
“Eun Mi, apa, Kamu baik-baik saja?” Suara Eun Bi seketika menyadarkan Eun Mi.
Tangan Eun Mi gemetar. Dia mencoba mengangkat lengannya sekuat tenaga, untuk menunjuk ke arah bingkai yang menempel di dinding.
"Di-dia ... su-suamimu?” tanya Eun Mi dengan suara sedikit bergetar.
Eun Bi menatap Eun Mi penuh kekhawatiran, kemudian mendekatinya. “Iya, dia Park Seung Min. Suamiku. A-apa Kau sakit, Eun Mi?”
“Ma-maaf Eun Bi, A-aku harus segera pulang. Min Ah, ayo kita pulang!" Eun Mi menarik lengan Min Ah sedikit kasar.
"Mama, sakit,” rengek Min Ah.
Saat hendak mencapai pintu, tiba-tiba benda itu terbuka lebar. Sosok tegap dengan bahu kokoh perlahan memasuki ruang tamu. Seung Min begitu terkejut mendapati kekasihnya berada di rumah itu. Badan Eun Mi mematung, tidak bisa bergerak. Tatapan matanya dan Seung Min saling bertemu. Dia bisa merasakan sorot mata penuh cinta itu. Perasaan yang pergi entah ke mana itu datang lagi. Ingin sekali rasanya dia menghambur ke pelukan Seung Min. Namun, syaraf motorik Eun Mi masih bisa dikendalikan. Dia mengumpulkan kekuatan untuk menerobos tubuh Seung Min dan keluar dari rumah itu.
"A-aku permisi, Tuan,” ucap Eun Mi sambil melewati Seung Min begitu saja, tetapi lelaki itu angkat suara.
"Tunggu!” Seung Min berbalik menatap punggung Eun Mi. “Sepertinya hujan akan turun, tidak baik melakukan perjalanan saat cuaca buruk. Singgahlah sebentar di rumah Kami," Seung Min.
Eun Mi berusaha menahan air matanya agar tidak meleleh. Setelah merasa kuat, dia menatap ke arah Seung Min dan Eun Bi. Eun Mi bisa melihat dengan jelas, kini mata Seung Min mulai memerah dan basah.
“Ba-baik, Saya dan Min Ah akan singgah sebentar sampai cuaca kembali normal.”
Eun Bi menggandeng tangan Min Ah dan berjalan lebih dulu. Sedangkan Seung Min dan Eun Mi mengekor di belakang mereka. Berulang kali Eun Mi menangkap basah Seung Min yang tersenyum tipis ketika melirik ke arahnya.
“Apa mungkin karena Aku? Sampai saat ini Eun Bi tidak mendapatkan cinta dari Seung Min?” batin Eun Mi.
Mereka akhirnya mengobrol ringan sampai matahari tenggelam. Jam menunjukkan pukul delapan malam, saat Min Ah merengek minta pulang.
"Ma, ayo pulang!” rengek Min Ah.
“Baik, ayo. Pamit dulu sama Bibi Eun Bi,” ucap Eun Mi.
"Bibi, Aku pulang dulu ya?” pamit Min Ah sambil memeluk tubuh ramping Eun Bi.
“Bibi akan pesankan taksi untuk kalian,” ucap Eun Bi.
"Tidak usah! Biar Aku yang mengantar mereka, sekalian bertemu seorang teman lama,” sergah Seung Min. Lelaki tampan itu sudah berganti pakaian. Kini ia memakai kaos hitam polos dan celana jeans.
"Ti-tidak usah, Tuan Park. Nanti kami merepotkan Anda,” tolak Eun Mi halus.
“Aku juga tidak akan mau mengantar jika tidak ingin bertemu teman lama,” ucap Seung Min dingin.
"Iya, tidak apa, Eun Mi. Benar-benar momen langka, loh. Seung Min menawarkan tumpangan.” Eun Bi tersenyum lembut.
“Baiklah, Aku pulang dulu Eun Bi,” pamit Eun Mi.
Setelah memberikan pelukan perpisahan, akhirnya Eun Mi dan Min Ah masuk ke dalam mobil Seung Min. Di dalam mobil, suasana terasa begitu canggung. Min Ah sudah terlelap sejak awal perjalanan, sedangkan Eun Mi bingung harus membicarakan apa. Jadi, dia memilih untuk diam.
"Apa kabar?” tanya Seung Min berusaha memecah keheningan.
“Ba-baik, Kamu apa kabar, Presdir?”
“Tidak pernah baik sejak Kamu tiba-tiba menghilang,” ucap Seung Min sambil tersenyum pahit.
“Maaf, tapi Aku tidak memiliki alasan lain.” Eun Mi menunduk, dia yakin obrolannya kali ini akan berbuntut panjang.
“Kenapa Kamu menyembunyikan Min Ah dariku?” Rahang Seung Min mengeras, matanya tetap fokus pada jalanan.
