
Dirumah Stanley
"Siapa yang telpon bun?"tanya Rendi yang masih makan dimeja makan belum pergi kekantor.
"Wilna yah, dia ingin bertemu bunda, mungkin ingin membahas tentang anak kita" jawab Ratna.
"Bagus tuh bun, buat mereka segera bertemu keluarga kita." ucap Rendi dengan senang.
"Kenapa ayah begitu semangat untuk menikahkan Zafa dengan Anel?"tanya Ratna.
"Ntah bun, hati ayah begitu tenang dan senang jika Zafa menikah dengan Anel."jawab Rendi.
"Jika ayah yakin bunda ikut yakin, dan bunda ingin lebih dekat dengan Anel dan bersama Anel terus." ucap Ratna.
"ltu harus bun, bikin dia nyaman dikeluarga ini." ucap Rendi lalu Ratna tersenyum manis mendengar perkataan suaminya.
"Yah bunda ijin untuk bertemu Wilna di cafe biasa ya" ucap Ratna meminta ijin pada suaminya.
"Iya bun, sekalian berangkatnya bareng ayah diantar pak Lim." jawab Rendi.
"Tapi ayah suruh supir buat anterin bunda dulu baru ayah soalnya takut kalau Wilna nunggu lama." pinta Ratna pada Rendi.
" Iya bunda." jawab Rendi.
Kini Rendi dan Ratna sudah berada didalam mobil yang akan diantar oleh pak Lim.
"Pak sekarang ke cafe biasa nyonya kunjungi dulu lalu anter saya kekantor setelah itu pak Lim kembali kecafe nunggu nyonya disana sampe pulang." ucap Rendi yang sudah duduk dijok belakang bersama Ratna.
"Baik tuan." ucap pak Lim.
Kini mobil yang ditumpangi Rendi telah membelah sepanjang jalan kota banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang yang mengakibatkan kemacetan parah disana. Asap kendaraan mengepul begitu banyak menyebabkan terjadinya polusi dikawasan kota itu.
DiCafe
Setelah beberapa menit lamanya kini Ratna sampai dicafe tujuan sebelum turun dari mobil dia bersalaman terlebih dahulu dan mobil Rendi pergi setelah Ratna masuk kedalam cafe.
Kini Ratna berada didepan pintu masuk cafe itu sambil sesekali mencari keberadaan Wilna. Pandangannya terarahkan saat melihat perempuan paruh baya yang memakai baju lengan panjang warna merahyang sedang duduk dipojok lalu Ratna menghampirinya.
"Wilna" ucap Ratna.
Wilna yang mendengar suara seseorang memanggil namanya dia langsung menoleh ke Ratna dan memeluknya.
"Silahkan jeng duduk dulu." ucap Wilna pada Ratna yang masih berdiri.
"Pasti udah lama nunggu ya jeng." ucap Ratna yang merasa tidak enak hati pada Wilna, sambil mendudukan bokongnya dikursi.
"Engga kok jeng, saya juga baru nyampe." jawab Wilna.
"Maaf jeng tadi saya terjebak macet bareng suami." ucap Ratna.
"lya gpp yang penting jeng Ratna sama suami sampai dengan selamat." jawab Wilna diangguki Ratna.
"Jeng Wilna udah pesan belum?" tanya Ratna
"Belum jeng." jawab Wilna.
"Kamu mau pesan apa jeng biar sekalian saya pesankan" ucap Ratna.
" Samain aja sama pesenanmu jeng." jawab Wilna.
Lalu Ratna memanggil pelayan cafe yanh sedang berada di dekat meja kasir.
"Mbaak." panggil Ratna pada pelayan perempuan itu.
"Iya nyonya ada yang bisa saya bantu." jawab pelayaan perempuan itu sopan sambil membungkukan badannya karena dia tahu Ratna dan Wilna itu istri dari pengusaha no 1&2 seAsia.
"Saya pesan Steak 2 dan lemon tea 2" ucap Ratna
"Baik nyonya, mohon ditunggu sebentar pesanannya." jawab pelayan itu denga lembut dan sopan yang diangguki Ratna.
"Emm ya Wil, kamu ngajak saya bertemu pasti mau membicarakan tentang anak kita kan?" tebak Ratna sambil tertawa kecil.
"Iya Rat." jawab Wilna tersenyum malu.
" Apa benar Rendi ingin menikahkan anak kalian dengan anakku Anel?" tanya Wilna, dan Ratna menganggukan kepalanya lagi.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Kenapa apanya." jawab Ratna ambigu.
"Aku serius Rat, kenapa harus dengan Anel bukan Emelly saja." ucap Wilna.
"Tapi Emelly sudah lebih dewasa daripada Anel dan aku merasa dia pantas jadi istri anakmu." ucap Wilna.
" Anel juga pantas jadi pasangan hidup anakku, apa kau ragu dengan anak keduamu" jawab Ratna
"Bukan begitu Rat,Anel masih belum cukup dewasa dia masih kuliah, ceroboh dan manja banget. Aku takut dia akan menyusahkanmu dan keluargamu, bukan juga maksudku mau melebihkan Emelly tapi umurnya sudah pantas untuk menikah beda dengan Anel."jelas Wilna.
"Kesiapan menikah bukan dilihat dari umur Wil, dan Anel juga pasti akan berubah menjadi lebih dewasa saat sudah menikah." jawab Ratna.
"Kami hanya meninginkan anak perempuan di keluarga kami ini , agar suasana rumah menjadi ramai dan aku mempunyai teman untuk mengobrol" lanjut Ratna sambil tersenyum.
