
“Aaaaarrrghhhh!” Terdengar suara teriakan dari arah orkestra pit.
Dua orang perempuan beda usia, sedang menjadi pusat perhatian seluruh orang di pesta itu. Seorang perempuan dewasa dengan mekap hampir luntur, menatap tajam seorang gadis kecil berdiri dengan tatapan nyalang.
“Astaga! Min Ah!” teriak Eun Mi sambil berlari menghampiri putrinya, diikuti Ye Joon yang juga setengah berlari.
“Maaf, ada apa, Nyonya?” tanya Ye Joon.
"Bajingan kecil ini telah menghina putraku! Aku hanya membela putraku! Tapi dia malah mengguyurku dengan jus sialan ini!” seru perempuan itu sambil menunjuk ke arah Min Ah.
“Maafkan putriku, Nyonya. Dia masih kecil,” ucap Eun Mi sambil menunduk berulang kali.
“Hah, anak kecil? Dia bertindak bukan selayaknya anak-anak!” teriak perempuan itu.
“Maaf Nyonya, apa bisa Anda jelaskan kejadian awalnya?” tanya Ye Joon.
“Dia berkata bahwa permainan putraku kacau! Bahkan dia menuduhku menggunakan koneksi untuk bisa memasukkan Wo Joon ke dalam grup orkestra!” seru perempuan itu.
“Betul begitu Min Ah?” tanya Eun Mi.
“Ya.” Min Ah menjawab singkat sambil terus menatap tajam ke arah perempuan dewasa itu.
“Haha, lihatlah bocah ini. Dia sama sekali tidak memiliki rasa bersalah secuil pun!” seru perempuan itu sambil tersenyum sinis.
“Ayo, Sayang, minta maaf kepadanya,” pinta Eun Mi.
Min Ah hanya mematung, egonya terlalu besar untuk meminta maaf. Dia sadar telah berkata seenaknya kepada Wo Joon, tapi hatinya masih dongkol ketika mengingat bagaimana Ibu Wo Joon menghina ibunya.
“Min Ah.” Kali ini Ye Joon angkat bicara, karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh malaikat kecilnya itu.
“Hah, baiklah, Aku akan meminta maaf setelah Nyonya juga meminta maaf kepada ibuku. Bagaimana?” tawar Min Ah.
“Apa!” ujar ibu Wo Joon.
“Nyonya tadi menghina ibuku! Nyonya bilang ibuku perempuan murahan!”
“Haha, bukankah memang seperti itu kenyataannya? Bagaimana bisa perempuan baik-baik melahirkan tanpa suami?” ejek ibu Wo Joon.
“Nyonya Nam, cukup!” teriak Eun Bi yang tiba-tiba datang, kemudian berjalan membelah kerumunan.
“Nyonya Park, Anda, ti-tidak tahu bagaimana kejadiannya.” Wajah Nyonya Nam (Ibu Wo Joon) seketika berubah. Ekspresinya kini terlihat begitu cemas dan ketakutan.
“Tolong jangan buat keributan. Jangan pernah mencampur adukkan permasalahan pribadi seseorang dengan grup orkestra. Apapun itu!” seru Eun Bi.
“Ta-tapi ... di-dia meremehkan kemampuan Wo Joon. Dan juga ....” Nyonya Nam tergagap ketika menanggapi ucapan Eun Bi.
“Mungkin maksudnya bukan meremehkan, tapi sedikit mengkritik. Dan juga ... Masalah koneksi? Apa kau yakin tentang hal itu?” Eun Bi tersenyum miring.
“Ma-maaf, Nyonya.” Nyonya Nam kini menunduk.
“Jadi sekarang minta maaf kepada Eun Mi dan Min Ah,” ucap Eun Bi.
Perlahan nyonya Nam mendekati Eun Mi dan Min Ah. Dia mengulurkan tangan, bibirnya sedikit gemetar menahan amarah dan rasa malu yang bercampur.
“Maaf,” ucapnya.
“Sudahlah Nyonya, ini hanya salah paham. Maaf juga karena putriku membuat Anda merasa tidak nyaman,” ucap Eun Mi ambil menyambut tangan nyonya Nam.
Setelah meminta maaf, Nyonya Nam dan Wo Joon mulai berbalik badan meninggalkan mereka. Saat sudah beberapa langkah, Min Ah berjalan menghampiri mereka.
“Wo Joon Oppa!” teriak Min Ah.
Mendengar namanya dipanggil, Wo Joon berhenti. Saat badannya berbalik ke arah Min Ah, gadis kecil itu sudah mengulurkan tangannya.
“Maaf ya, sudah melukai perasaanmu dengan menggunakan bibirku yang nakal ini,” ucap Min Ah seraya tersenyum.
Wo Joon hanya mengangguk, dia tak membalas uluran tangan kecil Min Ah, dan berlalu begitu saja.
“Cih, kau itu tidak pandai menyembunyikan perasaan,” gumam Min Ah.
.
.
.
Sejak pesta penyambutan itu, Eun Bi sering mengajak Eun Mi dan Min Ah bertemu. Entah hanya untuk makan siang, atau hanya sekedar berburu produk mekap diskon.
Eun Bi merasa lebih bersemangat saat melihat Min Ah. Gadis kecil itu seperti lentera bagi kehidupan Eun Bi. Andai saja Seung Min juga memiliki perasaan yang sama dengannya, mungkin dia juga bisa memiliki putri secantik Min Ah.
