My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Keteguhan Hati Eun Mi



Panas matahari siang itu, tak menyurutkan Seung Min untuk menemui Eun Mi. Dia seakan hampir mati karena menahan rindu selama satu bulan. Seung Min sudah tak sanggup lagi menahannya lebih lama lagi. Seung Min nekat menemui Eun Mi di tempatnya bekerja.


Mobil Seung Min terlihat mencolok ketika terparkir di sebuah gedung sederhana, tempat sebuah pernikahan berlangsung. Seung Min tentu saja dapat menemukan keberadaan Eun Mi dengan mudah. Sebuah senyuman terbit di wajah Seung Min, ketika mengingat usahanya untuk mengetahui keberadaan Eun Mi hari itu. Lebih tepatnya usahanya untuk membuat sang sekretaris kalang kabut karena perintah yang ia ucapkan.


***


"Young Tae, bisa bantu aku?"


"Apa saja akan kulakukan untuk Anda, Presdir." Young Tae sedikit menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Janji, apapun itu?" tanya Seung Min sambil tersenyum lebar.


Sebuah firasat buruk hinggap di hati Young Tae. Tidak biasanya Seung Min bersikap seperti itu. Dia menelan ludahnya kasar, kemudian mengangguk perlahan.


"Apa jawabanmu? Aku tidak mendengarnya!" seru Seung Min.


"Ehm, Ya, Presdir. Apapun itu akan saya lakukan!" jawab Young Tae mantap.


"Tolong cari tahu, Eun Mi pekan depan ada di mana! Dan atur senatural mungkin, agar aku bisa bertemu dengannya seperti sebuah kebetulan." Seung Min mencondongkan tubuhnya ke arah Young Tae.


"Mati aku!" batin Young Tae.


"Apa aku bisa menarik kembali kata-kataku barusan, Presdir?" Young Tae berusaha menjilat ludahnya sendiri.


Seung Min hanya memicingkan mata sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Dia berusaha mendominasi agar Young Tae menuruti perintahnya.


"Apa Kau sudah bosan bekerja denganku?"


"Maaf, Presdir. Saya akan segera mencari informasi mengenai Nyonya Lee. Saya permisi," ucap Young Tae sambil membungkukkan tubuhnya.


Young Tae melangkahkan kaki keluar dari ruangan Seung Min. Sepanjang koridor, dia terus menggerutu. Young Tae selalu mendapat ancaman dari Tuan Park jika terus membantu Seung Min bertemu Eun Mi. Namun, dia juga masih membutuhkan pekerjaan dan sudah nyaman bekerja untuk Seung Min.


Lelaki itu mengumpulkan informasi dari beberapa kenalan. Bahkan, Young Tae juga mendapatkan sebuah kabar akurat. Orang misterius yang biasa mengiriminya kabar mengenai Eun Bi, kembali menghubungi Young Tae. Begitu mendapatkan info penting itu, Young Tae segera mengabari Seung Min.


"Presdir, Nyonya Lee akhir pekan ini bekerja di gedung B distrik Yongsan."


"Siapa pengantinnya?"


"Kebetulan salah satu temannya saat bekerja di stasiun TV."


"Dapatkan undangannya! Aku akan menghadiri pernikahan itu!"


"Ya? Presdir?" Young Tae menautkan kedua alisnya karena perintah dari Seung Min.


"Apa Kamu tuli? Dapatkan satu undangannya untukku!" perintah Seung Min dengan nada dingin.


"Ba-baik ... Presdir." Young Tae langsung keluar dari ruangan dan melaksanakan perintah sang presdir.


***


Akhirnya, karena kerja keras Young Tae Minggu lalu, Seung Min sekarang berada di acara pernikahan sederhana itu. Di luar venue, mempelai pria sedang berdiri menyalami para tamu. Mata lelaki itu melebar seketika saat mengetahui Seung Min hadir ke pernikahannya.


"Presdir?"


"Selamat atas pernikahanmu," ucap Seung Min sambil tersenyum.


"Te-terima kasih sudah hadir!" Si mempelai pria membungkuk berulang kali penuh hormat.


"Sama-sama," ucap Seung Min sambil menepuk dua kali lengan atas lelaki itu.


