak menyesal karena telah mengenalku!" Eun Mi balik kanan, kemudian berjalan gontai menyusuri lorong sunyi rumah sakit. Yesung tak bisa berkutik. Dia hanya mematung sambil menatap punggung Eun Mi yang semakin menjauh.
Hati Eun Mi nyeri bukan main. Dia berharap Yesung mencegahnya pergi dan meminta maaf kepadanya. Akan tetapi, itu seperti menunggu matahari terbit dari barat. Eun Mi membawa kepingan hatinya yang hancur dan berusaha menyatukan semuanya dengan bantuan sang waktu.
***
Aku tahu setiap momen menyakitkan, akan membuat kita menjadi jauh lebih kuat. Dihina oleh cinta pertama, berpisah dengan ayah dari anakku karena status sosial, dan harus menelan pahitnya kenyataan, karena hatiku kembali patah saat ditinggalkan selamanya, oleh orang yang aku cintai.
Aku sudah tidak ingin berharap lebih banyak lagi untuk menjalin hubungan spesial dengan makhluk bernama laki-laki. Di sisa umurku ini, aku ingin menjadi ibu yang terbaik bagi Min Ah. Itu saja, tidak lebih.
Seoul, 20 Desember 2032.