My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Teman Lama



"Untuk apa kamu ke sini?" Seung Mi menatap tajam ke arah Ye Joon.


"Aku hanya ingin menjenguk calon istriku," jawab Ye Joon datar.


Seung Min memalingkan wajah sambil tersenyum miring. "Calon istrimu? Apa kamu yakin? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kamu itu sangat meragukan sebagai calon suami untuk Eun Mi?"


"Apa hakmu menilai diriku?" Rahang Ye Joon mengeras.


Seung Min semakin mendekatkan wajahnya kepada Ye Joon. Sebuah seringai muncul. "Aku sudah mengetahui semua permainan busukmu dengan Chang Min. Tinggal menunggu waktu, bumerang yang sudah kamu lempar akan kembali padamu," bisik Seung Min.


Mendengar ucapan Seung Min, membuat jantung Ye Joon seakan berhenti berdetak. Ia terjebak oleh permainan yang sedari awal diciptakannya untuk membalas Seung Min.


"Ka-kalian sedang membicarakan apa?" Eun Mi kebingungan melihat tingkah dua orang lelaki di hadapannya itu.


Ye Joon tertunduk lesu. Mati-matian ia mengumpulkan kekuatan agar bisa mendongakkan kepala dan memaksakan sebuah senyum untuk Eun Mi.


"Aku pulang dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ye Joon menghampiri Eun Mi kemudian mengecup puncak kepala kekasihnya itu.


"Hati-hati di jalan, ya?" Sebuah senyum dan lambaian tangan Eun Mi mengantar Ye Joon meninggalkan ruangan itu.


Ketika punggung Ye Joon menghilang di balik pintu, Seung Min duduk di samping ranjang Eun Mi. Dia menghela napas kasar. Dia ingin menyampaikan suatu hal yang terasa berat, dan menyakiti Eun Mi. Akan tetapi, ia tidak mau ibu dari anaknya itu semakin terluka saat mengetahuinya lebih jauh.


"Eun Mi, aku ingin bicara sesuatu. Terserah padamu untuk mau mempercayainya atau tidak." Seung Min menelan ludah kasar, kemudian kembali bicara. "Hari ini, aku melaporkan Chang Min karena kasus kematian ibuku."


Mata Eun Mi melebar mendengar ucapan Seung. Otaknya masih berusaha mencerna apa yang Seung Min maksud. Dia kembali bertanya untuk mendapatkan penjelasan dari Seung Min.


"Apa maksudmu?" Eun Mi mengerutkan dahinya kemudian mencoba duduk tegak bersandar pada tumpukan bantal.


"Chang Min adalah otak dibalik kasus pembunuhan ibuku. Kemarin, mantan staf perawat rumah sakit buka suara dan bersedia menjadi saksi di persidangan."


"Kenapa dia baru angkat bicara setelah sekian lama?"


"Dia takut. Dia tidak mau kehilangan pekerjaan jika membeberkan semuanya waktu itu. Selama bertahun-tahun, ia dihantui rasa bersalah. Kemarin dia menemuiku dan menceritakan semuanya," jelas Seung Min.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Aku akan ...."


Mereka berdua berbincang hingga malam tiba. Setelah menumpahkan semua isi hatinya, Seung Min berpamitan. Lelaki itu meninggalkan rumah sakit dengan hati gamang. Dia berencana menemui Ye Joon untuk menanyakan alasan kenapa melibatkan diri dengan semua kejadian buruk dalam hidupnya dan Eun Mi.


Mobil mewah Seung Min berhenti di depan rumah Ye Joon. Walaupun kakinya terasa berat, ia tetap melangkah mendekati rumah minimalis itu. Suara daun kering yang terinjak kakinya menemani langkah Seung Min malam itu. Hembusan angin malam teras dingin dan menusuk tulang. Seung Min memasukkan tangannya ke dalam saku mantel.


Suara kunci pintu terbuka. Seorang gadis cantik mengintip dari sela-sela pintu. "Ada keperluan apa, Tuan Park?" tanya Ye Jin.


