
Suara deru mobil menemani Eun Mi saat perjalanan menuju kafe. Bibir indahnya sesekali bersenandung menirukan suara emas penyanyi idola ibu satu anak itu. Langit terlihat cerah, secerah perasaannya hari ini. Dia akan segera menemui sang kekasih, setelah tidak bertemu selama satu minggu.
Ketika sampai di sebuah kafe, Eun Mi menghentikan laju mobil, dan mematikan mesinnya. Dia merogoh tas untuk mengambil bedak. Setelah mendapatkan barang yang ia butuhkan, Eun Mi membuka benda itu, dan mengecek riasannya.
"Aigoo ... kamu terlihat sangat cantik Eun Mi! Lihat kulit mulus tanpa noda kehidupan ini! Bibirmu juga tampak seksi!" Eun Mi memanyunkan bibirnya di depan kaca yang ada pada wadah bedak yang ia pegang.
Setelah puas mengagumi dirinya sendiri, Eun Mi kembali memasukkan benda kotak itu ke dalam tas. Dia menyisir rambut indahnya menggunakaan jari. Saat dirasa semua sudah terlihat rapi, Eun Mi mulai membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Perlahan tapi pasti, Eun Mi menapaki lantai di bawahnya, dan memasuki kafe dengan nuansa merah muda itu. Perabotan di dalamnya berwarna putih. Beberapa ornamen berbentuk karakter kucing favorit anak-anak, menghiasi dinding dan langit-langit kafe.
Sosok Ye Joon sudah terlihat dari kejauhan. Namun, langkah Eun Mi terhenti karena mendapati kenyataan di hadapannya. Ye Joon sedang bersama seorang perempuan. Mata Eun Mi melebar. Jantung perempuan itu berdegup semakin kencang. Dia ingin sekali balik kanan dan hengkang dari tempatnya berpijak. Akan tetapi, Eun Mi hendak memastikan bahwa pikiran buruknya salah.
Dada Eun Mi naik turun karena berbagai emosi berkecamuk di dalamnya. Kaki perempuan itu sebenarnya terasa lemas, tapi ia berusaha tetap berjalan demi mengetahui kebenaran. Langkah perempuan itu terhenti tepat di hadapan sang kekasih.
"Ye Joon ...." Suara Eun Mi melemah dan sedikit bergetar karena menahan tangis.
Melihat kehadiran Eun Mi yang jauh lebih cepat dari perkiraannya, Ye Joon terkejut. Sontak laki-laki itu bangkit dari bangku, matanya melebar, dengan bibir menganga. "E-Eun Mi!"
"Siapa dia?" Eun Mi melirik perempuan yang kini mematung di depan Ye Joon. Mendapati perempuan itu tak bergeming, membuat hati Eun Mi memanas. Dia mendekati perempuan dalam balutan gaun bermotif bunga daisy itu. Eun Mi menarik lengannya. Mata Eun Mi terbelalak karena mendapati kenyataan bahwa perempuan itu adalah Ye Jin.
"Kamu!" Eun Mi melebarkan mata dengan jari telunjuk mengarah pada Ye Jin.
Ye Jin menatap tajam ke arah Eun Mi. Perempuan itu bangkit dari kursi. Dia melipat kedua lengannya di depan dada sambil tersenyum miring. "Apa?"
"Ada hubungan apa antara kalian?" Mata Eun Mi mulai memanas. Dia mengatupkan rahang kuat-kuat. Napasnya memburu berusaha menahan amarah yang bergejolak di dalam dada.
"Aku dan Ye Joon adalah ...." Ucapan Ye Jin menggantung di udara. Alunan musik romantis tertangkap oleh telinga keduanya.
Pandangan Eun Mi dan Ye Jin kini tertuju pada sudut kafe. Ye Joon sudah duduk di balik piano. Jemarinya menekan tuts piano memainkan sebuah lagu berjudul Two People.
"Ketika aku berjalan denganmu, ketika aku tidak tahu harus menuju kemana, aku akan ingat setiap saat-saat bersamamu ...."
Tanpa terasa air mata Eun Mi jatuh karena rasa haru yang menyeruak di dalam dada. Dia menangkupkan kedua telapak tangan di atas bibir. Hati Eun Mi menghangat. Terlebih lagi ketika Ye Joon mulai berjalan mendekat kepadanya.
Ye Joon membawa satu buket bunga lili, dan memberikannya kepada Eun Mi. Lalu ia bersimpuh di hadapan sang kekasih. Ye Joon mengeluarkan kotak hitam kecil dan membuka kemudian membukanya. Di dalam kotak itu terdapat sebuah cincin bertahta berlian yang terlihat sangat cantik.
"Eun Mi, maukah menghabiskan sisa umurmu bersamaku? Menjadikanku orang pertama yang kamu lihat ketika membuka mata di pagi hari, dan juga ... memiliki anak yang mirip seperti aku dan kamu?"
Ye Joo merentangkan kedua tangan, lalu Eun Mi masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Lelaki itu mengusap lembut punggung sang kekasih dan mengecup puncak kepalanya berulang kali. Eun Mi menangis haru dalam dekapannya.
Melihat kebahagiaan menyelubungi sepasang kekasih di hadapannya, membuat Ye Jin ikut menitikkan air mata. "Aigoo ... siapa yang menaburkan bawang di sini!" seru Ye Jin mendongak sambil mengibaskan telapak tangan di depan mata.
Sesaat kemudian Eun Mi melepaskan pelukannya. Dia mengusap sisa tangis bahagia pada pelupuk mata. Tubuhnya berbalik, kemudian menatap Ye Jin yang masih mematung di belakangnya.
"Jadi, sebenarnya apa hubungan kalian?" tanya Eun Mi.
"Ya? Ah ... itu ... sebenarnya kami adalah kakak beradik. Maaf sikapku yang tidak sopan waktu itu, Oennie." Bahu Ye Jin merosot dan kepalanya menunduk dalam.
"Oh, kalian ternyata bekerja sama untuk menipuku?" Nada bicara Eun Mi tiba-tiba terasa dingin dan menusuk. Hal itu membuat perasaan Ye Joon tak tenang.
"Eun Mi, maafkan aku ...." Ucapan Ye Joon berhenti ketika melihat sang kekasih melayangkan tangannya ke udara.
Ye Joon menutup mata membayangkan sebuah tamparan yang sebentar lagi akan membuat pipinya panas. Namun, Ye Joon kembali membuka mata lebar. Sebuah kecupan sekilas mendarat mulus di bibir tipisnya.
"Lain kali jangan seperti itu, ya, Sayang." Eun Mi tersenyum jahil melihat ekspresi Ye Joon yang sedang terkejut.
"A-apa itu tadi? Tanggung sekali!" Ye Joon merapatkan tubuh Eun Mi, dan mulai melahap habis bibir sang kekasih.
.
.
.
Bersambung ...
Pagiiii....
Mendung cuaca hari ini, enaknya rebahan gak sih mom? Hehe...
BTW Chika mau kasih rekomendasi novel yang cocok banget buat temen rebahan kalian seharian ini. Mampir yukk ke karya kakacan ini....