My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
CEO Mesum



Pagi itu langit terlihat begitu cerah. Kicauan burung bersahutan menyapa pendengaran Eun Mi. Dia sedang menikmati roti panggang dengan selai coklat, ditemani segelas susu hangat.


PSJ TV tengah menyiarkan wawancara dengan salah satu artis ternama Korea, Nam Jihyuk. Suami dari Dinar itu, sedang ditanyai tentang persiapan ulang tahun anak pertamanya yang baru berusia lima tahun.


"Iya, Kami hanya mengundang beberapa kerabat dekat dan orang penting dalam karier Saya."


Mendengar ucapan Jihyuk membuat Eun Mi mencebikkan bibirnya. Nafsu makannya tiba-tiba menghilang. Dia memicingkan mata ke arah Jihyuk dalam layar kaca, jika bisa ingin memukul pantat lelaki itu, karena tidak turut mengundang dirinya.


"Lihat dia! Benar-benar tidak menganggapku teman! Awas saja nanti jika bertemu!" gerutu Eun Mi sambil menunjuk-nunjuk wajah Jihyuk.


Tak lama kemudian, ponsel pintar Eun Mi berdering. Nama Dinar muncul pada layar yang berkedip. Eun Mi membuang napas kasar, lalu mengusap tombolnya ke atas.


"Hem! Apa?"


" ... "


"Aigoo, Aku pikir Kau sudah melupakanku! Sialan! Aku bahkan mengetahui bahwa Jae Hyun berulang tahun dari televisi!"


" ... "


"Kapan acaranya? Di mana?"


" ... "


"Ish, tutup teleponmu! Aku akan mencari gaun yang sesuai dengan temanya!"


" ... "


"Jadi begitu? Baiklah! Semoga kurir datang dengan cepat!"


Begitu sambungan telepon mati, Eun Mi bergegas menghabiskan potongan roti yang tersisa. Dia menghubungi Min Ah untuk memberi putrinya semangat.


"Halo, cantik! Apa kabar? Sepertinya sibuk sekali ...."


" ... "


"Jadi hari ini geladi bersih?"


" ... "


"Semangat, ya! Lakukan yang terbaik!"


" ... "


Obrolan mereka berlangsung sampai satu jam. Telinga Eun Mi terasa panas karena terlalu lama menempel pada benda pipih itu. Bel berbunyi ketika perempuan itu hendak masuk ke kamarnya.


"Pasti kurir," pikir Eun Mi.


Dia melangkahkan kaki menuju pintu, kemudian memutar tuasnya. Eun Mi melewati jalan setapak untuk membuka pagar. Betapa terkejutnya dia, karena yang datang bukanlah kurir, melainkan Seung Min.


"K-kau?" Mata Eun Mi terbelalak.


Seung Min melihat kanan dan kiri, setelah memastikan tidak ada orang lain di jalanan. Dia menerobos tubuh Eun Mi, kemudian masuk ke pekarangan kekasihnya itu.


"Ada apa? To-tolong pergilah!" Eun Mi menunjuk ke arah pintu pagar yang sedikit terbuka.


"Tidak mau!" Seung Min melipat tangan di depan dada, kemudian mulai berjalan ke arah pintu utama rumah Eun Mi.


"Ya! Seung Min!" Eun Mi terus mengekor di belakang Seung Min.


Pekarangan Eun Mi tidak begitu luas, namun terlihat indah karena terdapat banyak tanaman hias di sana. Beberapa pot berisi bunga berjajar rapi pada rak di teras rumah. Ada sebuah kolam kecil tempat ikan koi berenang.


"Ya! Seung Min, berhenti!" teriak Eun Mi.


Langkah Seung Min akhirnya berhenti tepat di depan pintu. Dia balik badan, kemudian menatap Eun Mi. Sebuah senyuman terbit di bibir lelaki itu.


"Maafkan Aku Nyonya Lee, bolehkah tamu kehormatanmu ini masuk? Boleh? Baiklah, terima kasih." Seung Min memamerkan deretan gigi putihnya, kemudian masuk ke rumah Eun Mi.


Y


Eun Mi memutar bola matanya, mengentakkan kaki karena kesal, kemudian menyusul masuk Seung Min. Ketika sampai di dalam rumah, Seung Min sudah duduk di sofa empuk ruang tamu. Eun Mi melipat lengannya di depan dada, sambil memicingkan mata.


"Ada urusan apa, Tuan Presdir yang ter-hor-mat?" Eun Mi berbicara dengan penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Mendengar ucapan Seung Min, Eun Mi berjalan ke arah dapur. Seung Min terkekeh karena berhasil membuat kekasihnya itu kesal. Tatapan Seung Min kini tertarik pada sebuah bingkai foto yang menempel pada dinding.


Di dalam bingkai itu, terdapat dua gadis beda usia tengah berpelukan, dan bahu keduanya dinaungi oleh seorang lelaki paruh baya. Seung Min melangkah mendekati foto itu.


"Siapa dia?" ucap Seung Min pelan.


