
Suara alunan musik orkestra menggema di sebuah ruangan. Di antara puluhan pemain, terdapat Min Ah sedang menekan tuts piano, dan menghasilkan melodi yang memanjakan telinga.
Para anggota Seoul Harmonic Orchestra sedang melakukan geladi bersih untuk acara besok. Jemari kecil Min Ah menari di atas tuts piano dengan lincah. Gadis kecil itu memejamkan mata, sembari meresapi setiap melodi yang keluar dari dentingan pianonya.
Suara alunan musik berhenti ketika sang konduktor menghentikan gerakan tangannya. Beberapa panitia acara yang menyaksikan latihan terakhir mereka bertepuk tangan dengan meriah.
Besok adalah momen pertama Min Ah bermain bersama kelompok orkestra. Simfoni dari musik yang akan dibawanya terasa menenangkan jiwa. Setiap alat musik memainkan perannya masing-masing, dan saling melengkapi.
Manajer Kim berjalan ke arah konduktor, kemudian berdiri di sampingnya. Lelaki berumur 40-an itu mulai memuji permainan para anggota.
“Kalian semua luar biasa!” seru Manajer Kim sambil bertepuk tangan.
“Terima kasih, Pak!” Seluruh anggota orkestra menjawab secara bersamaan.
“Kalian semua luar biasa! Tetap jaga kesehatan, dan segera kembali ke kamar masing-masing.” Manajer Kim berlalu, dan meninggalkan para pemain.
Min Ah keluar ruangan bersama Eun Bi. Langkahnya terasa seringan kapas, dia terus berjalan sambil bersenandung. Eun Bi hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat tinggal gadis kecil di sampingnya.
“Paman!” teriak Min Ah.
Ye Joon yang awalnya fokus berbicara dengan seorang staf penyelenggara, menoleh ke arah Min Ah. Dia tersenyum lebar, kemudian melambaikan tangan.
“Sudah selesai?” tanya Ye Joon.
“Sudah! Astaga! Aku senang sekali bisa bermain musik bersama banyak orang!” Min Ah membuat gerakan melingkar dengan kedua tangannya.
“Halo, Nona Kecil!” sapa seorang perempuan dengan rambut pirang, ia berbicara menggunakan bahasa Inggris.
“Halo, Nyonya Michelle!” Min Ah sedikit menunduk, untuk memberi salam kepada Michelle.
“Berapa umurmu?” tanya Michelle.
“Sebentar lagi delapan tahun, Nyonya,” kata Min Ah sambil menunjukkan jemarinya.
“Permainanmu sangat luar biasa!” Michelle mengacungkan kedua jempolnya ke arah Min Ah.
“Terima kasih, Nyonya.”
“Oh ya, Kami permisi dulu Michelle.” Ye Joon menundukkan kepala sekilas, kemudian meraih lengan Min Ah.
“Ya, segera istirahat, Min Ah. Berikan yang terbaik untuk dirimu sendiri dan grup! Semangat!”
Tanpa sepengetahuan mereka, seorang remaja berusia delapan belas tahun sudah mencuri dengar pembicaraan. Nam Wo Joon, salah satu peserta muda di grup itu merasa iri. Jemarinya mengepal erat, rahang Wo Joon mengeras, dan mata remaja itu menatap tajam ke arah Min Ah.
“Aku juga bisa sehebat Kamu!” ujar Wo Joon, kemudian melangkahkan keluar gedung pertunjukan.
.
.
.
“Paman, Aku ingin makan ramyun, boleh?” Min Ah mengerjapkan matanya berulang kali, jemarinya saling bertautan tanda mengajukan permohonan.
Ye Joon menggelengkan kepala, kemudian menghentikan langkah. Eun Bi yang sedari tadi berada di belakangnya menabrak tubuh bagian belakang Ye Joon.
“Ya! Ye Joon!” teriak Eun Bi.
“Salah sendiri berjalan sambil melamun! Kebiasaan!” seru Ye Joon.
“Dasar tak pernah berubah! Selalu menyalahkan orang lain!” ucap Eun Bi dengan nada tinggi.
“Stop!” teriak Min Ah sambil berkacak pinggang.
Kedua orang dewasa itu sekarang mengalihkan pandangan ke arah Min Ah yang sedang menggelengkan kepalanya.
“Tolong, ya, Bapak Ibu sekalian! Apa Kalian tidak malu bertengkar di hadapan anak kecil?” Min Ah menggeleng kemudian berlalu begitu saja.
Eun Bi dan Ye Joon saling menatap, kemudian mengekor di belakang Min Ah. Baru beberapa langkah berjalan, Min Ah mendadak berhenti. Dia berbalik badan, kemudian tersenyum lebar.
“Ehm, hampir saja Aku lupa. Bagaimana dengan ramyunku, Paman?” tanya Min Ah sambil mengerjapkan mata berulang kali.
