
Eun Bi menatap nanar jalanan Seoul yang mulai basah. Kejadian di kedai beberapa menit lalu masih mengganggu pikirannya. Bagaimana tidak? Bayangkan jika suamimu lebih perhatian terhadap perempuan lain daripada istrinya sendiri.
Mata perempuan cantik itu terus mengembun. Namun, Eun Bi terus menyeka tetes air mata yang hendak meluncur membasahi pipi.
Di sisi lain mobil itu, jemari Seung Min mencengkeram kuat setir mobil. Dia mengeratkan gigi sehingga menonjolkan urat di sekitar rahang. Bayangan Eun Mi yang lebih memilih pulang dengan Ye Joon, membuat hati Seung Min seakan terbakar.
Mobil berwarna hitam itu kini memasuki pekarangan rumah mewah Seung Min. Eun Bi masih duduk di dalam mobil, ketika Seung Min turun. Perempuan itu masih berharap sang suami membukakan pintu untuknya.
Eun Bi menghela napas kasar karena Seung Min berlalu begitu saja. Perempuan itu keluar mobil dan berjalan lesu memasuki rumah. Dia mulai menaiki anak tangga menuju kamar.
Kamar yang seharusnya menjadi tempat terhangat dalam rumah, justru seakan menjadi penjara yang mengungkung hati. Eun Bi mulai merebahkan tubuh rampingnya di atas ranjang dan terlelap.
Keesokan harinya, Eun Bi dikejutkan oleh sebuah panggilan dari Manajer Kim. Dia segera meraih kunci mobil dan mengendarainya menuju kantor orkestra.
Sesampainya di kantor, Eun Bi langsung menemui Manajer Kim yang sudah berada di ruangannya. Perempuan itu menundukkan sedikit tubuhnya dan duduk di sofa yang sama dengan Ye Joon.
"Ba-bagaimana?" tanya Eun Bi gugup.
"Pihak gedung baru bisa mengirimkan rekaman CCTV kemarin." Manajer Kim mengulurkan ponselnya kepada Eun Bi.
Perempuan itu terbelalak mengetahui siapa pelaku utama insiden itu. Dia adalah Han Ae Ri, salah satu anggota grup sekaligus sepupu dari Wo Joon. Setelah selesai melihat rekaman itu, Eun Bi mengembalikan ponsel kepada Manajer Kim.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Eun Bi.
"Kita harus menindak tegas Ae Ri!" seru Manajer Kim.
"Panggil dulu Ae Ri ke sini, Kita harus mendengar dulu apa alasannya melakukan hal sebodoh itu!" Ye Joon mengeratkan giginya.
"Aku akan menelepon Ae Ri sekarang juga." Manajer Kim mulai menelepon Ae Ri.
.
.
.
"Min Ah, bangunlah. Manajer meminta Kita untuk segera datang ke kantor." Eun Mi mengguncangkan tubuh mungil Min Ah dan sesekali menghujaninya dengan ciuman.
"Ehm ...." Tubuh Min Ah menggeliat malas dan tetap bergelung dalam selimut hangatnya.
"Ayo, Sayang. Kata Manajer Kim ini penting. Kamu harus hadir di sana." Eun Mi berjalan ke arah jendela, kemudian membuka tirainya.
Ketika badan Eun Mi berbalik, dia menepuk dahi. Gadis kecilnya sama sekali tidak beranjak dari ranjang. Dia mulai melangkah mendekati Min Ah dan membisikkan sebuah mantra baru.
"Kata Manajer Kim ... Kak Wo Joon juga akan datang!"
Mendengar nama Wo Joon, mata Min Ah langsung terbuka lebar. Gadis kecil itu mulai turun dari ranjang dan bergegas masuk ke kamar mandi. Melihat tingkah putrinya, Eun Mi menggelengkan kepala.
"Astaga! Sepertinya putriku dewasa sebelum waktunya!"
Sambil menunggu Min Ah bersiap-siap, Eun Mi menyiapkan sarapan favorit putrinya. Tak lama kemudian, Min Ah sudah turun dengan berpakaian rapi. Gadis kecil itu memakai setelan blazer berwarna coklat muda dengan dalaman kaos berwarna putih polos. Rambut panjangnya dikuncir kuda degan pita sebagai hiasan.
"Ayo, sarapan dulu!" Eun Mi menyiapkan piring untuk Min Ah.
