My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Diterima!



"Jauhi Eun Mi!" seru Tuan Lee.


"Ya?" Mata Ye Joon terbelalak mendengar ucapan Tuan Lee.


"Apa kurang jelas yang aku katakan? Jauhi Lee Eun Mi, putriku!" Ucapan Tuan Lee bagaikan petir di siang bolong bagi Ye Joon. Dia masih tidak percaya dengan apa yang sedang didengarnya. Baru beberapa menit lalu Ye Joon dan Tuan Lee berbincang santai. Namun, kenapa semuanya jadi seperti ini?


Bahu Ye Joon merosot. Namun, dia mencoba mengumpulkan kekuatan untuk membuat Tuan Lee menarik kembali ucapannya. Ye Joon memenuhi paru-parunya dengan oksigen, kemudian menghembuskannya kasar.


"Bagaimana bisa aku menjauhi Eun Mi, Pak? Bahkan saat tidur sekalipun dia selalu menyelinap dan menyapaku dalam mimpi. Kami menghabiskan banyak waktu bersama selama ini. Aku sangat mengenal Eun Mi. Semua hal yang ia sukai atau pun tidak, kebiasaan baik dan buruknya. Semua hal tentang Eun Mi ... kurasa akulah orang yang paling memahaminya." Ye Joon menatap sendu Tuan Lee yang masih terpaku mendengarkan ucapannya.


Di kursi sebelah Ye Joon, Eun Mi sedang tertunduk sambil menahan air mata karena rasa haru yang menyeruak di dalam dada. Dia meremas gaun yang melekat pada badannya. Eun Mi menoleh ke arah Ye Joon ketika lelaki itu menautkan jemari pada sela-sela jari lentiknya.


"Aku aku tidak bisa hidup tanpa Eun Mi. Ijinkan aku menghabiskan sisa umur bersamanya, Pak." Nada bicara Ye Joon melemah karena putus asa. Dia memasrahkan segalanya pada sang pemilik hati manusia.


Tuan Lee menghela napas kasar. Tak lama kemudian, sebuah senyum terukir di bibirnya. "Jadi, apa harus dipancing seperti ini agar kamu tidak gugup dan berterus terang?"


"Ya?" Ye Joon mengerutkan dahi mencoba memahami maksud Tan Lee.


"Aigoo ... sedari tadi kamu terlihat gugup sekali, Ye Joon! Aku jadi teringat masa mudaku dulu. Ketika melamar ibu Eun Bi, aku juga sama sepertimu. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk melamarnya. Aku sampai menghabiskan air satu teko penuh untuk menghilangkan rasa gugup, sebelum mengutarakan niat untuk melamar wanita itu!" Tuan Lee terkekeh ketika mengingat masa lalunya.


Hati Eun Mi dan Ye Joon seakan diguyur dengan air es saat mendengarkan ucapan Tuan Lee. Lampu hijau sudah menyala untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Ye Joon melemparkan tatapan penuh cinta untuk Eun Mi, begitu pula sebaliknya. Min Ah ikut tersenyum melihat ibunya yang terlihat bahagia, sedangkan Seung Min menatap sepasang kekasih di hadapannya dengan perasaan iri.


"Tapi ada satu syarat. Begitu kamu membuat putriku meneteskan air mata sekali saja, aku akan langsung mengambilnya kembali!" seru Tuan Lee sambil menatap tajam Ye Joon.


"Ya, Pak. Terima kasih karena sudah memberikan restu Anda."


***


Usai makan malam, Eun Mi menatap langit dari balkon kamar. Bintang terlihat sangat cemerlang di antara bulan. Dia tersenyum lembut ketika mengingat sang ayah sudah merestui hubungannya dengan Ye Joon. Ketika sedang asyik menikmati keindahan langit, terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!" seru Eun Mi.


Saat pintu terbuka, sosok mungil Min Ah muncul. Gadis kecil itu melangkah masuk dan menghampiri sang ibu.


"Kenapa?" tanya Eun Mi.


Min Ah duduk di bangku samping Eun Mi, kemudian tersenyum lembut. "Apa Mama bahagia hari ini?"


"Sangat bahagia! Ini adalah momen pertama dalam hidup. Mama dilamar seseorang secara resmi, di hadapan orang tua." Eun Mi tersenyum tipis kemudian kembali mendongak memandang langit yang menaunginya.


"Ish, mana sempat ayahmu melamarku? Aku bahkan langsung kabur menemui Kakek Wayan, setelah mengetahui bahwa sedang mengandungmu!" Eun Mi menatap sang putri sambil tersenyum kecut.


"Kira-kira ... kapan ya ... Oppa melamarku?" Min Ah tersipu malu sambil mengayunkan kakinya.


Sebuah sentilan mendarat di dahi Min Ah. Dia menjerit karena terkejut dan rasa sakit yang timbul akibatnya. Sebuah tatapan tajam ia layangkan untuk sang ibu.


"Sekolah dulu yang benar! Baru memikirkan menikah saat sudah dewasa nanti!" seru Eun Mi.


"Ish, Mama! Menikah dengan Oppa adalah salah satu impian terbesar dalam hidupku!" ucap Min Ah sembari memajukan bibir bawahnya.


"Lalu, bagaimana tentang Soul Harmonic Orkestra? Apakah masih menjadi salah satu impian terbesarmu, Nona Lee?"


"Bisa dikatakan, Seoul Harmonic Orkestra adalah cinta pertamaku dan juga hal pertama yang membuatku patah hati! Aku enggan kembali ke sana. Rasanya seperti menjilat kembali ludahku, jika aku sampai kembali lagi!" Min Ah tersenyum miring, ketika mengingat kembali bagaimana anggota lain meremehkannya terakhir kali.


"Aigoo ... putriku ini ternyata gadis pendendam, ya?" Eun Mi mengacak rambut Eun Mi asal sambil terkekeh.


"Mama sudah nggak seru! Aku mau tidur! Dah!" Min Ah turun dari bangku kemudian melangkah keluar kamar.


Tak lama setelah Min Ah keluar, ponsel Eun Mi berdering. Dia melirik benda pipih itu sekilas, kemudian menyambarnya secepat kilat. Nama Ye Joon terpampang dalam layarnya. Eun Mi menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Setelah itu, dia menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponselnya ke telinga.


"Halo," sapa Eun Mi.


"O ... sedang apa?" tanya Ye Joon.


"Sedang memikirkanmu!" Eun Mi mencoba untuk menggoda sang kekasih, terdengar Ye Joon sedang terkekeh di ujung telepon.


"Besok kita bisa bertemu?" tanya Ye Joon.


"Bisa. Mau bertemu di mana?"


"Aku akan menjemputmu besok," jawab Ye Joon.


Pembicaraan mereka berlanjut hingga tengah malam. Besok mereka berencana untuk membicarakan mengenai persiapan pernikahan. Malam itu Eun Mi tidur dengan senyum terulas di bibir. Dia hanya tahu, akan ada banyak kebahagiaan menantinya hari esok. Eun Mi yakin bahwa semua penderitaannya selama ini sudah berakhir.


Bersambung ...