My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Teruntuk Kamu, Kekasihku



Teruntuk kamu, yang sangat aku cintai ....


Eun Mi, maafkan aku. Mulai sekarang aku tidak bisa lagi mengusap air matamu. Jadi, jangan pernah menangis, ya. Hiduplah dengan bahagia. Aku hanyalah seorang pecundang yang tak pantas untuk ditangisi. Bolehkah aku bercerita sedikit mengenai kebetulan yang kubuat beberapa tahun lalu?


Hari itu aku sedang menghitung receh yang terkumpul di depan sebuah toko. Angin musim dingin yang menusuk tulang tidak aku hiraukan sama sekali. Saat itu hanya uang yang terpenting bagiku. Tiba-tiba seorang laki-laki muda menghampiriku. Dia adalah Chang Min.


***


Sembilan Tahun Yang Lalu ...


Seorang pria dalam balutan setelan jas hitam, menemui laki-laki lain dengan mantel tebal usang dengan tambalan di sana-sini. Penampilan keduanya terlihat begitu kontras. Chang Min adalah laki-laki dalam setelan jas itu, dan Ye Joon adalah seorang lagi dengan pakaian usang seadanya.


Chang Min berjongkok d hadapan Ye Joon. Dia meletakkan sebuah tas besar, kemudian membuka resletingnya. Ye Joon terbelalak ketika melihat tumpukan uang kertas berada di dalamnya. Dia mendongak, menatap wajah Chang Min.


"A-apa ini, Tuan?" tanya Ye Joon dengan suara yang sedikit bergetar.


"Uang ... untukmu ... mau?"


Melihat uang dalam jumlah besar membuat Ye Joon menelan ludah berulang kali. Chang Min berdiri, merapikan jas kemudian meminta Ye Joon untuk mengikutinya. Mereka berdua berjalan dalam diam saat melewati lorong sempit daerah terpencil itu. Langkah keduanya berhenti ketika sampai di depan sebuah kedai Jajangmyeon. Mereka masuk ke dalam kedai dan memesan dua mangkok mie saus hitam.


"Langsung saja pada intinya. Aku ingin memberimu pekerjaan." Chang Min menyesap teh kemudian kembali meletakkannya ke atas meja.


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Kamu pasti sangat mengenalnya!" Chang Min menyodorkan selembar foto kepada Ye Joon. Lelaki itu meraihnya, kemudian meneliti wajah dalam foto tersebut. Di dalam foto itu terlihat Seung Min yang sedang tersenyum bahagia bersama ibunya.


Mata Ye Joon melebar, rahangnya mengeras, dan jantungnya berdegup lebih kencang. Napas lelaki itu memburu karena menahan amarah yang kembali mencuat. Sebuah senyum miring muncul di bibir Chang Min. Dia merapatkan kursi ke depan dan mulai bicara dengan lirih.


"Aku sangat tahu bagaimana perasaanmu kepadanya. Marah? Benci? Atau semacamnya. Aku mau membantumu untuk membalas semua perlakuan buruk mereka terhadapmu."


"Bagaimana caranya?" tanya Ye Joon penuh antusias.


"Temui dia, dann berperanlah sebagai dewa penolong untuk gadis ini."


"Siapa dia?" tanya Ye Joon.


Chang Min mengeluarkan lintingan tembakau, membakarnya, dan menghisap candu itu perlahan. "Dia adalah Lee Eun Mi, kekasih Seung Min."


Ye Joon mengerutkan dahi, berusaha memahami apa yang hendak disampaikan Chang Min.


"Aku memberitahukan kepada ayah mengenai hubungan mereka. Tentu saja ayahku yang gila harta dan status sosial itu murka! Dia akhirnya menghubungi Eun Mi dan meminta gadis itu menjauhi Seung Min. Aku dengar dia pergi meninggalkan Korea." Chang Min mengetukkan rokoknya ke atas asbak.


"Jadi, apa hubungannya denganku?"


"Seung Min sangat tergila-gila dengan gadis itu. Bantulah dia saat ada di Indonesia. Menangkan hatinya, dan bawa ia kembali ke Seoul untuk membuat Seung Min jatuh."


Pembicaraan mereka berlangsung hingga satu jam. Chang Min menyiapkan semua keperluan Ye Joon. Dia juga berjanji untuk memboyong Ye Jin dan Tuan Kim kembali ke Seoul. Memberi kehidupan dann pendidikan yang layak untuk Ye Jin, serta merawat sang ayah selama Ye Joon menjalankan misi.


Sesampainya di Indonesia, Ye Joon menguntit Eun Mi kemana pun gadis itu pergi. Dia bahkan menjadikannya kesempatan untuk mendapatkan uang lagi. Ye Joon melaporkan setiap gerak gerik Eun Mi kepada Young Tae (sekretaris seung Min). Ya, dia adalah orang misterius yang selalu memberikan informasi akurat kepada sekretaris Seung Min itu.


Suatu hari sebuah kesempatan besar dimanfaatkan Ye Joon untuk muncul di hadapan Eun Mi. Gadis itu tiba-tiba roboh saat berada di depan toko pakaian. Ye Joon mulai berperan sebagai dewa penolong. Dia membawa Eun Mi ke rumah sakit, dan membayar semua biaya perawatan.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Ye Joon dalam bahasa inggris.


"Kandungannya lemah. Sebaiknya istri Anda jangan dibiarkan melakukan aktivitas fisik yang melelahkan. Nantinya akan berpengaruh dengan janin yang sedang ia kandung." Ye Joon menautkan kedua alisnya, kemudian melirik Eun Mi yang masih tergolek lemah di atas brankar.


***


Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul. Awalnya aku merasa senang ketika senang melihatmu tersenyum. Jadi, aku selalu berusaha membuatmu tersenyum dengan hal kecil sekali pun. Lama-lama hatiku akan terasa sakit ketika melihatmu menangis. Jadi, aku berusaha berperan sebagai orang pertama yang menghapus air mata dan membasuh lukamu.


Eun Mi, aku sangat menyayangimu dan Min Ah. Maaf, karena sudah membuatmu banyak menangis akhir-akhir ini. Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri. Maaf, tidak bisa menemanimu berjuang hingga akhir. Maaf, tidak bisa menyematkan cincin pernikahan kita di jari manismu. Hiduplah dengan bahagia. Aku sangat mencintaimu, Eun Mi.


Ye Joon.


***