“No!” seru Ye Joon sambil membentuk tanda silang di depan dada.
Min Ah mencebikkan bibir, menunduk, bahunya merosot, kemudian balik kanan, dan mulai berjalan lesu. Eun Bi yang melihat tingkah gadis kecil itu merasa geli. Tawanya hampir pecah, jika tidak melihat ke arah Ye Joon yang menatapnya tajam.
“Apa!” Eun Bi mendongakkan wajahnya kemudian berlari menghampiri Min Ah.
“Mau ramyun?”
Kalimat Eun Bi kali ini bagaikan rem yang membuat Min Ah berhenti kemudian mendongak. Dia menoleh ke arah Eun Bi.
“Boleh?” tanya Min Ah sambil tersenyum lebar.
“Tentu saja boleh, tapi ....” Eun Bi melirik Ye Joon yang sedang menatapnya tajam.
“Kita tidak bisa menemukan ramyun di sini!” imbuh Eun Bi.
“Bibi, Aku sudah membawanya dari Korea sebelum berangkat!” bisik Min Ah.
Tatapan keduanya bertemu, kemudian saling tersenyum lebar. Mereka berdiri tegap, pasang posisi, dan mulai berlari menjauh dari Ye Joon.
“Lari!” seru Min Ah dan Eun Bi serempak, diikuti Ye Joon yang berusaha mengejar.
Lagi-lagi tingkah ketiganya tertangkap oleh lensa mata Wo Joon. Perasaan iri memenuhi hatinya, dia kembali meremas jemarinya sendiri. Remaja itu menghela napas panjang, menunduk, dan berjalan lunglai.
Tanpa dia sadari, Ye Joon sudah berada di hadapannya. Lelaki itu berdiri dengan telapak tangan yang bersembunyi di balik saku celana.
"Boy, apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Mendengar ucapan Ye Joon, Wo Joon mendongak. Dia memicingkan mata, kemudian mendengus kesal.
“Bukan urusanmu!”
“Ya! Di mana lenyapnya kesopananmu, wahai Anak Muda!” teria Ye Joon, sambil mengangkat tangannya ke udara.
Bukannya menunduk takut, Wo Joon justru membusungkan dadanya seakan menantang Ye Joon.
“Apa!” tantang Wo Joon sambil menatap nyalang ke arah Ye Joon.
“Aigoo ... apa Kamu tidak diajarkan oleh ayahmu cara berperilaku terhadap orang yang lebih tua?” Ye Joon melipat kedua lengannya di depan dada.
“Aku tidak memiliki ayah,” ucap Wo Joon datar.
“Eh?” Saat ini kepala Ye Joon dipenuhi tanda tanya.
“Ayahku sudah mati.” Wo Joon mengeratkan gigi, kemudian berjalan santai melewati Ye Joon yang masih mematung.
Tak lama kemudian, Wo Joon berhenti sambil berkata, “Jika Paman mencari tas, Aku tadi menitipkannya kepada customer service.” Wo Joon kembali melangkahkan kaki meninggalkan Ye Joon.
.
.
.
Aroma gurih ramyun yang sedang diseduh membuat air liur Min Ah menetes. Gadis kecil itu berulang kali membuka penutupnya. Dia melebarkan lubang hidung untuk menghirup uap mi instan di hadapannya.
“Bagaimana bisa cepat matang, jika Kamu terus membukanya setiap detik!” ujar Eun Bi sambil menggelengkan kepala.
“Bibi, ramyun adalah cinta pertamaku ketika pertama kali datang ke Seoul! Sebenarnya di Indonesia juga ada mi instan seperti ini, tapi Aku lebih suka ramyun yang ada di Korea!” ucap Min Ah sambil terus menatap cup mi kepunyaannya.
“Jadi, lebih senang tinggal di Indonesia atau Korea?” Eun Bi bertopang dagu menunggu jawaban dari malaikat kecilnya.
“Aku suka keduanya! Di Indonesia, Aku suka karena ada Kakek yang selalu memanjakanku. Tapi di Korea Aku juga suka karena bisa bergabung dengan grup orkestra yang kuinginkan.”
“Kenapa tidak mengajak kakek kemari? Jadi, Kamu bisa mendapatkan keduanya!” seru Eun Bi asal.
“Wah! Ide cemerlang! Aku akan meminta mama untuk mengajak kakek ke sini!”
Firasat buruk menggelayut dalam hati Eun Bi, dia berulang kali menepuk bibirnya karena sudah sembarangan bicara. Perempuan itu yakin, Eun Mi akan memberikan sambutan meriah karena berhasil membuat Min Ah merengek.
“Ya! Min Ah! Lupakan ucapan Bibi tadi! Bi-bibi hanya bercanda!”
“Tidak akan! Bibi memang penggagas terbaik! Terima kasih!”
.
.
.
Bersambung ...