My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Welcomeback To Korea



Setelah menempuh perjalanan udara berjam-jam akhirnya Eun Mi, Min Ah , dan Ye Joon sampai di Seoul. Muka Eun Mi terlihat kusut dengan mata sayu karena tidak bisa terlelap dalam perjalanan. Banyak sekali hal yang mengganggu pikirannya saat ini. Si kecil Min Ah masih nyaman dalam dekapan Ye Joon. Badannya lemas karena setiap membuka mata dia selalu mengeluarkan isi perut.


“Min Ah, apa Kau baik-baik saja?” tanya Eun Mi.


Min Ah hanya mengangguk tanpa bersuara. Mereka memutuskan untuk beristirahat di kafetaria bandara sebelum melanjutkan perjalanan.


“Min Ah, mau makan?” tanya Ye Joon.


Gadis itu masih belum buka mulut. Setiap ditanya hanya mengangguk dan menggeleng. Akhirnya Eun Mi mengeluarkan jurus andalan, jika anak gadisnya itu sedang mengalami mabuk udara.


“Aduh, kasihan sekali Anak Mama. Paman, bagaimana kalau peri cantik ini, Kita bawa ke rumah sakit?” Eun Mi memulai kejahilannya.


“Benar! Mungkin Min Ah membutuhkan cairan infus. Sebentar, Aku akan menelepon ambulans.” Ye Joon mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya.


Mendengar percakapan dua orang dewasa di hadapannya, Min Ah hanya menggeleng. Dia memutar bola mata karena sudah hafal dengan trik lama ibunya itu.


“Aigoo, Aku bukan lagi anak kecil yang mudah ditipu!” ujar Min Ah sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan muka.


“Si-siapa yang menipumu? Paman sedang menunggu jawaban dari 119!” ucap Ye Joon sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Min Ah.


“Ya! Paman! Matikan! Lihat Aku sudah kembali segar! Badanku terasa begitu bertenaga, mari Kita lanjutkan perjalanan!” ujar Min Ah lalu turun dari kursi sambil menarik koper kecil kesayangannya.


Melihat tingkah putri semata wayangnya itu, Eun Mi hanya menggelengkan kepalanya. Dia tahu betul Min Ah begitu takut dengan jarum suntik dan teman-temannya. Sebab itu, dia selalu berhasil menggunakan trik tersebut.


Saat keluar dari bandara sebuah mobil Hyundai Grandeur berwarna perak berhenti di depan mereka. Seorang lelaki berusia lima puluh tahunan keluar dari mobil, lalu membukakan pintu penumpang.


“Mama, boleh Aku duduk di depan?” tanya Min Ah sambil mengerjapkan matanya berulang kali.


Begitu Eun Mi memberi persetujuan, Min Ah melompat kegirangan. Dia langsung masuk ke dalam mobil saat Pak Jang (sopir pribadi Soo Hyun) membukakan pintu.


Sepanjang perjalanan, bibir mungil Min Ah tidak berhenti mengoceh. Gadis itu begitu antusias ingin mengetahui semua hal tentang Seoul. Pak Jang bahkan kewalahan menanggapi seluruh pertanyaan Min Ah.


Ye Joon yang awalnya memperhatikan tingkah Min Ah beralih pada Eun Mi. Ibu satu anak itu telah terlelap. Kepalanya berulang kali terbentur kaca jendela mobil. Karena tidak tega, akhirnya Ye Joon memberikan bahu tegapnya untuk sandaran kepala Eun Mi.


Ye Joon merapikan rambut Eun Mi yang menutup wajah, lalu menyelipkannya ke telinga. Sesaat, dia memperhatikan lekat wajah Eun Mi. Lelaki itu sempat terpesona, tapi sedetik kemudian perasaan itu ditepiskan. Ye Joon membuang pandangan ke jalanan dan meneguk salivanya kasar.


.


.


.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya mereka sampai di kawasan elite Gangnam. Rumah mewah berjejer di sana. Mobil Hyundai itu berhenti di sebuah rumah mewah dua lantai dengan pagar beton yang menjulang tinggi.


“Eun Mi, Kita sudah sampai,” ucap Ye Joon sambil mengusap lembut pipi Eun Mi dengan jempolnya.