Suatu hari saat menemani Min Ah bermain di pusat permainan, Eun Bi memberanikan diri untuk menceritakan kehidupan rumah tangganya. Entah mengapa ia merasa begitu nyaman saat bersama Eun Mi.
Setelah memikirkan berulang kali, akhirnya dia mantap untuk menjadikan ibu satu anak itu tempat berbagi keluh kesah.
“Eun Mi, baimana rasanya dicintai?” tanya Eun Bi.
“Ya?”
“Bagaimana rasanya dicintai seseorang? Apakah menyenangkan?”
“Haha, Kau ini sepertinya salah orang Eun Bi,” ucap Eun Mi sambil tersenyum miris.
Eun Bi melayangkan tatapan penuh keseriusan. Dia berharap mendapatkan jawaban dari teman yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu itu.
Kali ini Eun Bi berbicara dengan ekspresi yang sangat serius. Matanya menerawang, mencoba mengingat kembali bagaimana Seung Min dulu mencurahkan cinta untuknya.
“Aku pernah mendapatkan cinta yang begitu besar dari seseorang. Sangat besar. Tapi Aku takut, dan melarikan diri,” ucap Eun Mi sambil memperlihatkan senyum yang dipaksakan.
“Kenapa?”
“Karena akut takut cinta yang dia berikan kepadaku akan menghancurkan dirinya.”
“Apa lelaki itu adalah Ayah Min Ah?”
“Bingo! Apa Kau cenayang?” ucap Eun Mi sambil memperlihatkan deretan giginya.
“Apa Kau senang saat mendapatkan cinta darinya?”
“Senang, dan ... takut. Senang karena dia selalu membuatku tersenyum, tapi di saat yang sama Aku takut tidak bisa membalas cintanya yang begitu besar.”
“Haaahhhh, dunia ini memang aneh!” keluh Eun Bi.
Kali ini Eun Mi bertopang dagu, dia memandang wajah cantik Eun Bi.
“Dan mencintai seseorang yang tidak pernah mencintaimu adalah hal paling melelahkan di dunia,” ucap Eun Bi.
“Suamimu?”
“O ....”
“Apa dia tidak waras? Astaga, perempuan sepertimu pasti sangat mudah dicintai! Bagaimana bisa suamimu itu ... Omo, Aku sungguh tidak habis pikir!” seru Eun Mi.
“Dan begitu kenyataannya. Aku mencintainya dalam diam. Bahkan sejak Kami bersekolah di sekolah menengah.”
“Buatlah dia tergila-gila, aku yakin kamu pasti bisa! Fighting!” ujar Eun Mi.
Tak lama kemudian, Min Ah berlari menghampiri Eun Mi dan Eun Bi. Gadis kecil itu mulai merengek untuk pulang.
"Mama ... ayo, pulang! Aku lelah sekali!" rengek Min Ah.
"Baiklah, Ayo!" Eun Mi mulai beranjak dari bangku sembari menggandeng jemari mungil putrinya.
Ketika dalam perjalanan pulang, Eun Bi teringat dengan sepatu yang sudah dibeli untuk Min Ah. Perempuan itu kemudian menawari Eun Mi dan Min Ah untuk mampir ke rumahnya sebentar, dan mengambil sepatu.
“Ah, Kita mampir ke rumahku dulu, ya?” tanya Eun Bi.
“Kenapa?” tanya Eun Mi.
“Aku membelikan sepasang sepatu untuk Min Ah, tapi lupa membawanya tadi,” ucap Eun Bi sambil terus fokus menyetir.
“Wah, sepatu? Untukku?” tanya Min Ah dengan mata berbinar.
Eun Bi tersenyum lalu mengangguk. Dia melihat ekspresi girang bocah itu dari spion depan. Min Ah sedang melakukan selebrasi layaknya Ronaldo yang berhasil mencetak gol. Di kursi penumpang, Eun Mi hanya menggeleng melihat tingkah putrinya itu.
Setelah membelah kota Seoul yang padat, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah dua lantai yang sangat besar. Dindingnya ditempeli dengan batu marmer yang indah, dengan halaman rumah yang begitu luas, hingga bisa untuk bermain sepak bola. Di tengah halaman terdapat kolam dengan air mancur. Suasana rindang begitu terasa karena banyak pepohonan yang memayungi halaman rumah Eun Bi.
Saat memasuki rumahnya, Eun Mi langsung disuguhi sebuah kejutan. Mata ibu satu anak itu, terbelalak melihat pemandangan di depannya. Keseimbangan tubuhnya mulai goyah, kaki yang melemas mundur dua langkah. Beruntungnya, Eun Mi masih bisa meraih kursi untuk pegangan. Menyadari Eun Mi tidak mengekor, Eun Bi berhenti lalu menoleh ke arah Eun Mi.
“Amy, apa Kau baik-baik saja?”
.
.
.
Bersambung...
Ada yang nunggu Visual?
Ni Wayan Amy Shivakari / Lee Eun Mi
Ini Babang Park Seung-min
Si Baik Hati Lee Eun Bi
Kalau ini Bapak Peri-nya Yubi dan Min Ah, Park Ye Joon
Sekarang, mari kita tampilnya Lee Min Ah
Gimana? Menurut kalian? Cocok teu? Jangan lupa terus dukung Author yaaa dengan memberi Like dan komen dengan positive vibes. Jangan dibully ... aku nangisan orangnya 😂😂😂
Sayang Kaliaaannnn😘