MY RECTOR MY HUSBAND

MY RECTOR MY HUSBAND
Menantu ideal



Di perusahan SL. (Perusahaan pusat terbesar milik keluarga Stanley)


Setelah setengah hari meeting dengan kliennya , Rendi memutuskan untuk menelpon William sebelum kembali berkutat dengan pekerjaannya lagi.


Dengan segera dia mencari nomor telpon William di dalam kontak teleponnya, dan langsung menekan tombol panggil.


"Tuuttt tuuuttt " suara sambungan telpon.


"Hallo " jawab William di seberang sana.


"Hallo William, bagaimana kabarmu calon besan? " tanya Rendi langsung terdengar suara kekehan di sebereng sana.


"Sangat baik sekali, ada apa ini tumben menelponku? " tanya William balik.


"Aku ingin menanyakan tentang perjodohan anak kita, kapan kau ada waktu untuk bertemu ?"tanya Rendi


"Gimana nanti malam setelah pulang dari kantor, apa kau bisa ?" ajak William.


"Akan aku usahakan untuk bertemu calon besanku " jawabnya sambil terkekeh.


"Baiklah, segera hubungi aku nanti " ujar William , lalu panggilan pun di matikan


"Kenapa aku bisa melupakan hal ini " gumam William.


"Apa Emelly akan setuju dengan perjodohan ini " ucap William dengan diri sendiri.


Setelah selesai dari perkerjaannya William segera menuju ke tempat dia bertemu dengan Rendi.


Di Korean Restaurants


William mencari ruangan dimana Rendi telah menunggunya. Di lihatnya asisten pribadi Rendi yang berdiri di depan sebuah ruangan.


"Pak William "panggil pak Handoyo sambil menundukkan kepalanya.


"Silahkan masuk pak " ucapnya lagi mempersilahkan William masuk.


Rendi sengaja mencari rumah makan Korea yang ada ruanganya, agar mereka nyaman untuk berbicara di tambah lagi agar mereka lebih aman, karena untuk orang sekelas Rendi dan William tentu tidak mungkin makan di restoran biasa tanpa keamanan.


"Sudah lama Ren?" tanya William sambil duduk di hadapan Rendi.


"Gimana , kapan keluarga kita akan bertemu ?" tanya Rendi langsung.


"Secepatnya, aku kan berbicara dengan istriku dan Emely " jawab William sambil menghirup teh di hadapannya yang sudah di pesan Rendi sebelum dia datang.


"Emely anak pertamamu? "tanya Rendi lagi.


"lya" jawab William singkat.


"Kenapa harus bertanya dengan dia ?" tanya Rendi. William sedikit bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Bukankah pertemuan ini harus dia tahu terlebih dahulu, agar dia tidak kaget nanti saat kita akan mempertemukannya dengan anakmu " jawab William menjelaskan.


"Emm.. tapi aku tidak ingin menjodohkan anakku dengan anak pertamamu, aku lebih tertarik dengan anak keduamu " ucap Rendi.


"Kenapa, apa yang salah dengan Emelly dia juga cantik, cukup pintar bahkan hebat di dunia bisnis, apalagi yang salah dan dia sudah dewasa " ucap William sebenarnya.


"Benar apa yang kamu katakan Wil,tapi dia terlalu sempurna untuk di jadi kan menantu di keluarga kami, lagian aku mencari istri untuk anaku bukan mencari partner kerja " jawab Rendi langsung


"Anak kedua ku masih kuliah tidak mungkin akan di nikahkan sekarang lagian aku tak ingin melihat dia sedih karena impian jadi Psikolog diusia mudanya harus hilang begitu saja aku menyayanginya." jawab William dengan nada sedih.


"Kenapa tidak mungkin, aku tau akan hal itu aku juga tidak akan melarangnya untuk kuliah, bahkan setelah menikah dengan anakku, aku akan mengkuliahkan kemana pun dia mau sampai impiannya terwujud" jawab Rendi tegas.


"Kenapa kau begitu yakin dengan anak keduaku bahkan kau tidak pernah melihatnya." tanya William heran.


" Karena aku lebih suka anak keduamu itu dia selalu mementingkan kebahagian orang lain dengan mengambil jurusan Psikologi, seperti keinginannya agar bisa membantu dan menyembuhkan orang yang membutuhkan dia. Dan siapa bilang aku tidak pernah melihatnya, dari dulu aku sudah melihatnya bahkan bertemu dengannya dikampusku tempat dia berkuliah, dia anak yang mandiri untuk ukuran anak anak di kalangan kita, bahkan dia sangat sopan kepada orang lain." jawab Rendi yakin.


"Sifatnya yang ceria, sangat cantik,begitu santun , jenius, dan pastinya dia akan menyayangi anakku dan juga cucuku kelak selamanya, dia benar benar menantu idealku " sambungnya, William yang mendengar pujian yang dilontarkan Rendi kepada anak bungsunya sangat bahagia dan tersenyum.


"Baiklah Ren jika itu keinginanmu untuk menjodohkan anakmu dengan putri bungsuku. Aku menerimanya dan semoga anakku juga mau dengan putramu." ucap William pasrah.


"Makasih Will, segera hubungi aku nanti setelah kau bicara dengan istri dan anak keduamu " ujar Rendi sekali lagi sambil beranjak dari duduknya dan berpamitan pada William untuk pergi lebih dulu.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK.....


LIKE COMENT AND VOTE.....


Maaf jika masih banya typo... Makasih