
"Ketika aku sudah mulai menyayangimu, mengapa takdir tidak berpihak kepada kita?" Seung Min menatap potret mendiang Eun Bi dari layar ponsel yang ia genggam.
Orang lain mungkin akan melihatnya baik-baik saja. Namun, hati Seung Min sangatlah rapuh. Setiap malam dia akan berakhir dengan derai air mata. Meratapi kebodohannya karena telah menyia-nyiakan istri sebaik Eun Bi.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Seung Min. Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Tuan Lee dengan kepala yang sudah dipenuhi oleh rambut putih. Gurat penuaan tampak jelas di dahi lelaki itu. Tuan Lee berjalan mendekati Seung Min yang masih duduk di atas ranjang.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Lee.
Seung Min menggeleng lemah. Tuan Lee kini duduk di samping menantunya. Dia melirik ke arah layar ponsel Seung Min yang masih menyala. Lelaki tua itu tersenyum tipis kemudian menatap lurus ke arah jendela.
"Aku tahu ini berat. Aku juga pernah mengalaminya."
Seung Min masih membisu. Dia hanya menoleh sebentar ke arah sang ayah mertua, kemudian ikut menatap jendela. Di balik jendela, ia bisa melihat langit biru dan gumpalan awan. Burung-burung terbang bebas di sana. Daun-daun bergoyang seiring tiupan angin.
"Aku juga pernah menyia-nyiakan seseorang, Ibu Eun Bi. Aku dulu memiliki hubungan gelap dengannya. Berawal dari main-main, tapi seiring berjalannya waktu ... tanpa kusadari perasaan asing itu muncul." Tuan Lee menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kasar.
"Saat tersadar, aku sudah jatuh terlalu dalam. Ibu Eun Mi adalah sahabat mendiang istriku. Karena keserakahanku, hubungan baik keduanya hancur, dan menorehkan luka di hati kami."
Seung Min menatap sendu ayah mertuanya. "Bukankah setiap orang memiliki sisi gelapnya masing-masing?" Seung Min tersenyum kecut.
"Aku pernah kecewa dengan pernikahan kalian. Aku sebenarnya tahu kehidupan rumahtanggamu dengan Eun Bi sangat tidak baik. Aku selalu memintanya untuk berpisah saja denganmu. Jahat ya aku?" Tuan Lee tersenyum miring.
"Maaf ...." Seung Min menundukkan kepala. Hatinya kembali nyeri mengingat perlakuan buruk yang ia lakukan kepada Eun Bi.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu disesali. Aku harap mulai sekarang, kamu menjalani kehidupanmu sebaik mungkin. Jangan pernah jatuh lagi di lubang yang sama." Tuan Lee bangkit, menepuk bahu Seung Min, kemudian melangkah keluar kamar.
Seung Min tersenyum simpul, hatinya sedikit terhibur. Dia mengakui bahwa ayah mertuanya itu orang yang berhati besar. Jika saja dia berada di posisi Tuan Lee, Seung Min tidak akan sesabar itu terhadap lelaki yang telah menyakiti putrinya.
***
Min Ah sedang berdiri di depan gerbang sekolah sambil memainkan kakinya di atas tanah. Gadis kecil itu sesekali menoleh ke kiri dan kanan mencari-cari keberadaan Eun Mi.
"Sudah kubilang jangan terlambat. Kebiasaan sekali mama!" gerutu Min Ah.
Ketika sedang sibuk dengan pikirannya, seorang laki-laki menghampiri Min Ah. Ia terlihat tampan dalam setelan jas biru muda. Sebuah senyum terukir di bibir lelaki itu. Min Ah menatap curiga, kakinya mundur beberapa langkah sampai menempel pada pagar.
"Ahjussi, mau apa? Aku akan berteriak! Jangan macam-macam!" ancam Min Ah.
Laki-laki itu berhenti melangkah, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tenanglah, Nona. Aku bukan orang jahat."
"Ah, satu lagi! Organ tubuhku sudah tidak bagus! Aku suka makan junkfood dan minuman bersoda. Jadi dapat dipastikan organ dalamku dalam kondisi yang tidak baik! Ahjussi menjauhlah!" Min Ah memicingkan mata sambil mengibaskan telapak tangan berharap lelaki di hadapannya menjauh.
Melihat tingkah Min Ah yang kelewat normal membuat lelaki itu melongo. Ia kembali menggaruk kepala sambil menatap heran gadis di hadapannya. Tak lama kemudian Eun Mi datang. Perempuan itu turun dari mobil, lalu menghampiri Min Ah.
"Maafkan Mama datang terlambat, Sayang!" seru Eun Mi.
"Mama!" Min Ah berlari dan memeluk tubuh ibunya.
Pria asing itu membungkukkan badan, kemudian menyapa Eun Mi. "Selamat sore, Nyonya."
"Maaf sebelumnya, ada perlu apa, Tuan?"
"Saya dari agensi WG entertainment, ingin menawarkan peluang karir untuk putri Anda, Nyonya." Lelaki itu menyodorkan kartu nama.
Eun Mi menerima kartu nama berwarna putih itu kemudian mengeja huruf yang tercantum di atasnya. "Kang Chul?"
Kang Chul tersenyum lebar. Eun Mi memindai penampilan laki-laki di depannya itu. Dia memakai setelan jas dengan warna yang begitu terang. Rambutnya diwarnai seperti gulali. Telinga Kang Chul dihiasi oleh anting-anting perak. Eun Mi mengerutkan dahinya kemudian memasang sikap waspada. Dia mempererat pelukan dan mundur satu langkah.
"Terima kasih atas tawarannya, Tuan. Nanti akan saya hubungi jika anak saya berminat." Eun Mi membungkukkan badan lalu mengajak putrinya masuk ke mobil.
Setelah Eun Mi meninggalkan sekolahan. Senyuman Kang Chul mendadak pudar. Lelaki itu menatap tajam mobil Eun Mi yang mulai menghilang dari pandangan. Dia merogoh saku jas, dan menghubungi seseorang.
"Maaf, Tuan. Saya gagal. Ibunya datang lebih cepat dari waktu yang kita rencanakan ... baik."
.
.
.
Bersambung...
Halo... Pagi semuanya...
Sambil menunggu LIG apdet, mampir yuk ke karya salah satu teman Chika. Ceritanya dijamin seru. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, sebagai dukungan kepada author.