
Eun Mi yang masih belum terlelap, tiba-tiba mendapatkan telepon dari seorang laki-laki, yang mengaku sebagai bartender. Suara seraknya bercampur dengan musik jedag-jedug ala klub malam. Lelaki itu memberitahu bahwa ia menghubungi, karena Seung Min mabuk berat sekarang.
Setelah mematikan sambungan telepon, Eun Mi lekas menanggalkan piyama dan mengganti pakaiannya. Ketika hendak meraih gagang pintu, langkah Eun Mi berhenti. Dia kembali teringat kejadian delapan tahun lalu. Eun Mi kembali mengurungkan niat untuk menghampiri Seung Min. Dia tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti malam itu.
Eun Mi kembali mendaratkan bokongnya ke atas ranjang. Sebuah ide melintas di otak pintarnya. Dia mencoba menelepon Eun Bi untuk memberitahukan keadaan Seung Min saat ini. Namun, panggilannya tidak dijawab oleh saudarinya itu.
"Ayolah, angkat Eun Bi," ucap Eun Mi yang hampir putus asa.
Setelah mencoba selama lima belas menit akhirnya Eun Bi mengangkat panggilannnya. Perasaan lega menyusup ke dalam hati Eun Mi.
"Halo, Eun Bi."
" ... "
"Bisa ke Klub X?"
" ... "
"Seung Min mabuk berat di sana. Tadi seseorang meneleponku ...." Suara Eun Mi menggantung di udara karena tiba-tiba Eun Bi memutuskan sambungan telepon.
"Wah! Sopan sekali Anda, Nyonya Park!" gerutu Eun Bi sambil menatap tajam ponsel dalam genggamannya.
.
.
.
Eun Bi yang belum juga bisa tidur, akhirnya menyambar mantel coklat yang tergantung di balik pintu. Dia segera melangkah menuruni anak tangga untuk menghampiri Seung Min yang dikabarkan mabuk berat.
Dalam lima belas menit, Eun Bi sudah sampai di klub malam yang dimaksud Eun Mi. Musik DJ menyapa pendengarannya. Beberapa wanita dengan pakaian kurang bahan menatap dirinya, sambil sesekali berbisik dan tersenyum miring. Ada juga sekelompok lelaki yang menatapnya penuh gairah, padahal Eun Bi menutupi tubuh dengan mantel berbahan tebal dan terlihat sopan.
"Astaga, ingin sekali kucolok mata mereka!" batin Eun Bi.
Eun Bi tetap terus melangkah maju, membelah lautan manusia yang tengah berjoget seirama dengan musik yang dimainkan DJ. Dari ujung mata, Eun Bi dapat melihat dua orang perempuan yang tengah menari di kelilingi oleh lelaki dengan mata buas. Perempuan itu menari layaknya cacing kepanasan dengan tubuh yang hampir telanjang.
"Aduh, mataku ternodai! Seung Min, apa yang kau cari di tempat seperti ini?" gumam Eun Bi.
Setelah berjuang membelah kerumunan, akhirnya Eun Bi sampai di depan meja bar. Tubuh Seung Min kini sedang lemah tak berdaya, tertelungkup di atas meja bar. Perempuan itu menggoyangkan lengan dan pipi Seung Min. Setelah mencoba beberapa kali, Seung Min menggeliat dan membuka mata.
"Bisa berjalan sendiri?" tanya Eun Bi.
"O ... bisa." Seung Min bangkit dari kursi bar, dan mulai berjalan.
Eun Bi memapahnya agar bisa keluar dari tempat itu dengan cepat. Sesekali tubuh Seung Min menyenggol meja dan juga beberapa pengunjung. Eun Bi harus mengangguk dan meminta maaf karena ulah suaminya itu.
Setelah berhasil keluar dari bar, Eun Bi langsung membawa Seung Min pulang. Sepanjang perjalanan, suaminya itu tidur lelap. Eun Bi tersenyum miris melihat Seung Min yang ternyata memiliki hati yang lemah.
Tak terasa mobil yang Eun Bi kendarai sudah masuk pekarangan rumah. Dia memasukkan mobil ke garasi, dan mulai membangunkan Seung Min.
"Bangun, Kita sudah sampai." Eun Bi menepuk pipi suaminya secara perlahan.
