My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Kehidupan Baru



Satu bulan berlalu sejak meninggalnya Eun Bi. Seung Min sudah lebih kuat sekarang. Dia pindah rumah karena tidak sanggup hidup dalam bayang-bayang kenangan bersama Eun Bi. Sangat singkat, tapi penuh makna.


Seung Min menuruni anak tangga. Pagi itu ia disuguhi pemandangan yang menyenangkan. Eun Mi dan Min Ah sedang mengajak bayi tampannya berjemur.


Tuan Lee juga mengamati ketiganya sambil memberi makan ikan di kolam. Bibi Jang tersenyum di belakang keempatnya. Menyadari kehadiran Seung Min, Bibi Jang menunduk.


"Selamat pagi, Tuan Muda."


Seung Min menunduk pelan sambil tersenyum, kemudian ikut bergabung bersama mereka. Tuan Lee meminta Seung Min untuk duduk di sampingnya.


"Bagaimana perusahaan?"


"Semuanya kembali berjalan normal, Yah."


"Sudah menemukan hacker yang membuat sistem rating kacau?" Tuan Lee menoleh ke arah Seung Min.


"Belum. Sistem yang ia bangun sangat kuat. Menurut Young Tae, dia adalah hacker yang sama saat skandalku dan Eun Mi tersebar." Seung Min tersenyum kecut.


"Apa kau pernah menyinggung seseorang di masa lalu?"


Alis Seung Min saling bertautan. Dia sedikit bingung dengan perkataan sang ayah mertua. Tuan Lee tersenyum datar.


"Tapi ... tidak bisa dipungkiri. Terkadang tanpa sadar kita menyakiti hati seseorang." Tuan Lee kembali menatap putri dan kedua cucunya.


Di sisi lain, Eun Mi yang sedang menggendong Yohan, meminta Min Ah untuk segera bersiap ke sekolah. Namun, gadis kecil itu malah merajuk. Dia masih ingin bermain dengan adik bayinya.


"Ma, sebenarnya aku sangat bingung sekarang ini," ucap Min Ah.


"Bingung karena apa?"


"Aku memanggil Yohan, dengan sebutan kakak atau adik ya?" Min Ah mengusap dagu perlahan.


"Eh?" Eun Mi memiringkan kepala.


"Begini ... Mama adalah adik dari Bibi Eun Bi. Seharusnya aku memanggil dia Oppa bukan? Tapi ... Yohan merupakan anak kedua Paman Seung Min, yang artinya adalah adikku. Jadi, sebaiknya aku memanggil Yohan kakak atau adik?"


Otak Eun Mi seakan beku. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak bisa dipungkiri bahwa hubungan mereka sangatlah rumit. Ketika sedang melongo kebingungan, Seung Min mendekat. Dia mengusap lembut puncak kepala Min Ah.


"Kalian saling panggil nama saja, supaya lebih akrab!" Seung Min tersenyum lembut.


"Sepertinya bukan ide yang buruk!" Mi Ah tersenyum lebar kemudian beranjak dari bangku taman. Gadis kecil itu segera bergegas menuju kamarnya.


Sebuah senyum terbit di bibir Eun Mi. Yohan yang sudah tertidur pulas diambil alih oleh Bibi Jang. Dia membawa bayi mungil itu ke dalam.


Di taman yang dipenuhi tumbuhan hijau itu, kini hanya ada tiga orang. Seung Min, Eun Mi, dan Tuan Lee. Kaki Tuan Lee mulai melangkah mendekati Seung Min dan Eun Mi. Dia duduk di atas bangku yang sama degan Eun Mi.


"Apa tidak sebaiknya kalian menikah saja?" Tuan Lee menatap Seung Min dan Eun Mi secara bergantian.


"Ayah ...." Eun Mi menunduk.


"Maaf, Yah. Kami memang pernah memiliki hubungan dan perasaan spesial. Tapi itu masa lalu. Sekarang kami sama-sama memiliki cinta yang lain." Seung Min menatap sang mertua dengan tatapan serius.


"Baiklah. Aku tidak mau memaksa kalian. Jalani saja seperti ini. Namun, aku sangat berharap kalian mempertimbangkan ucapanku." Tuan Lee beranjak dari kursi kemudian pergi meninggalkan keduanya.


Setelah sosok Tuan Lee tak terlihat, Eun Mi menghela napas kasar. Dia menoleh ke arah Seung Min sambil berkata, "Abaikan saja ucapan ayah. Aku bersiap dulu untuk mengantar Min Ah sekolah."


.


.


.


"Senang sekali, Nona," goda Eun Mi.


"Ish, Mama mengganggu saja!" Min Ah mengerucutkan bibir dengan mata yang masih fokus menatap ponsel.


"Mama mengganggu? Jika iya, silahkan jalan kaki ke sekolah ya!" Eun Mi menepikan mobil.


Menyadari mobil sang ibu mulai berada di pinggir trotoar, Min Ah meletakkan kembali ponselnya. Dia berteriak berharap Eun Mi menghentikan niatnya untuk menurunkan Min Ah di tengah jalan.


"STOP! Apa yang Mama lakukan?"


"Apa!" Eun Mi sedikit mendongakkan kepala dan berbicara sambil memanyunkan bibir.


"Aku tidak mau diturunkan di tengah jalan! Antar aku sampai ke sekolahan," teriak Min Ah.


"Pikiranmu buruk sekali Anak Muda!" Kepala Eun Mi mendongak. Tatapannya menuju sebuah gedung berlantai lima, yang tidak lain adalah sekolahan Min Ah.


Min Ah mengikuti arah pandangan sang ibu, kemudian terkekeh. "Hehe ... sejak kapan kita sampai, Ma?"


"Dasar! Makanya, jangan pacaran terus! Kecil-kecil pacaran!" goda Eun Mi.


"A-aku tidak pacaran!" kilah Min Ah sambil bersungut-sungut.


"Aigoo ... benar-benar ya!" Eun Mi berdecak keheranan sambil menggelengkan kepala.


Min Ah hanya tersenyum konyol kemudian segera mencium pipi ibunya, dan langsung keluar mobil. "Dah ... aku mencintaimu, Ma!"


Eun Mi hanya tersenyum simpul melihat tingkah putrinya. Setelah Min Ah masuk ke gedung sekolah, Eun Mi langsung tancap gas. Perempuan itu membelah jalanan secepat yang ia bisa untuk menemui kekasihnya, Ye Joon.


Ketika sampai di sebuah kafe tempat mereka janjian, Eun Mi dibuat terkejut karena dari kejauhan terlihat Ye Joon sedang bersama seorang perempuan. Melihatnya bersama wanita lain, membuat hati Eun Mi terasa nyeri. Sesaat ia ragu untuk terus melangkah semakin dalam ke sana. Namun, dia harus tetap maju agar tidak terjadi salah paham untuk kedepannya.


Saat sudah sampai di meja tempat Ye Joon berada, Eun Mi menguatkan hati untuk tersenyum. Dia menyapa kekasihnya dengan berat hati.


"Ye Joon ...."


Melihat kedatangan Eun Mi yang jauh lebih cepat dari perkiraannya, membuat Ye Joon langsung bangkit dari kursi. Begitu juga dengan gadis di depannya.


"Eun Mi!"


.


.


.


Bersambung...


Assalamualaikum...


Hari ini Chika mau kasih temen-temen rekomendasi novel karya kak Irma Kirana.... Jangan lupa mampir, yaaa