My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
First Kill



Min Ah melongok ke kiri dan kanan di jalanan depan kedai Bibi Han. Gadis kecil itu berharap menemukan sosok sang ayah. Dia merasa bersalah karena telah bersikap egois, dan tidak menghargai usaha yang dilakukan Seung Min.


Eun Mi keluar dari kedai dengan wajah yang begitu panik. Dia kebingungan karena Min Ah tiba-tiba berlari keluar kedai.


"Min Ah, kenapa?" tanya Eun Mi sambil mengatur napas.


"Aku ingin minta maaf kepada paman." Mata Min Ah mulai berkaca-kaca.


"Apa Kita perlu menemuinya di rumah Bibi Eun Bi?" Eun Mi jongkok, kemudian merapikan poni sang putri.


Min Ah mengangguk mantap, diikuti senyuman Eun Mi. Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna perak berhenti di depan mereka. Seorang lelaki paruh baya keluar mobil, dan membukakan pintu untuk Min Ah dan Eun Mi.


"Terima kasih, Pak." Eun Mi langsung masuk ke mobil, diikuti Min Ah.


Eun Mi mengeluarkan ponsel dari tasnya, kemudian menghubungi Seung Min. Setelah berulang kali menghubungi dan tidak dijawab, Eun Mi memutuskan untuk mengiriminya pesan.


Kamu di mana? Min Ah ingin bertemu.


Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Eun Mi. Seung Min memintanya menunggu di rumah, lelaki itu akan datang ke rumah Eun Mi.


"Paman akan datang ke rumah, tenanglah," ucap Eun Mi sambil memeluk tubuh putrinya.


Min Ah hanya mengangguk, diiringi senyum lembut Eun Mi. Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah. Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di depan pagar rumah Eun Mi. Min Ah yang mengira itu mobil sang ayah langsung berlari dan mengetuk kaca mobil.


Ketika kaca diturunkan, betapa terkejutnya Min Ah. Orang yang berada di dalam mobil bukanlah ayahnya, melainkan Tuan Park. Gadis kecil itu langsung mundur tiga langkah, kemudian menghambur ke pelukan sang ibu.


Mata Eun Mi terbelalak, jantungnya berdegup lebih kencang, dan tubuhnya bergetar hebat. Dia mengeratkan pelukannya untuk Min Ah.


Tuan Park membuka pintu, kemudian turun dari mobil. Sebuah tatapan tajam ia layangkan kepada Eun Mi dan Min Ah.


"Apa kabar ... Lee Eun Mi?" sapa Tuan Park sambil tersenyum miring.


"Tu-tuan."


Setiap Tuan Park maju selangkah, Eun Mi dan Min Ah mundur selangkah. Sampai akhirnya, Tuan Park mulai angkat bicara. Kedua perempuan itu saling berpelukan erat.


"Apa Kalian tidak menyuruh Pak Tua ini masuk?"


Eun Mi mulai membuka pintu pagar dan berjalan masuk ke rumah. Tuan Park tersenyum datar melihat rumah yang ditinggali Eun Mi. Lelaki paruh baya itu mengakui rumah Eun Mi tergolong mewah, untuk standar rumah Seoul.


"Silahkan duduk, Tuan. Anda ingin minum apa?" tanya Eun Mi.


"Aku tidak suka basa-basi. Dia putrimu?" Tuan Park melirik ke arah Min Ah.


Eun Mi semakin mengeratkan pelukannya. Min Ah terus melayangkan tatapan penuh permusuhan kepada Tuan Park. Melihat tatapan gadis kecil itu, membuat Tuan Park membuang muka dan tersenyum miring.


"Lihatlah tatapan gadis kecil ini! Sangat mirip dengan Seung Min!"


"Anda Kakekku?" tanya Min Ah sambil menyipitkan mata.


"Hahaha ... putrimu benar-benar cerdas! Bagaimana jadinya, jika Dia melanjutkan bisnis keluarga Park?"


"Aku tidak mau!" teriak Min Ah.


Melihat sikap Min Ah yang kasar dan selalu berontak membuat Tuan Park kembali tertawa lepas.


"Kemarilah! Peluk Kalekmu ini, Sayang!"


"Tidak Mau!" teriak Min Ah.


"Sayang, naiklah. Mama ingin sedikit berbincang dengan Tuan Park." Eun Mi mengusap lembut puncak kepala putrinya.