Mata Seung Min mengerjap kemudian turun dari mobil. Dia masuk rumah dengan bantuan Eun Bi. Kepalanya masih terasa berat dengan perut sedikit bergejolak.
Sesampainya di kamar, Eun Bi merebahkan tubuh suaminya dan menyelimuti tubuh Seung Min. Saat hendak pergi, tiba-tiba Seung Min menarik lengannya. Kini tubuh ramping Eun Bi berada dalam pelukan Seung Min.
"Eun Mi ... aku mohon, jangan tinggalkan aku," ucap Seung Min lirih.
Mendengar ucapan suaminya, membuat hati Eun Bi terbakar. Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca, isak tangis perlahan keluar dari bibirnya. Berulang kali Seung Min mengecup puncak kepala Eun Bi.
"Seandainya kalimat tadi meluncur untukku, aku pasti akan sangat bahagia ... Seung Min," batin Eun Bi.
Dimulai dari puncak kepala, turun ke dahi, dan berakhir di bibir tipis Eun Bi. Lelaki itu ******* lembut bibir sang istri. Air mata Eun Bi mulai mengalir deras, karena rasa haru yang menyelimuti dadanya. Dia terhanyut oleh perlakuan lembut Seung Min.
"Seandainya Kamu sadar, bahwa aku ini Eun Bi ... apa Kamu juga akan memperlakukanku selembut ini ... Seung Min?" batin Eun Bi.
Kecupan Seung Min terus turun, dan kini dia mulai menggigit pelan leher putih Eun Bi. Terciptalah tanda kepemilikan di sana. Perbuatan Seung Min membuat tubuh Eun Bi semakin menggeliat.
Jemari Seung Min mulai melepaskan satu per satu kancing Eun Bi. Perempuan itu hanya pasrah. Entah mengapa hati dan tubuhnya enggan untuk menolak setiap sentuhan dari bibir dan jemari Seung Min.
"Biarkan aku membohongi diriku sendiri malam ini ...," batin Eun Bi.
***
Seung Min mengacak-acak rambutnya sendiri usai mendengar cerita Eun Bi. Di matanya semalam, dia sedang bercinta dengan Eun Mi, bukan Eun Bi. Pipi Eun Bi memerah ketika menceritakan kejadian semalam.
"Kenapa Kami tidak menolakku saja!" teriak Seung Min frustrasi.
"A-Aku ...." Kepala Eun Bi menunduk dan pipinya merona karena malu jika harus mengakui bahwa dia juga menginginkan sentuhan Seung Min.
"Lalu bagaimana ini! Aku harus bertanggung jawab sekarang!"
Eun Bi memutar bola matanya. Dia mendengus kesal melihat tingkah suaminya. Mulut Seung Min terus mengoceh berusaha menimpakan kesalahan kepada Eun Bi.
"Diamlah!" bentak Eun Bi.
Seketika bibir Seung Min terdiam. Eun Bi menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya kasar.
"Apa Kamu lupa, kalau Kita ini suami istri?" Eun Bi melipat kedua lengannya di depan dada sambil memicingkan mata.
"A ... itu ... anu ...."
"Aigoo ... kalau begitu lupakan saja kejadian semalam! Beres bukan?"
"A-apa Kamu merasa tidak dirugikan? Apa perlu kamu melakukan hymenoplasty?"
"Astaga! Kau gila? Sudahlah, lupakan saja! Mari kita anggap kejadian semalam tidak pernah terjadi!" Eun Bi beranjak pergi meninggalkan Seung Min.
Seung Min masih mematung, berharap kejadian semalam hanyalah mimpi. Tak lama kemudian dia bangkit dari sofa, dan mulai naik ke kamar.
"Baiklah ... aku akan melupakan semuanya seperti yang kamu katakan!" gumam Seung Min sepanjang jalan menuju kamar.
.
.
.
Note: Hymenoplasty adalah metode operasi plastik untuk mengembalikan selaput dara.
Bersambung ...
Assalamualaikum ❤️❤️❤️
Sambil nunggu Love Is Gone update, yukk mampir ke karya Chika yang sudah tamat. Ada Berbagi Cinta: Second Wife.
Lumayan loo, buat kalian yang suka baca novel secara marathon.
Terima kasih dukungannya selama ini🤗🤗🤗