"Dia ayahku!" seru Eun Mi yang sudah kembali dengan membawa segelas jus jeruk di atas nampan.


Eun Mi meletakkan jus itu ke atas meja, kemudian ikut berdiri di samping Seung Min. Dia ikut memandang lekat foto Pak Wayan. Perasaan rindu, kini memenuhi dadanya.


"Dialah orang yang pernah membuatku frustrasi karena rokok, Kau ingat?"


"Jadi, Beliau orangnya?" Seung Min melirik Eun Mi yang masih setia memandang foto itu.


Eun Mi mengangguk, kemudian menoleh ke arah Seung Min, dan tersenyum. Dia .emenuhi paru-parunya dengan oksigen dan perlahan mengembuskan karbon dioksida.


"Selalu ada alasan dibalik perubahan seseorang. Entah menjadi baik, atau buruk. Duduklah," ucap Eun Mi.


Perempuan itu terlebih dulu mendaratkan bokongnya ke atas sofa, diikuti Seung Min.


"Jadi ... selama ini Kamu tinggal bersama ayahmu?" tanya Seung Min basa-basi, karena sebenarnya ia pun tahu semua aktivitas Eun Mi selama di Indonesia.


"Iya, dan Aku jadi tahu, alasan di balik berubahnya sikap ayah," ucap Eun Mi.


Sambil menunggu penjelasan perempuan itu, Seung Min meraih jus jeruk, dan menenggaknya perlahan.


"Ayah menjadi kasar, karena frustrasi. Ibu tidak mau mengakui siapa ayah kandungku. Ternyata aku bukanlah anak kandung dari Beliau," ungkap Eun Mi sambil tersenyum kecut.


"Uhuk!" Terdengar cerita Eun Mi, Seung Min tersedak.


Eun Mi langsung melompat ke arah Seung Min. Dia menepuk perlahan punggung lelaki itu. Akan tetapi, tepukan lembut Eun Mi berubah kasar karena tiba-tiba Seung Min memeluk pinggang rampingnya.


"Seung Min! Lepaskan!" teriak Eun Mi.


Seung Min hanya terkekeh melihat tingkah Eun Mi yang semakin panik. Dia justru mengeratkan pelukannya.


"Dasar mesum! Lepaskan!" Eun Mi terus meronta dan berteriak.


"Hahaha, baiklah! Tapi hentikan dulu pukulanmu itu!"


Setelah pukulan Eun Mi berhenti, Seung Min melepaskan pelukannya. Perempuan itu melangkah mundur secepat yang dia bisa. Namun, bukan Eun Mi namanya jika tidak ceroboh.


Kaki Eun Mi tersandung karpet, sehingga keseimbangannya goyah. Akan tetapi, Seung Min berhasil meraih kembali pinggang kekasihnya. Tatapan mereka beradu, Eun Mi bahkan bisa melihat pori-pori kulit Seung Min dengan jelas.


Embusan napas Seung Min menyapu kulit porselen Eun Mi. Aroma tubuh perempuan itu tetap sama, seperti persik. Jantung Seung Min seperti akan meledak karena kembali berhadapan dengan cinta pertamanya itu. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Eun Mi.


Eun Mi hanya mematung ketika melihat tatapan penuh cinta dari mata Seung Min. Sorot mata lelaki itu tetap sama, seakan kasih sayangnya tak berkurang untuk Eun Mi.


Seung Min terus memperpendek jarangnya dengan Eun Mi. Kini pandangan Seung Min berfokus pada bibir merah kekasihnya yang terlihat seranum buah persik.


Eun Mi mulai memejamkan mata, memasrahkan segalanya kepada Seung Min. Dia tidak bisa memungkiri bahwa rasa cinta untuk lelaki itu masih ada. Benteng yang telah dia bangun, roboh detik itu juga.


Seung Min berhasil mendaratkan ciuman di atas bibir Eun Mi, dengan selamat. Dia mengecupnya sekilas, kemudian melepaskan kecupannya.


"Maaf ...." Seung Min kini merangkum wajah mungil Eun Mi dengan kedua telapak tangan.


Entah mengapa hati Eun Mi merasa kecewa. Dia tersenyum datar, kemudian menunduk. Tak lama kemudian, tiba-tiba Seung Ming merengkuh tengkuknya dan mulai melahap perlahan bibir Eun Mi.


Mata Eun Mi terbelalak, tetapi perlahan mulai membalas ciuman Seung Min. Tak lama matanya terpejam menikmati setiap sentuhan dari bibir Seung Min. Sepasang kekasih itu saling melepas rindu yang tersimpan selama bertahun-tahun. Napas keduanya mulai memburu dan tautan bibir mereka semakin kuat dan menuntut.


Ting ... Tong ...


Mendengar suara bel, Seung Min melepaskan ciumannya. Eun Mi mengatur napasnya yang hampir habis, kemudian merapikan rambut. Dia melangkah keluar, untuk mengetahui siapa orang yang telah mengganggu aktivitas pemanasannya.


.


.


.


Bersambung ...