Mata Seung Min terus menyapu seisi ruangan, berharap menangkap sosok Eun Mi. Namun, usahanya gagal. Hingga akhir acara, Seung Min tidak dapat bertemu dengan Eun Mi.


"Hah, buang-buang waktu saja!" gerutu Seung Min sambil berjalan gontai keluar gedung.


Di sisi lain dari gedung itu, sosok Eun Mi sedang mengendap-endap menghindari Seung Min. Sebelumnya, dia melihat Seung Min saat lelaki itu bersalaman dengan Dae-Jung. Akhirnya, Eun Mi memasuki venue bersama sekelompok kerabat mempelai wanita.


"Ah, akhirnya! Menyesakkan sekali jika berada di dekat Seung Min." Eun Mi mulai melangkah keluar gedung setelah memastikan Seung Min menghilang dari pandangan.


Saat Eun Mi hendak meraih gagang pintunya, ia dikagetkan oleh tepukan pada bahu.


"Astaga!"


Eun Mi menoleh dan matanya melebar. Sosok Seung Min tengah menyipitkan mata sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


"Kenapa? Kaget?"


"Haha ... kebetulan sekali Presdir, Kita bertemu di sini," ucap Eun Mi sambil tertawa kaku.


"Ikut denganku!" Seung Min menarik lengan Eun Mi dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Setelah Eun Memakai sabuk pengaman, Seung Min langsung tancap gas membelah jalanan. Di perjalanan keduanya hanya diam. Tak ada satu pun dari mereka yang berusaha memulai percakapan. Sampai akhirnya, Seung Min menepikan mobilnya di taman kota.


"Apa Kamu tidak merindukanku?" tanya Seung Min sambil menatap Eun Mi.


"Ya?"


"Tolong, katakan jika Kamu juga merindukanku, Eun Mi!" seru Seung Min sembari mencengkeram lengan atas Eun Mi.


"Se-Seung Min, Kamu kenapa?"


"Katakan bahwa Kamu juga merindukanku, maka aku akan terus berjuang tanpa mempedulikan Pak Tua itu!" teriak Seung Min.


Tanpa Seung Min sadari, jemarinya terlalu kuat mencengkeram lengan Eun Mi. Perempuan itu mulai meringis menahan sakit. Dia juga berusaha melepaskan diri dari tangan Seung Min.


"To-tolong lepaskan aku, Seung Min. Ini sangat menyakitkan," lirih Eun Mi.


"Cepat katakan! Kamu akan terus berjuang bersamaku!" teriak Seung Min.


"Kau kenapa Seung Min? Lepaskan! Kau menyakitiku!" teriak Eun Mi dengan mata yang mulai memerah.


Mendengar Eun Mi berteriak, membuat Seung Min tersadar. Dia mulai melonggarkan cengkeramannya kemudian melepaskan Eun Mi.


"Maaf," lirih Seung Min sambil tertunduk dalam.


"Aku tidak pernah merindukanmu. Jadi, jangan pernah menemuiku lagi."


"Jangan berbohong!" Seung Min menatap tajam ke arah Eun Mi, matanya mulai memerah menahan tangis.


"Aku tidak berbohong. Seung Min, tolong jangan pernah memikirkanku lagi. Kita tidak bisa bersama lagi. Dari awal, Kita hanya dipertemukan hanya untuk dipisahkan. Maaf." Eun Mi membuka pintu, kemudian keluar dari mobil Seung Min.


Perempuan itu sudah bertekad untuk melupakan perasaannya pada Seung Min. Eun Mi tidak ingin membuat kesalahan yang sama seperti sang ibu. Dia ingin melihat Eun Bi bahagia, mungkin dengan cara seperti ini bisa menebus kesalahan ibunya di masa lalu.


"Aku kuat! Aku bisa hidup tanpamu Seung Min," gumam Eun Mi.


Seung Min masih terpaku di dalam mobil sambil menatap punggung Eun Mi yang semakin menjauh. Dia memukul roda kemudi untuk melampiaskan kekesalannya. Sekali lagi dia harus menelan pil pahit. Untuk kesekian kalinya, Eun Mi kembali menolaknya untuk memperjuangkan cinta mereka.