Mata Eun Mi terbuka lebar, mengetahui posisinya sekarang, dia terperanjat. Eun Mi merutuki dirinya sendiri karena menjadikan bahu Ye Joon sebagai bantal.


“Ah, maaf.” Eun Mi menunduk malu.


Ye Joon hanya tersenyum, lalu keluar mobil, dan membukakan pintu untuk Eun Mi. Jangan tanya Min Ah ke mana. Gadis kecil itu sudah berlari lebih dulu masuk ke rumah.


Menyaksikan pemandangan megah di depannya, Eun Mi hanya bisa melongo. Dia pernah memimpikan rumah seperti itu saat bersama Seung Min. Namun, kali ini terwujud berkat Ye Joon.


“Ba-bagaimana Kau bisa ....“ Eun Mi tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena terlalu senang.


“Ayo masuk!” Ye Joon masuk terlebih dahulu diikuti Eun Mi yang masih belum bisa berhenti mengagumi rumah itu.


Seharian penuh Eun Mi dan Min Ah menata kamar mereka. Eun Mi memilih tidur di kamar bawah karena alasan klasik. Dia tidak mau kakinya berkonde karena harus naik turun tangga berulang kali.


Sedangkan Min Ah memilih tidur di lantai atas. Selain suka pemandangan dari lantai atas, Min Ah mulai belajar mengarang lagunya sendiri. Sehingga membutuhkan tempat yang tenang.


“Hah ... akhirnya selesai juga. Mama, Aku lapar!” teriak Min Ah.


“Min Ah mau makan apa, Sayang?”


“Tteokbokki sepertinya enak,” ucap Min Ah sambil membayangkan lezatnya salah satu jajanan favoritnya.


“Mau Mama buatkan atau pesan saja?”


“Aku mau ....” Ucapan Min Ah berhenti ketika bel berbunyi.


Belum selesai membicarakan tteokbokki, bel berbunyi. Eun Mi bergegas membukakan pintu.


Di depan rumah, seorang lelaki sudah berdiri dengan satu kantung makanan.


“Permisi. Tteokbokki.” Pengantar makanan menyodorkan sekantung plastik yang berisi dua kotak kue beras.


“Terima kasih.” Eun Mi membawanya masuk sambil terheran-heran. Dia melemparkan tatapan tajamnya ke arah Ye Joon.


“Ehm, kenapa?” tanya Ye Joon.


“Jangan berpura-pura bodoh, kamu kan yang memesannya?” terka Eun Mi.


Belum sempat menjawab, bungkusan plastik itu sudah berpindah tangan kepada Min Ah. Gadis kecil itu kemudian mengecup pipi Ye Joon.


“Paman memang yang terbaik!” ucap Min Ah.


Eun Mi hanya menggeleng melihat keakraban Min Ah dan Ye Joon. Jika baru melihat mereka, pasti akan mengira bahwa keduanya adalah ayah dan anak.


Pesan Pak Wayan kembali terngiang di telinga Eun Mi. Beliau selalu mengatakan untuk menjalin hubungan dengan Ye Joon. Pak Wayan berpikir bahwa lelaki itu sangat perhatian kepadanya dan Min Ah.


Keesokan harinya tiba-tiba Min Ah mengajak ke Bukchon. Dia ingin memakai hanbok (pakaian tradisional Korea Selatan) dan memamerkannya kepada teman-teman di Bali.


“Hari ini Kita ke Bukchon!” seru Min Ah.


Eun Mi yang awalnya sedang asyik membaca artikel tentang lowongan pekerjaan memutar bola matanya.


Tanpa basa-basi Min Ah meraih ponselnya lalu menekan nomor Ye Joon.


“Halo, apa Paman hari ini sibuk?”


“...”


“Aku ingin ke Bukchon Hanok Village, tapi sepertinya Mama tiriku tidak mengijinkan!" ucap Min Ah sambil melirik ke arah ibunya. Eun Mi yang mendengar aduan putrinya itu melotot.


“...”


“Tunggu Paman,” ucap Min Ah lalu menyalakan tombol handsfree.


“Oke, Paman akan segera ke sana. Tunggu sepuluh menit ya, Tuan Putri.”


“Baik Paman, hati-hati di jalan. Aku menyayangimu.”


