
"Kemana perjalanan SHO selanjutnya?" tanya Seung Min tiba-tiba.
Min Ah memutar bola mata karena tidak suka dengan ayah kandungnya yang sok akrab. Eun Mi menyikut lengan putrinya, berharap sikap Min Ah sedikit sopan.
"Masih di sekitar Seoul ... Paman," ucap Min Ah malas.
Mendengar sebutan 'Paman' yang keluar dari bibir Min Ah, membuat hati Seung Min nyeri. Namun, dia tidak bisa berharap banyak. Seung Min sadar diri karena tidak pernah mendampingi tumbuh kembang putrinya.
"Ini pesanannya ...." Bibi Han, si pemilik kedai membawa tiga mangkuk tteokbokki.
Mata Min Ah langsung berkilat ketika jajanan favoritnya terhidang di atas meja. Makanan yang terbuat dari tepung beras itu selalu berhasil membuat perasaan Min Ah membaik. Mata Min Ah melebar ketika kue beras itu masuk ke dalam mulutnya. Rasa gurih adonan kue beras semakin nikmat karena dimasak bersama saus gochujang yang pedas manis.
Ketika kue beras Min Ah tinggal sedikit, dia melirik mangkuk Seung Min yang masih belum berkurang. Gadis kecil itu baru menyadari kalau kedai Bibi Han menyediakan tteokbokki keju.
Min Ah berdehem tiga kali, kemudian berkata, "Apa Paman tidak suka keju? Atau tidak suka tteokbokki? Atau suka tteokbokki tapi tidak suka keju?"
Seung Min yang mendengar serangan pertanyaan dari Min Ah hanya melongo. Lelaki itu tidak bisa berkata apa pun. Sesekali Seung Min melirik Eun Mi yang tengah menyembunyikan senyum geli di balik jemari lentiknya.
"Ah ... i-itu ...." Otak Seung Min seakan beku, dia kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan putrinya.
"Sepertinya Paman tidak suka, baiklah ... akan kuhabiskan!" Min Ah mulai menarik mangkuk milik sang ayah.
Melihat kue berasnya hendak direbut, Seung Min menahan mangkuknya. Sejujurnya dia juga pecinta berat tteokbokki seperti Min Ah. Namun, hari itu Seung tidak berselera karena sikap Min Ah yang dingin terhadapnya.
"Jangan! Ini punyaku!" teriak Seung Min sambil terus mempertahan mangkuknya.
"Tapi kenapa tidak dimakan?" Min Ah menyipitkan mata dan enggan melepaskan benda cekung itu.
"Karena nafsu makanku tiba-tiba menghilang!"
"Ah, berarti kue beras ini, aku saja yang makan!" seru Min Ah.
"Tidak boleh! Sekarang nafsu makanku sudah kembali! Bahkan aku bisa menghabiskannya sekali telan!" teriak Seung Min.
Eun Mi yang menyaksikan pertengkaran sang putri dan kekasihnya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Namun, dia segera melerai mereka ketika Min Ah mulai berbicara dengan nada tinggi.
"Aku benci, Paman!" teriak Min Ah sambil menggebrak meja, dadanya naik turun, dan dia melipat kedua lengannya ke depan dada.
"Min Ah, hentikan. Kamu menjadi pusat perhatian orang," ucap Eun Mi sambil menyapukan pandangan ke setiap sudut kedai.
Seung Min kembali terdiam. Tanpa sadar, dia telah menyulut api dalam hati Min Ah. Lelaki itu mulai merutuki dirinya sendiri.
"Maaf ... karena sikapku yang kekanakan." Seung Min menunduk sambil meremas celana katunnya.
Suasana tiba-tiba hening. Seung Min yang merasa tidak dianggap akhirnya memutuskan untuk pergi.
"Aku pulang, nanti sopirku akan mengantarkan Kalian pulang." Seung Min mulai beranjak dari kursi, dan berjalan gontai menuju pintu keluar.
Sebenarnya Eun Mi ingin sekali menghentikan langkah lelaki itu. Namun, dia masih berharap Min Ah yang melakukannya. Perempuan itu tahu, bahwa Seung Min sedang berusaha mengambil hati putrinya. Sampai Seung Min menghilang di balik pintu, Min Ah tetap tak bergeming.
Tak lama kemudian, Bibi Han datang menghampiri mereka. Beliau menarik kursi kemudian duduk bersama keduanya. Eun Mi dan Min Ah terkesiap karena kehadiran perempuan paruh baya itu. Bibi Han tersenyum lembut kemudian bertopang dagu di atas meja.