Min Ah mengangguk patuh dan mulai berdiri. Dia menatap tajam ke arah Tuan Park sebelum beranjak pergi. Lelaki paruh baya itu kembali tersenyum tipis melihat tingkah cucunya. Setelah memastikan Min Ah masuk kamar, Eun Mi mulai membuka pembicaraan.


"Ada apa, Tuan?"


Eun Mi membuang muka sesaat, kemudian kembali menatap wajah Tuan Park. Dia menghirup napas panjang dan membuangnya perlahan.


"Sebenarnya saya kembali bukan untuk mendekatkan Min Ah dengan Seung Min. Saya hanya ...."


"Kalau begitu jangan pernah membukakan pintu untuk Seung Min! Jangan pernah menemuinya, dan berpura-puralah tidak mengenal ketika berpapasan!"


"Tuan, seburuk itukah Saya di mata Anda? Sampai Anda terus berusaha untuk menyingkirkanku, layaknya kotoran yang menjijikkan," ucap Eun Mi dengan mata yang mulai basah.


"Simpan air matamu! Sudahlah, Aku ke sini hanya untuk memintamu menjauhi Seung Min. Aku tidak punya waktu untuk melihat dramamu!" seru Tuan Park sambil beranjak dari kursi, kemudian keluar rumah.


Begitu tubuh Tuan Park menghilang di balik pintu, Eun Mi langsung memeluk tubuhnya sendiri yang tengah bergetar karena meredam tangis. Dadanya terasa sesak, air mata Eun Mi mengalir deras dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Perempuan itu segera menyeka tangisnya ketika bel rumah berbunyi.


Perlahan Eun Mi melangkahkan kaki menuju pintu, dan membukanya. Saat benda itu terbuka, sosok tegap Seung Min sudah berdiri di hadapan Eun Mi.


"Apa Kamu menangis?" tanya Seung Min sambil sedikit membungkuk untuk melihat wajah Eun Mi.


Eun Mi hanya menggeleng, kemudian kembali menunduk. Melihat tingkah aneh Eun Mi membuat Seung Min khawatir. Lelaki itu menarik pelan lengan Eun Mi dan mengajaknya masuk ke rumah.


"Kenapa?" Seung Min berjongkok di depan Eun Mi yang duduk di atas sofa.


Eun Mi terus menundukkan kepala, air mata mulai merebak, berdesakan ingin keluar. Seung Min yang gemas dengan sikap kekasihnya, mulai merangkum pipi Eun Mi. Mata Seung Min melebar mendapati wajah Eun Mi basah karena air mata.


"Kenapa?" tanya Seung Min panik.


Bukannya menjawab, Eun Mi justru menangis sejadi-jadinya. Hati Seung Min seakan tersayat mendengar perempuan yang dicintainya itu menangis. Dia memeluk erat tubuh Eun Mi sambil mengusap lembut punggungnya.


"Kakek tadi ke sini!"


Suara Min Ah membuat Seung Min melepaskan pelukannya. Dia dan Eun Mi sama sekali tidak menyadari kapan gadis kecil itu datang. Min Ah meraih jemari ibunya, kemudian ia genggam.


"Bu, Kita cukup menuruti perintahnya bukan?"


"Apa yang pak tua itu katakan?" tanya Seung Min sambil mengeratkan rahang.


"Dia akan membawaku pergi jika Mama tidak menjauhi Anda, Tuan." Min Ah menyipitkan mata ketika menatap Seung Min.


"Aku akan menemuinya sekarang!" Seung Min berdiri kemudian melangkah menuju pintu keluar.


"Tolong, jangan mempersulit hidup Kami. Biarkan Kami hidup dengan tenang," ucap Eun Mi di sela-sela isakannya.


Langkah Seung Min otomatis terhenti. Dia berbalik badan, menatap nanar Eun Mi dan putrinya.


"Jika di masa lalu, Kamu yang egois dengan memilih menjauh, maka sekarang ... aku yang akan menjadi egois dengan terus berlari ke arahmu!" seru Seung Min, kemudian kembali berjalan ke arah pintu.


Begitu pintu rumah Eun Mi terbuka, mata Seung Min melebar. Jantungnya berdegup begitu kencang, tangan Seung Min mulai gemetar karena melihat lelaki di hadapannya memandang dengan tatapan dingin.


"A-Ayah!"


.


.


.


***Bersambung ...


Semoga suka yaa dengan ceritanya.


Sambil nunggu LIG update, mampir yukk ke Novel karya kak Kumi Kimut***!