"I-itu ... aku ....“ Eun Mi memilin ujung blus yang dipakainya.
Seung Min paham betul jika saat ini Eun Mi masih terkejut karena pertemuan mereka. Akhirnya, dia memilih untuk berhenti mencecar Eun Mi.
“Rumahmu sebelah mana?” tanya Seung Min, ketika memasuki kompleks perumahan elite.
Seung Min menepikan mobil lalu mematikan mesinnya, kemudian menggendong putri kecilnya. Sedangkan Eun Mi membuka pintu pagar. Saat hendak masuk, sebuah tatapan permusuhan terpancar dari sorot mata Ye Joon. Eun Mi lupa bahwa hari ini Min Ah ada jadwal les privat dengan pria itu.
"Ye Joo , ma-maaf ... A-aku ...,” ucap Eun Mi gugup.
"Kau masuklah dulu, Aku akan menggendong Min Ah masuk.” Ye Joon tetap memandang tajam ke arah Seung Min.
“Tapi ...,” protes Eun Mi.
Mendengar ucapan Eun Mi, tatapan Ye Joon beralih padanya. Akhirnya, Eun Mi masuk dengan patuh, sedangkan dua lelaki di luar pagar saling melemparkan tatapan tajam, seperti ingin membuktikan siapakah lelaki terkuat abad ini.
"Siapa Kamu?” tanya Seung Min dingin.
“Tidak penting siapa Aku, kemarikan Min Ah!” Ye Joon berusaha meraih tubuh Min Ah.
“Dia putriku!” seru Seung Min sembari mendekap erat Min Ah.
“Putrimu? Asal Kau tahu, Min Ah tidak pernah menganggapmu ada!” Ye Joon merebut tubuh Min Ah, kemudian masuk ke rumah menyusul Eun Mi.
Tatapan penuh amarah jelas terpancar di mata Seung Min. Dia bertekad untuk membawa dua cinta pertamanya itu kembali ke dalam pelukannya. Bagaimanapun caranya.
.
.
.
Setelah kembali ke rumah, Eun Bi mencecar Seung Min dengan banyak pertanyaan. Hal itu membuat kepala Seung Min hampir meledak.
"Aku tahu, Kalian saling mengenal sebelumnya. Apa ada hubungan istimewa antara kalian?” tanya Eun Bi.
“Apakah penting?” tanya Seung Min sedingin es.
"Seung Min, Aku ini istrimu! Aku berhak mengetahui semua tentangmu!” Mata Eun Bi mulai memerah, dadanya naik turun berusaha memendam amarah.
Eun Bi bisa menebak pasti ada sesuatu di antara Eun Mi dan Seung Min, yang tidak pernah dia tahu. Semuanya tampak jelas sejak ibu dari Min Ah melihat foto pernikahannya dan Seung Min. Dia juga wanita, sama seperti Eun Mi dan sangat mengerti kenapa perempuan itu terlihat begitu kalut, saat mengetahui bahwa Seung Min adalah suaminya.
“Seung Min, tolong jawab Aku. Apa hubunganmu dan Eun Mi sebelum ini?” Ujung mata Eun Bi mulai basah.
Seung Min mengacuhkan Eun Bi yang masih terus bertanya mengenai hubungannyan dan Eun Mi. Dia memutuskan untuk masuk ke kamar dan membersihkan diri. Eun Bi tidak menyerah begitu saja. Perempuan itu terus mengekor di belakang Seung Min untuk mendapatkan jawaban.
"Seung Min! Cepat beri Aku jawaban!” teriak Eun Bi.
Seung Min yang merasa kesal, akhirnya membongkar semuanya. Toh, hal itu tidak akan berefek buruk padanya. Justru setelah ini Seung Min berharap bisa terlepas dari pernikahannya dengan Eun Bi, karena istrinya mengajukan perceraian.
Seung Min menarik napas panjang, kemudian berteriak, “Baiklah! Aku akan memberimu jawaban!”
Eun Bi begitu terkejut mendengar Seung Min bicara dengan nada tinggi dan suara yang amat keras. Dia tak menyangka bisa membuat lelaki sedingin es itu murka.
“Eun Mi adalah kekasihku yang menghilang tujuh tahun lalu, dan ... Min Ah adalah ... putriku.” Seung Min menatap dingin istrinya tanpa merasa bersalah.
“Kau berbohong kan, Seung Min? Katakan jika Kau sedang berbohong!” teriak Eun Bi sambil memukul dada Seung Min.
Perasaan sesak mengimpit dada Eun Bi. Dia tahu bahwa Seung Min tidak mencintainya. Akan tetapi, perempuan itu benar-benar tidak menyangka ada orang lain yang mendapatkan banyak cinta dari Seung Min. Bahkan cinta yang Seung Min berikan memiliki buah yang sangat manis. Min Ah.
.
.
.
Bersambung ...