"Namanya Park Seung Min. Dia salah satu pelanggan setia kedai Kami." Bibi Nam kini menyandarkan tubuhnya pada bangku dan kembali melanjutkan ucapannya.
"Sejak kecil, Seung Min selalu ke sini. Dia pertama kali ke sini ketika berusia sama tujuh tahun."
"Sepertiku?" tanya Min Ah.
"Apa usiamu saat ini juga tujuh tahun?"
Min Ah mengangguk antusias. Mata gadis kecil itu mulai melebar, ia memasang pendengaran baik-baik, dan mencondongkan badannya ke arah meja.
"Aigoo ... matamu benar-benar mirip dengannya!" Bibi Han mencubit gemas pipi Min Ah.
"Bisa ceritakan lagi tentang Paman Park?"
"Jadi dulu ...."
***
Dia adalah Park Seung Min saat berumur tujuh tahun. Saat itu Seung Min sedang jongkok di depan kedai Bibi Han. Dia memakai baju yang terlihat kotor karena cipratan air hujan yang menggenang.
"Ayo, masuk!" ucap Bibi Han sambil menggiring Seung Min masuk ke dalam kedai.
Seung Min kecil mengikutinya dengan patuh. Bibi Han memintanya duduk di sebuah bangku dekat jendela, kemudian masuk ke dapur. Tak lama kemudian, Beliau kembali dengan semangkuk kecil kue beras saus gochujang.
"Bibi hanya punya ini," ucap Bibi Han.
Seung Min hanya melirik mangkuk itu. Bibi Han mulai duduk di depan Seung Min kecil. Dia mengambil sumpit, kemudian menyodorkan sepotong tteokbokki ke arah mulut Seung Min. Bocah kecil itu hanya terdiam, bahkan mulutnya terkatup rapat.
"Ayo, makanlah. Bibi tahu, perasaanmu sedang tidak baik. Semangkuk kue beras akan membuat perasaanmu jauh lebih nyaman. Ayo, buka mulutmu .... Aaaaa." Bibir Bibi Han terbuka lebar, berharap Seung Min mengikuti gerakan bibirnya.
Usaha Bibi Han berhasil. Seung Min perlahan membuka mulutnya dan menyambar kue beras itu. Dia mengunyah kue beras itu pelan-pelan. Mata Seung Min mulai melebar. Bibi Han tersenyum melihat ekspresi Seung Min.
"Bagaimana? Enak?" tanya Bibi Han.
Seung Min mengangguk cepat, kemudian menyambar sumpit dari jemari Bibi Han. Dia mulai menyuapkan kue beras ke dalam mulut. Dalam waktu sepuluh menit, jajanan pedas manis itu berpindah ke dalam perut Seung Min.
"Terima kasih, Bibi."
"Iya, sama-sama."
"Siapa namamu?" tanya Bibi Han sambil mengacak-acak rambut tebal Seung Min.
"Park Seung Min."
"Apa Kamu mengalami masalah?"
Seung Min kecil menunduk, kemudian meremas celananya. Dia enggan menceritakan masalah keluarganya kepada orang lain. Namun, entah mengapa dia ingin menceritakan semuanya kepada Bibi Han.
"Aku pergi dari rumah," ucap Seung Min sambil terus menunduk.
"Kenapa?" Bibi Han memiringkan kepala berharap bisa melihat ekspresi Seung Min.
"Ayah jahat padaku dan ibu."
"Jahat?"
Seung Min mendongak, matanya mulai berkaca-kaca, dan bahu bocah itu bergetar hebat. Dia mulai menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hari itu.
"Ayah membelikan rumah baru untukku dan ibu."
"Bukankah itu adalah hal yang baik? Kenapa Kamu menyebut ayahmu jahat?" Bibi Han mengernyitkan dahinya.
"Kami pindah ke rumah baru, tetapi ayah membawa perempuan lain ke rumah lama Kami!" teriak Seung Min sambil menumpahkan air matanya.
Melihat tangisan bocah itu, dada Bibi Han seakan diremas. Air matanya mulai tumpah, perempuan itu langsung memeluk tubuh mungil Seung Min, dan mengusap punggungnya lembut.
***
"Sejak hari itu, Seung Min sering ke sini untuk sekedar bercerita mengenai hari-harinya."
Bibi Han mengakhiri ceritanya dengan seulas senyum. Hati Min Ah mulai tersentuh usai mendengar cerita Bibi Han. Tiba-tiba gadis kecil itu beranjak dari kursi, dan berlari keluar kedai.
"Ya! Min Ah!" teriak Eun Mi.
"Saya permisi, Bi. Terima kasih makanannya." Eun Mi membungkukkan badan, kemudian segera berlari menyusul putri kecilnya.
.
.
.
Bersambung ...