My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Aku Meragukanmu



Eun Mi meringis kesakitan karena rak yang menimpa kakinya. Yesung berusaha membopong tubuh perempuan itu, namun Eun Mi menolaknya. Min Ah berulang kali menghubungi Ye Joon tapi ponsel lelaki itu sedang menerima panggilan lain.


"Tolong jangan keras kepala. Ayo ke rumah sakit sekarang!" bujuk Yesung.


Seorang karyawan menghampiri mereka dan memberitahu bahwa sudah menghubungi ambulans. Beberapa menit yang lalu, sebuah rak dalam toko itu tiba-tiba goyang dan menimpa kaki Eun Mi. Berkat bantuan dari Yesung dan karyawan yang sedang berjaga, rak tersebut bisa diangkat. Namun, Eun Mi merasakan nyeri yang luar biasa pada pergelangan kakinya.


"Aku sudah menghubungi Paman Seung Min, Ma. Dia sebentar lagi datang." Min Ah memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Mari, Pak. Ambulans sudah datang." Seorang perempuan dengan seragam kerja menghampiri mereka, diikuti oleh dua orang laki-laki yang membawa tandu.


Mereka mengangkat tubuh Eun Mi dan membawanya masuk ke ambulans. Min Ah dan Yesung mengekor di belakangnya.


"Kamu ikut denganku saja. Hubungi Tuan Muda Park untuk menyusul ke Rumah Sakit."


"Baik, Paman."


Keduanya langsung masuk ke mobil dan mengekor di belakang ambulans yang melaju kencang. Suara sirine bertalu-talu di jalanan malam itu. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di Rumah Sakit. Eun Mi segera dibawa ke Unit Gawat Darurat untuk mendapatkan penanganan. Yesung dan Min Ah menunggu di luar ruangan.


"Apa Ye Joon belum membalas pesanmu?" tanya Yesung.


"Belum, sepertinya Paman Ye Joon sedang sibuk. Tapi Paman Seung Min sudah membalas pesanku. Dia bilang akan segera ke sini." Min Ah tetap terlihat tenang dalam keadaan genting. Yesung yang baru bertemu gadis itu seketika terkesima.


Bagaimana bisa anak seumurannya sangat tenang menghadapi situasi seperti ini? ucap Yesung dalam hati.


Tak lama kemudian seorang perawat menghampiri Min Ah dan Yesung. Ia memberitahukan bahwa Eun Mi harus melakukan prosedur operasi karena mengalami patah tulang. Min Ah dan Yesung mengangguk setelah menerima penjelasan mengenai kondisi medis Eun Mi.


"Baik. Kami akan segera melakukan operasi. Pihak keluarga tidak perlu khawatir, karena sejauh ini tanda vital Nyonya Lee sangat baik. Saya permisi." Perawat itu mengangguk kemudian berjalan menjauh.


Ketika Eun Mi dibawa ke kamar bedah, Min Ah dan Yesung mengikuti tim medis yang membawanya. Langkah mereka berhenti ketika perawat menutup pintu, dan lampu tanda operasi sedang berjalan menyala di bagian atasnya.


Yesung mondar-mandir sambil sesekali mengusap wajahnya kasar, sedangkan Min Ah menautkan jemari, dan bibirnya komat-kamit mengucapkan doa. Aktivitas mereka berdua berhenti ketika Ye Joon tiba-tiba datang, dan mendaratkan kepalan tinjunya ke rahang Yesung. Tubuh lelaki itu sampai tersungkur di lantai.


Ye Joon terus memukul tubuh Yesung secara brutal. Min Ah hanya bisa berteriak dan tak berani melerai. Akibat kegaduhan yang mereka timbulkan, dua orang petugas keamanan datang dan melerai keduanya.


"Dasar bajingan! Untuk apa kamu menemui Eun Mi! Sialan! Jauhi dia!" Ye joon terus berteriak seperti orang kesetanan. Dia terus meronta berusaha melepaskan diri dari petugas yang memegang kedua lengannya.


"Sepertinya kamu salah paham, Ye Joon! Aku bisa jelaskan semuanya!" Yesung berusaha memadamkan api amarah yang berkobar di dada Ye Joon. Namun, hasilnya sia-sia.


Entah mendapat kekuatan dari mana, Ye Joon berhasil lolos dari dua petugas yang menahannya. Dia kembali menyerang Yesung. Belasan pukulan mendarat mulus di pipinya. Yesung hanya terdiam dan pasrah menerima setiap pukulan itu. Dia masih memiliki akal sehat. Percuma saja membalas perlakuan Ye Joon, karena justru akan memperkeruh keadaan.


Saat hendak mendaratkan tinju terakhirnya, Seung Min datang kemudian menarik kerah kemeja Ye Joon. Sekarang giliran tubuhnya yang tersungkur di atas lantai. Seung Min mengungkung tubuh Ye Joon, mengepalkan tangannya untuk memukul lelaki itu.


Ye Joon memejamkan mata bersiap menerima bogem mentah dari Seung Min. Namun, matanya melebar karena mendapati pipinya tetap utuh tanpa luka. Dia menoleh ke arah kiri. Ternyata tangan Seung Min tidak mendarat pada pipinya, melainkan di atas lantai.


"Kalau kamu terus seperti ini, aku jadi meragukanmu. Aku tidak rela melepaskan Eun Mi kepada lelaki sepertimu!" Seung Min berdiri kemudian merapikan jasnya. Dia melangkah ke arah Min Ah yang sedang menemani Yesung. Seorang perawat sedang mengoleskan obat pada wajah Yesung.


"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Seung Min.


"Mama mengalami patah tulang." Mata Min Ah tertuju pada buku-buku jari Seung Min. Dia mendekati sang ayah, kemudian mengangkat tangan lelaki itu.


"Ayah terluka, ayo duduk di samping Paman Yesung." Min Ah menuntun Seung Min ke bangku tempat Yesung dirawat.


Hati Seung Min menghangat mendengar Min Ah memanggilnya dengan sebutan "Ayah". Tak terasa ujung mata lelaki itu basah. Di sisi lain koridor tempat itu, Ye Joon menunduk lemas. Dia sama sekali tidak mengalami luka pada tubuhnya. Namun, hatinya terasa begitu nyeri. Berulang kali lelaki itu merutuki dirinya sendiri karena tidak mampu mengontrol emosi.


Tiga jam berlalu setelah keributan di depan ruang operasi. Kini Eun Mi sudah dipindahkan ke bangsal. Aroma terapi dari difuser tercium oleh hidung Eun Mi. Jemarinya perlahan bergerak. Min Ah yang melihat pergerakan itu langsung mendekati sang ibu.


"Apa ibu membutuhkan sesuatu?"


"Tidak. Kamu dengan siapa di sini?"


"Ayah."


"Ayah?"


"Iya, aku memutuskan untuk manggilnya ayah mulai hari ini. Apa Mama mau membatalkan pernikahan dengan Paman Ye Joon?"


Bersambung ...


Apa ya mau Min Ah? Pusing nggak sih? Di saat emaknya ingin memulai kehidupan baru, justru anaknya yang goyah. Terus ikuti kisahnya yaaa...


Bentar lagi tamat kok. Sayang kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