Min Ah mengejek Eun Mi dengan menaik-turunkan kedua alisnya sambil tersenyum. Saat sang ibu hendak mengejarnya, Min Ah berlari menaiki anak tangga.


.


.


.


Sekarang Eun Mi, Min Ah, dan Ye Joon sudah berada di kompleks perumahan dengan bangunan tradisional. Mereka mengelilingi seluruh kompleks perumahan sambil menggunakan hanbok. Langkah Eun Mi berhenti saat seseorang memanggil namanya.


“Lee Eun Mi!"


Eun Mi menoleh dan melihat seseorang berjalan cepat ke arahnya. Wanita itu memeluk tubuh Eun Mi lalu terisak. Dia adalah Dinar, teman satu apartemennya dulu.


“Dasar! Ke mana saja Kamu! Aku begitu mengkhawatirkanmu!” gerutu Dinar.


“Maaf, sudah membuatmu dan yang lain khawatir,” ucap Eun Mi.


Dinar melonggarkan pelukannya. Dia menatap lekat teman yang menghilang selama tujuh tahun itu, matanya mulai mengembun.


“Hei ... kenapa menangis?” Eun Mi mengusap lembut air mata Dinar yang perlahan jatuh.


“K-kamu hamil?” Mata Eun Mi membulat ketika melihat perut buncit Dinar, kemudian mengelus perut temannya itu.


Dinar mengangguk lalu tersipu malu. Tak lama sosok Jihyuk keluar dari salah satu rumah Hanok.


“Sayang, ayo masuk sudah so-re,” ucapan Jihyuk terputus melihat Eun Mi sedang bersama istrinya.


“Sayang? Ka-kalian?” Eun Mi menatap Dinar dan Jihyuk secara bergantian.


Jihyuk mengusap tengkuknya sambil tersenyum konyol. Pipinya sedikit merona karena malu.


“Ayo, masuk dulu mampir ke rumah Kami. Kau sendiri?” tanya Dinar.


“Aku bersama Min Ah dan Ye Joon, mereka sedang berjalan-jalan." Eun Mi tersenyum lembut.


Tak lama dua orang yang mereka bicarakan datang. Min Ah berlari ke arah Eun Mi sambil mengangkat sedikit hanboknya, sedangkan Ye Joon berjalan santai mengekor di belakangnya.


“Mama, Aku sudah lelah. Ayo kita pulang!” ujar Min Ah.


“Hai cantik!” sapa Dinar.


Bukannya membalas sapaannya, Min Ah justru mendekat lalu menyentuh perut buncit Dinar. Mata Min Ah membulat saat merasakan tendangan kecil.


“WAAAAHHH ... adik bayi bergerak, Ma!” ucap Min Ah antusias.


“Ma, Aku mau adik bayi!” sambung Min Ah.


Sontak Eun Mi tergagap menanggapi permintaan putrinya yang satu ini. Adik bayi? Bagaimana bisa Eun Mi mengandung adik bayi tanpa lelaki? Dia bukanlah Bunda Maria!


“Ayo masuk dulu, Kita mengobrol di dalam,” ajak Jihyuk.


Akhirnya mereka masuk ke rumah, Eun Mi dan Dinar saling melepas rindu. Keduanya terus berbincang sampai lupa waktu.


“Eh, sudah jam berapa ini?” tanya Eun Mi.


“Pukul sepuluh malam, sebaiknya kalian menginap di sini saja,” usul Dinar.


Dari arah kamar, Jihyuk keluar lalu dia duduk di samping istrinya.


“Iya, menginap saja, sudah malam. Kasihan Min Ah, dia sudah tertidur di kamar,” ucap Jihyuk.


“Baiklah. Aku akan menyusul mereka,” ucap Eun Mi.


“Iya, istirahatlah," sahut Dinar.


Eun Mi berpamitan lalu berjalan ke kamar. Dia membuka pintu secara perlahan. Sebuah pemandangan langka membuat hatinya teriris. Putri kecilnya tengah tidur di bawah naungan Ye Joon. Wajah mereka berdua begitu damai.


“Maafkan mama, Min Ah. Maaf karena tidak bisa menghadirkan sosok ayah untukmu,” lirih Eun Mi sambil berusaha membendung air matanya.


.


.


.


Bersambung ...