"Aku ingin bertemu Ye Joon." Suara Seung Min terdengar dingin dan menusuk.


"Oppa tidak ada. Dia belum pulang!" seru Ye Jin dengan suara ketus. Gadis itu berusaha menutup kembali pintu, tetapi Seung Min berhasil mencegahnya.


"Tolong biarkan aku masuk. Aku berjanji untuk tidak membuat keributan. Aku ... datang ke sini sebagai seorang teman lama." Kini suara Seung Min melemah. JIka diingat-ingat lagi, dia sudah lama tidak berbincang dengan Ye Joon layaknya seorang teman.


Mendengar ucapan Seung Min, hati Ye Jin melunak. Dia membuka lebar pintu rumah. Seung Min mulai melangkah masuk.


"Duduklah! Aku akan membuatkanmu teh." Ye Jin menutup pintu, menunjuk sofa yang ada di depannya kemudian berjalan menuju dapur.


Seung Min tidak duduk, melainkan melihat sekeliling ruang tamu Ye Joon. Di dinding ruangan itu, terdapat satu bingkai besar yang berisi foto kelurga. Seung Min ingat betul, foto itu diambil ketika mereka duduk di bangku SMA. Ye Joon sampai bolos sekolah untuk melakukan pemotretan. Setelah hari itu, ibu Ye Joon meninggal, dan dia tiba-tiba menghilang.


Tak lama kemudian, Ye Jin kembali dengan dua cangkir teh hangat dan beberapa kue kering yang dikemas di dalam toples kaca. Eun Mi meletakkan semuanya ke atas meja. Seung Min berjalan ke arah sofa dan duduk di atasnya.


"Minumlah. Aku akan memanggilkan kakak. Sejak pulang dari rumah sakit, dia mengurung diri di kamar. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia sama sekali tidak berbicara sedikit pun."


"Aku datang ke sini untuk meminta maaf, dan bicara baik-baik. Aku tadi mengatakan hal buruk. Mungkin saja dia takut, kecewa, marah, sedih, atau semacamnya." Seung Min menundukkan kepala dan jemarinya saling bertautan.


"Seharian ini dia hanya bermain piano. Sesekali ia berhenti. Kemudian kembali memainkannya. Dari lagu yang ia mainkan aku dapat mengerti bahwa ada perasaan sedih yang tertuang di setiap nada yang tercipta darinya." Ye Jin tersenyum tipis. Bahu gadis itu merosot ketika mengingat lagi lagu yang dimainkan sang kakak beberapa jam lalu.


"Kapan terakhir musik yang ia mainkan terdengar?" tanya Seung Min dengan raut wajah sedikit panik.


"Sekitar setengah jam lalu."


"Bisa kau panggilkan di sekarang?"


Ye Jin mengangguk kemudian pergi meninggalkan Seung Min. Dia menapaki satu per satu anak tangga. Ketika sampai di depan pintu kamar, Ye Jin mengetuknya. Dia memanggil sang kakak berulang kali. Namun, tidak ada jawaban. Rasa panik mulai memenuhi hatinya. Hal itu membuat Ye Jin mengetuk pintu semakin cepat.


Lima menit berlalu dan Ye Joon masih tidak bersuara. Ye Jin akhirnya memutuskan untuk memutar gagang pintu. Matanya melebar ketika mendapati pintu kamar sang kakak tidak terkunci.


"Apa dia ketiduran?" gumam Ye Jin. Dia kemudian melangkah masuk ke kamar sang kakak. Manik matanya menangkap sosok sang kakak tertidur pulas di atas piano. Sebuah senyum terukir di bibir Ye Jin. Dia mendekati sang kakak untuk membangunkannya.


Di ruang tamu, Ye Joon sedang menyesap teh buatan Ye Jin. Aroma teh yang menguar, memasuki rongga hidungnya dan menimbulkan perasaan tenang. Akan tetapi, perasaan itu berubah seketika saat sebuah jeritan terdengar dari kamar Ye Joon. Lelaki itu mengambil langkah seribu dan segera menghampiri sumber suara.


Bersambung ...