My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
The Antagonis



"Kamu tidak lupa 'kan dengan tujuan awalmu?" Seorang laki-laki bertubuh tegap sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Mata lelaki itu menerawang jauh, mengabsen setiap puncak gedung pencakar langit yang ada di hadapannya. Rahangnya mengeras setiap mendengar alasan dari lawan bicara.


"Ingat tujuan awalmu! Merampas semua yang sudah ia rebut darimu! Bahkan mengambil semua yang sekarang ia miliki!" Lelaki itu kembali mengingatkan si lawan bicara mengenai tujuan awal bekerja sama dengannya.


Lelaki itu mendengus kesal sambil sesekali memejamkan mata. Ia mengepalkan tangan di balik kantong celana karena merasa orang yang menjadi biduknya sudah goyah. Ia mematikan sambungan telepon dan membantingnya kasar ke atas lantai. Benda pipih itu kini berceceran tak beraturan. Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu. Seorang perempuan muda dengan kemeja lengan panjang berwarna biru muda, masuk ke dalam ruangannya.


"Tuan, Anda diminta untuk menemui Tuan Besar Park," ucap perempuan itu.


Ya, dialah Chang Min. Otak di balik semua kejadian buruk dalam hidup Seung Min tak lain adalah dia. Lelaki itu merapikan jas hitam yang ia pakai, kemudian melangkah keluar kantor diikuti oleh sekretarisnya. Sepatu pantofelnya beradu dengan lantai, sehingga menimbulkan gema di lorong lantai teratas gedung itu.


***


Di sebuah rumah mewah, Tuan Park sedang menikmati secangkir teh herbal ditemani oleh sang istri. Mereka berada di halaman belakang rumah yang sejuk karena pepohonan rimbun yang menaungi.


"Aku sudah menelepon Chang Min." Nyonya Kim tersenyum tipis sambil menggenggam jemari Tuan Park.


"Baiklah. Aku akan mencoba untuk membujuknya. Keluarga Tuan Choi pasti akan sangat senang jika Chang Min menyetujui perjodohan ini." Tuan Park mengusap lembut punggung tangan sang istri.


Tak lama kemudian, Chang Min datang menghampiri Nyonya Kim dan Tuan Park. Lelaki itu membungkuk sopan diikuti senyuman sang ayah.


"Duduklah!" perintah Tuan Park.


"Ya, Ayah." Chang Min menarik kursi dan mulai mendaratkan bokong di atasnya. Sang sekretaris masih tetap berdiri di samping Chang Min.


"Bukankah sebaiknya dia pergi saja dari sini?" Tuan Park menatap tajam ke arah Choi Inha, sekretaris Chang Min.


Mendapat tatapan tajam dari laki-laki paruh baya itu, membuat Inha menunduk. Jemarinya saling bertautan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya karena merasa cemas. Seakan mengetahui kekhawatiran Inha, Chang Min mulai bicara.


"Yah, aku sudah terbiasa dengannya. Akan ada yang kurang dan membuatku tak nyaman jika tidak ada di dekatnya saat jam kerja seperti ini." Chang Min mencoba mengungkapkan alibinya agar kekhawatiran Inha menguap.


"Apa dia bisa dipercaya?" tanya Tuan Park sambil terus menatap curiga kepada Inha.


"Ya, Ayah. Aku bisa memastikan hal itu," jawab Chang Min mantab.


Inha masih tetap menunduk. Namun, gadis cantik berambut pendek itu tersenyum tipis, pipinya merona karena mendapatkan pembelaan dari atasannya. Tuan Park kembali membuka pembicaraan mereka, sedangkan Nyonya Kim hanya duduk tenang sambil menyimak percakapan kedua lelaki itu.


"Kamu tahu Tuan Choi, pemilik The Season Hotel?"


"Aku tahu, Yah. Ada apa dengan beliau?" tanya Chang Min.


"Dia memiliki seorang putri yang sangat cantik dan berprofesi sebagai model di Prancis."


Mendengar ucapan dari sang ayah membuat perasaan Chang Min menjadi tidak tenang. Lelaki itu melirik Inha yang terlihat tegang.


"Minggu depan Choi Nara akan mengambil cuti dan pulang ke Seoul. Keluarga kita akan mengadakan pertemuan khusus." Tuan Park tersenyum sekilas, tetapi senyumannya seketika memudar karena chang Min beranjak dari kursi.


Chang Min menunduk, kemudian berpamitan kepada sang ayah. "Aku ada rapat mendadak dengan beberapa tim kreatif. Aku pamit dulu, Yah." Chang Min langsung beranjak pergi.


Kaki Inha seakan terpatri di atas lantai. Langkahnya terasa berat untuk meninggalkan kediaman Tuan Park. Namun, Chang Min langsung menarik lengan sang sekretaris dan mengajak perempuan itu pergi. Sebelum mengikuti langkah Chang Min, Inha menunduk sopan ke arah Tuan Park dan Nyonya Kim.


"Ya! Chang Min! Berhenti! Ayah belum selesai bicara!" Tuan Park terus berteriak. Nyonya Kim mencoba menenangkan suaminya dengan memberinya pelukan.


"Kita bisa bicarakan lagi hal ini. Bersabarlah," ucap Nyonya Kim.


"Aigoo ... sepertinya aku terlalu memanjakan anak itu!" Jemari Tuan Park menunjuk punggung Chang Min yang mulai menghilang di balik tembok.


"Apa Anda baru menyadarinya, Tuan?" goda Nyonya Kim sambil terkekeh.


***


Usai menemui sang ayah, Chang Min hanya terdiam di dalam mobil. Rahangnya kembali mengeras ketika kembali teringat ucapan sang ayah. Inha bergelayut manja dalam pelukan Chang Min. Jemari nakalnya sesekali bermain di atas dada bidang Chang Min yang tertutup oleh kemeja biru muda.


"Oppa, bagaimana ini? Apa hubungan kita harus tetap kamu sembunyikan seperti ini? Lihatlah sekarang ... ayahmu mulai mencarikan dirimu calon istri." Bibir Inha melengkung ke bawah.


"Tenanglah. Aku akan segera mencari waktu yang tepat untuk membuka hubungan kita di depan ayah. Bersabarlah, Sayang." Chang Min mengecup puncak kepala Inha.


.


.


.


Bersambung ...


Annyonghaseo ...


Terima kasih ya, masih setia mengikuti kisah Love Is Gone. Kemungkinan novel ini akan taat akhir bulan februari. Selanjutnya Awal maret, Chika akan mulai mengerjakan novel baru untuk event Mengubah Takdir. Jangan lupa mampir ya.


Sambil nunggu LIG update, mampir yuk ke karya salah satu teman othor.



Jangan lupa tinggalkan jejak yaa...


Saranghaeyo 😘