My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Bakat Alami



Tujuh tahun kemudian ...


"Seung Min, hari ini peringatan pernikahan Kita yang ke tujuh. Ayah dan ibu mertua mengadakan pesta kecil nanti malam, kuharap Kamu meluangkan waktu," ucap Eun Bi sambil melirik ke arah suaminya.


"Aku sudah selesai." Seung Min tidak menanggapi apa yang diucapkan Eun Bi, dan meninggalkan meja makan begitu saja tanpa menghiraukan istrinya.


Perlahan air mata Eun Bi menetes, dadanya terasa begitu sesak. Sejak menikah dengan Seung Min, hubungan mereka semakin memburuk setiap harinya seakan berada neraka. Bahkan, Seung Min tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Mereka tidur di kamar terpisah.


"Apa kurangku, Seung Min ...." Eun Bi mulai terisak dan kelamaan berubah menjadi tangis yang begitu menyesakkan.


.


.


.


"Presdir, Saya mendapat kabar dari informan bahwa Nyonya Eun Mi dan putrinya akan kembali ke Korea," ucap Young Tae.


"Benarkah? Kapan mereka akan datang?" Seung Min meletakkan pena, kemudian menatap Young Tae.


"Seminggu lagi, saat pesta penyambutan anggota baru Seoul Harmonic Orchestra," ucap Young Tae.


"Kosongkan jadwal pada hari itu." Seung Min memberi perintah.


"Baik Presdir, Saya permisi." Young Tae melangkah keluar ruangan.


Selepas tubuh Young Tae menghilang di balik pintu, Seung Min meraih ponselnya dan menghubungi Eun Bi.


"Halo." Terdengar suara lembut Eun Bi dari ujung telepon.


"Bolehkah Aku bertanya sesuatu?" tanya Seung Min sambil memainkan pena. Suasana tiba-tiba hening.


"Kenapa? Tumben menghubungiku?"


"Ehm, apa Seoul Harmonic pekan depan mengadakan pesta penyambutan?" tanya Seung Min.


"Cih, apa pedulimu?"


"Tinggal jawab iya atau tidak apa susahnya? Tolong jangan buat aku kesal!" Seung Min mulai menautkan alisnya.


"Iya."


"Kamu sudah mendapat undangannya? Mau pergi dengan siapa?" cecar Seung Min.


"Tentu saja Aku akan mengajak Ayah seperti tahun-tahun sebelumnya."


"Ehm ... tahun ini ajak Aku saja. Aku sedang tidak sibuk hari itu." Tanpa menunggu persetujuan Eun Bi, Seung Min menutup telepon.


Di ujung telepon, Eun Bi terheran-heran dengan sikap luar biasa Seung Min. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama Seung Min menghubunginya terlebih dulu. Terlebih lagi suaminya itu ingin menghadiri acara tahunan grup orkestra. Benar-benar keajaiban dunia.


"Cih, apakah kepalanya sedang terbentur!" Eun Bi menautkan alisnya dan memaki ponsel yang dia genggam, seakan benda pipih itu adalah Seung Min.


Tiba-tiba Eun Bi cekikikan, badannya berguling di atas kasur ke kanan dan ke kiri. Bahkan, dia melompat-lompat kegirangan melakukan selebrasi.


.


.


.


"Ibu, Aku sudah siap!" seru seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, ia menenteng koper kecil berwarna merah muda.


"Iya ... tunggu sebentar, kenapa terburu-buru? Bahkan Paman Ye Joon belum datang."


Seorang perempuan dewasa keluar dari kamar. Ia memakai dress selutut bermotif bunga daisy. Kakinya dibalut oleh pumps shoes dengan tinggi lima senti.


"Tunggu, apa Ibu akan nyaman mengenakan pakaian itu di dalam pesawat?"


Eun Mi mematut diri di depan cermin, menurutnya semua terlihat normal. "Di mana yang salah? Coba katakan?"


"Ibu terlalu cantik dengan pakaian itu. Aku takut nanti Ibu mengundang perhatian laki-laki." Min Ah melipat tangannya di depan dada.


Eun Mi tertawa mendengar ucapan putrinya. "Ya! Lee Min Ah, bukankah Kamu menginginkan seorang ayah?" goda Eun Mi.


"Apa Ibu lupa, kalau Aku tidak mau orang lain selain paman yang menjadi ayah! Bahkan ayah kandungku, Aku tidak mau dia!" seru Min Ah sambil menghentakkan kaki.


"Dasar anak nakal, kemari Kau!" Eun Mi mulai setengah berlari mendekati sang putri.


Adegan kejar-kejaran ibu dan anak itu tak terelakkan lagi. Eun Mi sampai terengah-engah mengimbangi kelincahan Min Ah. Saat Eun Mi hampir menangkap Min Ah, dia tersandung karpet. Keseimbangan perempuan itu goyah, dan dia memejamkan mata pasrah.


BRUUKKK!


Tunggu, kenapa tidak sakit? batin Eun Mi.


Saat membuka mata betapa terkejutnya Eun Mi. Tubuh rampingnya mendarat mulus di atas tubuh Ye Joon. Tatapan mereka saling bertemu. keduanya bisa dengan jelas mendengar detak jantung satu sama lain.


"Aku tidak melihat, silahkan dilanjutkan," ucap Min Ah sambil menutup matanya dengan telapak tangan.


Sontak Eun Mi langsung bangkit, lalu berdiri. Diikuti oleh Ye Joo yang berdiri perlahan.


"Ehm, kalian sudah siap? Kita berangkat sekarang?" ucap Ye Joon sedikit canggung.