"Mama masak apa?"
"Jus jeruk," ucap Min Ah sambil mendaratkan bokongnya ke atas kursi.
Min Ah melahap habis sepiring nasi goreng dan segelas penuh jus jeruk. Setelah selesai, mereka langsung berangkat ke kantor SHO diantar oleh Pak Jang.
Setibanya di kantor, Min Ah dan Eun Mi langsung menemui Manajer Kim. Begitu Eun Mi membuka pintu ruangan, sebuah suasana tak nyaman tertangkap oleh matanya. Wajah semua orang terlihat tegang dengan berbagai macam emosi.
Ye Joon sedang menatap tajam ke arah Wo Joon, Ae Ri, dan Nyonya Nam. Eun Bi dan Manajer Kim tersenyum tipis dan menyapa Eun Mi.
"Masuklah!" ujar Manajer Kim.
Eun Mi masuk, kemudian duduk di samping Eun Bi. Sedangkan Min Ah duduk di atas pangkuan Ye Joon.
"Jadi, begini Nyonya Lee. Saya selaku penanggungjawab grup ketika di Miami, mengucapkan permintaan maaf," ucap Manajer Kim.
"Ah, ya. Semalam Min Ah sempat bercerita mengenai insiden di Miami. Justru Saya sangat berterima kasih kepada Wo Joon yang sudah menemani Min Ah waktu itu." Eun Mi tersenyum lembut ke arah Wo Joon, remaja itu menatapnya sekilas, kemudian menunduk.
"Hah? Terima kasih? Apa pantas dia mendapatkan hal itu!" seru Ye Joon sambil tersenyum miring.
"Ye Joon, tenanglah!" Manajer Kim mulai meninggikan suara untuk mengontrol suasana pagi itu.
"Se-sebenarnya ... apa yang terjadi?"
Manajer Kim menghela napas kasar, kemudian mulai menceritakan garis besar insiden beberapa hari lalu di Miami. Dia mengungkapkan bahwa orang yang berada dalam kostum larva merah muda itu adalah Ae Ri.
Ae Ri melakukan hal itu atas permintaan dari Nyonya Nam, dengan alasan masih menyimpan dendam terhadap Min Ah. Mendengar penjelasan dari Manajer Kim membuat dada Eun Mi sesak.
"Nyonya Nam, aku pikir, permasalahan kecil Kita berakhir hari itu juga." Eun Mi menatap tajam ke arah Nyonya Nam.
Nyonya Nam membuang muka sambil menyeringai. Dua remaja di sampingnya masih tertunduk lesu. Terutama Wo Joon yang sama sekali tidak mau memandang Min Ah yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi, Kami pihak manajemen memutuskan untuk menghentikan kontrak secara sepihak sebagai hukuman dari perbuatan Ae Ri, Wo Joon, dan Nyonya Nam!" ucap Manajer Kim.
Mendengar keputusan Manajer Kim, sontak membuat Nyonya Nam berdiri. Perpuan itu melipat lengan di depan dada sambil menatap tajam ke arah Manajer Kim.
"Tidak bisa! Kalian tidak bisa seenaknya memutuskan kontrak begitu saja! Aku sudah kehilangan banyak uang untuk bisa memasukkan Wo Joon ke dalam grup ini!" teriak Nyonya Nam.
Mendengar ucapan Nyonya Nam, membuat Wo Joon semakin menunduk karena malu. Dia tak menyangka sang ibu justru membongkar aibnya sendiri.
"Tuliskan berapa nominal yang sudah Anda keluarkan!" Ye Joon menyodorkan selembar kertas cek kepada Nyonya Nam.
"Hah? Apa Kamu bercanda? Guru rendahan sepertimu mana sanggupengganti kerugian yang kualami jika keluar dari grup!" Nyonya Nam memandang remeh Ye Joon sambil tersenyum sinis.
"Hentikan! Aku bersedia menanggung hukuman! Bu, jangan permalukan lagi dirimu lebih dari ini! Ayo, Kita pulang!" teriak Wo Joon sambil menarik lengan ibunya.
Nyonya Nam terus meronta dan melayangkan protes kepada putranya. Ae Ri ikut mengekor di belakang Nyonya Nam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Min Ah sedang menangis dalam pelukan Eun Bi, karena tidak menyangka orang yang dia sukai tega bersekongkol untuk membuatnya celaka.
.
.
.
Bersambung ...