"Tidak pula juga jika aku harus melahirkan anak lagi, jalan satu satunya ya dengan menikahkan anakku dengan Anel yang sudah pas menurut kami.
Kami juga akan menjaga dan menyayangi anakmu seperti kalian bahkan dia juga masih bisa kuliah dan melakukan aktifitasnya , tidak akan ada yang berubah dihidupannya kecuali statusnya "Ucap Ratna sambil memegang sambil mengelus lembut tangan sahabatnya untuk meyakinkan.
"Baiklah, akan aku bicarakan dengan Anel " jawab Wilna pasrah.
"Permisi nyonya nyonya ini pesanan kalian, maaf udah menunggu lama" ucap pelayan perempuan tadi lembut dan sopan sambil tersenyum.
" Tidak apa apa, terima ini atas ucupan makasih kita pada anda yang sudah melayani kita dengan baik." ucap Ratna sambil memberi uang 100 ribuan 5.
" Tapi ini terlalu banyak nyonya." jawab pelayan itu sambil mengembalikan kepada Ratna.
"Itu tidak banyak, saya mohon terima itu tanpa penolakan." ucapnya lagi sambil mengarahkan uangnya kedalam genggaman pelayan itu. Ratna juga dikenal kedermawaannya memberi uang tips kepada pelayan itu juga merukapan salah satu kedermawaannya kepada orang lain.
"Makasih banyak nyonya, saya permisi kembali kebelakang." ucap Pelayan itu sambil mencium tangan Ratna. Wilna yang sejak tadi melihat pemandangan itu ia juga menjadi terharu ingin rasanya buat menangis.
"Ayo Wil kita makan makanannya keburu dingin." ucap Ratna yang diangguki Wilna dengan senyuman manis.
"segera hubungi kami, kalau kalian telah siap untuk keluarga kita bertemu " ucap Ratna sambil tersenyum.
Disebuah Apertemen mewah
Siang berganti malam, malam berganti pagi seperti itulah roda kehidupan yang selalu berputar. Kini hujan deras membasahi kota ternama menambah suasana dingin malam hari ini,,didalam sebuah apertemen mewah melihatkan seorang gadis cantik yang sedang sibuk menyelesaikan kerjaan didepan laptop yang tertunda dikantornya.
Tookk..tookkk (Suara pintu diketuk dari arah luar)
"Emelly...Emelllyyyyy." teriak seseorang dari depan apertemen.
Emelly yang mendengar suara ketokan pintu dan suara teriakan yang memanggil namanya dari arah luar memberhentikan pekerjaannya dari depan laptop pandangannya berarah mengarah ke pintu. Dan segera beranjak dari duduknya menuju pintu.
"Siapa malam malam berkunjung." batin Emelly.
Cleek (pintu dibuka secara perlahan)
Menampilkan seorang pria dengan postur tinggi, putih, dan ganteng. Membuat Emelly berteriak bahagia.
"Sayaang..." teriak Emelly lalu memeluk pria itu dengan erat.
" Hai gimana kabarmu sayang." jawab Dion sambil mencium kening Emelly.
"Baik, aku rindu kamu Dion." ucap Emelly.
"Aku juga lebih rindu kamu" jawab Dion
"Hehh apa kau tak menyuruh kekasihmu buat duduk dan membiarkan dia capek berdiri" ucap Dion pada Emelly sambil mencubit hidungnya.
"Oh iya aku lupa, silahkan duduk sayang aku akan mengambilkanmu minum."jawab Emelly melangkah menuju dapur.
"Ini minumlah " ucapnya lagi sambil menyodorkan satu minuman kaleng dingin pada Dion lalu diminum hingga habis.
"Apa aku boleh nginep malam ini disini." tanya Dion langsung sambil menatap Emelly yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Boleh nanti kita tidur bareng seperti biasa." jawab Emelly polos dan Dion tersenyum smirk.
"Apa kamu masih ingin menatap layar laptopmu terus dan
mengacuhkanku." ucap Dion
" Maaf aku harus menyelesaikan laporan hari ini dulu, lagian ini sedikit lagi selesai" jawab Emelly yang diangguki Dion karena dia tahu Emelly sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Emelly tak ingin mengecewakan Dion lalu ia menutup laptopnya saat sudah selesai.Dan beranjak menuju kearah Dion yang sedang duduk disofa lalu Emelly duduk dipangkuan Dion.Dion yang melihat tingkah kekasihnya itu dia merasa senang .
"Cup" Emelly mencium bibir dion sambil mengalungkan tangannya dileher Dion. Dion dengan senangg hati menerimanya dan membalas ciuman Emelly. Lalu *******, menyesap bibir dan lidahnya, lidah Dion menari dimulut Emelly sambil mengabsen semua inci didalamnya tanpa ada yang terlewati. Ciuman panas itu kini seakan menuntun untuk lebih melakukan dari ciuman panas itu. Tangan Dion kini berada diatas gudukan yang cukup besar milik Emelly. Emelly yang tau bermaksud Dion untuk bermain dengan gudukannya Emelly mengangguk.
JANGAN LUPA LIKE COMENT AND VOTE
Maaf untuk typonya, sebenarnya author udah up dari kemarin tapi ga dilolos rivew ama pihak NT jadi ceritanya coba aku potong setengah mungkin bakal diloloskan..
note: pada bagian cerita Emelly dan Dion saya buat jadi lebih singkat di bab ini