Melihat tingkah dua orang dewasa di hadapannya itu Min Ah menggelengkan kepalanya. Kemudian, dia menarik kopernya ke luar rumah.


"Sini, kubawakan kopermu," ucap Ye Joon sambil meraih koper Eun Mi.


"Ah, terima kasih."


.


.


.


Saat berada di kabin pesawat , Eun Mi dan Ye Jon berbincang ringan untuk membunuh waktu, sedangkan Min Ah sudah tertidur pulas setelah memuntahkan semua isi perutnya. Walau sudah berulang kali melakukan perjalanan udara untuk mengikuti lomba piano, hal ini tetap saja terjadi.


"Bagaimana rasanya?" tanya Ye Joon.


"Hm?" Mata Eun Mi beralih menatap Ye Joon.


"Bagaimana rasanya kembali ke Korea setelah sekian lama?" tanya Ye Joon sambil tersenyum lembut.


"Oh, Bagaimana ya? Ada perasaan senang, takut, dan khawatir," ucap Eun Mi sambil tersenyum kecut.


"Senang karena?"


"Mmmmm ... karena putriku bisa meraih apa yang menjadi impiannya selama ini," ucap Eun Mi sambil menatap sendu ke arah putrinya.


"Lalu?"


Eun Mi menghela napas. "Aku takut, karena harus menghadapi masa lalu yang menanti di sana. Merasa khawatir, jika masa laluku membuat Min Ah kehilangan kepercayaan dirinya." Eun Mi memalingkan wajahnya, kini dia menatap gumpalan awan putih di luar jendela kabin.


"Ya! Putrimu itu gadis yang cerdas dan kuat! Ck jangan remehkan Min Ah!" gerutu Ye Joon.


"Kau benar, Dia anak yang kuat." Eun Mi mengusap lembut puncak kepala Min Ah.


"Iya, Dia kuat sepertimu," ucap Ye Joon dalam hati.


"Oh ya, bagaimana bisa Min Ah masuk dengan mudah di kelompok orkestra elit itu?" tanya Eun Mi.


"Karena memang Min Ah berbakat, dan Kau tahu? Dia merupakan anggota termuda setelah nanti resmi masuk sana."


Eun Mi memang sadar kemampuan Min Ah sangat luar biasa, serta kemampuan belajarnya jauh lebih baik daripada anak lain.


"Bagaimana bisa dia memiliki bakat sehebat itu? Padahal Aku dan Seung Min tidak berbakat di bidang ini," ucap Eun Mi lirih.


Ye Joo memandang wajah manis Eun Mi sambil tersenyum. "Kau salah ... Ayahnya adalah orang yang sangat berbakat. Kau ternyata belum begitu mengenali dia," ucap Ye Joo dalam hati.


"Tak usah memikirkan dari mana bakat Min Ah berasal, yang paling penting, dia bisa melakukan apa yang disukai," ucap Ye Joon.


Eun Mi menghembuskan napasnya kasar, kemudian menoleh ke arah Soo Hyun. "Ya ... Kau benar. Tidak penting dari siapa bakat itu Min Ah dapatkan," ucap Eun Mi sambil tersenyum.


Hati Ye Joon goyah setiap melihat senyum manis ibu satu anak itu. Tanpa sadar dia memindai setiap inci wajah Eun Mi. Mata yang kini dibantu kontak lensa minus itu, selalu berhasil membuat Ye Joon terpesona.


"Ye Joon! Ya!" teriak Eun Mi saat mengetahui Soo Hyun bengong.


"Ke-kenapa?" Ye Joon mengerjapkan mata, dan kembali fokus pada ucapan Eun Mi.


"Ish! Kau ini, kenapa bengong?" tanya Eun Mi.


"Ahaha... Bukan apa-apa," jawab Ye Joon canggung.


"Dasar! Masih ada waktu sedikit lagi, tidurlah. Kamu pasti lelah setelah mengurus kantong muntahan ini," ucap Eun Mi sambil melirik putrinya yang masih tertidur pulas.


Ye Joon menahan tawanya agar tidak pecah. Dia tahu benar bahwa Eun Mi paling tidak bisa melihat kebiasaan Min Ah, yang satu itu. Ibu muda itu, akan ikut pusing dan mual karena aroma tidak sedap dari muntahan.


"Baiklah." Ye Joon memaksakan matanya untuk terpejam.


Setelah memastikan Ye Joon terlelap, Eun Mi melihat arah luar jendela pesawat. Gumpalan-gumpalan awan di langit terlihat seperti permen kapas raksasa. Pikirannya melayang, kembali ke masa lalu saat ia berjuang demi bisa mengembangkan bakat Min Ah.


***


Hari itu hujan deras mengguyur kota Denpasar. Eun Mi dan Min Ah sedang berada di rumah Ye Joon. Mereka berencana pergi ke dokter gigi untuk pemeriksaan rutin gigi Min Ah. Eun Mi yang sedang berbincang dengan Ye Joon, mendadak menghentikan percakapan.


"Tunggu, seharusnya Min Ah sudah bangun. Aku lihat dulu di kamar." Eun Mi bergegas menuju kamar tamu.


Setelah sampai di ruangan itu, betapa terkejutnya Eun Mi. Tubuh mungil Min Ah tidak ada di atas kasur. Dia berlari menuju ruang tamu.


"Ye Joon, Min Ah ... Min Ah ... tidak ada di kamar!" seru Eun Mi dengan suara bergetar.


"Apa!"


.


.


.


Bersambung ...