MY RECTOR MY HUSBAND

MY RECTOR MY HUSBAND
Gadis Aneh



Didalam kamar mandi Anel melepas semua pakaiannya, melihat ada tanda merah di kedua gunung kembarnya lewat pantulan cermin.


"Kenapa di gunung kembarku ada tanda merah, apa digigit nyamuk tapi kok besar ." guman Anel pada dirinya sendiri di kamar mandi.


Setelah Anel selesai mandi dia bingung karena hanya memakai handuk kecil yang melilit tubuh indahnya. Dengan pelan dia membuka pintu kamar mandi, hanya kepalanya yang muncul mencari keberadaan Zafano tapi tak melihat adanya Zafano didalam kamar.


"Ngga dia, tapi dia kemana ya?" guman Anel pada diri sendiri.


Saat Anel melangkah keluar dengan hati-hati, tiba-tiba dia dikagetkam dengan kemunculan Zafano yang sudah membawa paper bag,


" Pak Zafano" teriak Anel.


"Kenapa..?" tanya Zafano cuek bebek.


" Bapak ngagetin saya saja" ucap Anel panik.


"Omo..Kenapa dia harus keluar dengan handuk kecil itu sih."


batin Zafano saat melihat pemandangan yang begitu menggoda.


Zafano kini berjalan mendekati Anel membuat Anel mundur kebelakang sampai tubuhnya menatap dinding. Zafano yang sudah tidak kuat dia mendekatkan wajahnya pada Anel.


Dia mencium bibir Anel dengan lembut lalu menggigitnya


Anel yang mencoba berontak, tentu saja tetap kalah tenaga dengan Zafano, kedua tangan Anel memegangi handuk yang ada melilit ditubuhnya supaya tak lepas. sehingga membuat Zafano leluasa menciumi Anel, tak lama Anel pun ikut terlena dalam aksi Zafano ikut membalasnya.


Zafano yang sedari tadi ******* bibir Anel secara lembut kini turun kebagian leher, dia mengecup dan menghisap, sengaja agar terdapat tanda merah pada leher Anel.


" Please... sudah pak" rengek Anel saat tangan Zafano ingin meremas salah satu gunung kembarnya.


Zafano menatap Anel, dengan raut wajah Anel yang mau sedih begitu juga dengan bekas kiss mark Zafano yang begitu banyak di lehernya. Membuat Zafano menyudahi aktifitasnya, ada rasa bersalah pada diri Zafano tapi dia juga masih menginginkannya karena nafsunya.


" Nih.. baju dan make up buat kamu" sambung Zafano menyerahkan dua paper bag.


" Astaga... saya lupa kalau belum pakai baju.." sambung Anel berlari menuju kamar mandi.


"Duh..malu banget gue kenapa bisa teledor gini sih, pantasan saja tadi dia nyium gue karena tergoda" batin Anel sambil memakai bajunya.


" Emm.. bagus juga nih baju.. tau aja selera gue" guman Anel sambil berkaca dikamar mandi dan melihat banyak tanda kiss mark dilehernya.



" Akhh.. sialan banget tanda kiss marknya banyak lagi, gimana cara nutupinnya" guman Anel pada dirinya sendiri.


Setelah selesai Anel segera keluar kamar mandi dilihatnya Zafano yang sedang berbicara diseberang telepon. Setelah selesai menelfon Zafano berbalik ke arah Anel, dia begitu terpana melihat Anel yang begitu cantik memakai dress yang dipesannya lewat orang suruhannya dan tersenyum sedikit karena melihat banyak kiss mark dileher Anel karena ulahnya. Dengan make up tipis dan kelihatan natural Anel terlihat cantik dan itu membuat Zafano semakin menginginkannya.


" Beautifull."guman Zafano lirih mungkin hanya dia yang mendengarnya.


"Pak saya mau pulang, tapi saya malu dengan leher saya " ucap Anel sedih dan melihatkan pupil eyes nya.


"Kenapa harus malu, itu sangat indah kalau dilihat sama orang lain apalagi cowok" jawab Zafano sambil tersenyum.


"Oh, iya saya baru ingat kenapa kalung berlian yang dikasih bunda ga kamu pakai?" sambungnya.


"Eeee..eee.. saya takut kalau harus pakai kalung itu, takut hilang apalagi harganya begitu mahal" jawab Anel sambil menunduk ketakutan.


"Okay, tapi saya minta mulai besok kamu memakainya dan ga usah khawatir jika hilang nanti bisa di beli lagi" ucap Zafano tertawa.


"Baik pak, tapi gimana dengan leher saya" ucap Anel kesal.


"Di alat make up mu pasti ada fondation kan, nah di olesin saja pada bekas kiss mark buat menutupi. Gitu aja ga tau dasar bodoh" jawab Zafano sambil mengacak rambut Anel.


"Iya ada, tapi rambut saya jangan diberantakin kek gini" ucap Anel sambil membenarkan rambutnya dan dibantu Zafano menutupi bekas kiss mark dengan fondationnya.


~~


Dikediaman Miligan, William dan Wilna tengah sarapan bersama tanpa Anel dan Emelly kini tengah berada diapartemennya sementara waktu untuk menutupi kehamilannya dan setelah cukup baik tidak mual terus baru dia akan kembali kerumah Miligan untuk memberitahu kehamilannya pada keluarganya.


Setelah sarapan rencananya mereka akan bertemu dengan calon besan untuk membahas hari pernikahan Anel dan Zafano.


sedangkan dikediaman Stanley pun sama Rendi dan Ratna tengah bersarapan bersama tanpa adanya anak mereka.


" Bund, Zafano pulang ke apartemen ya?" tanya Rendi.


" Tidak seperti biasanya dia mau pulang ke apartemen" ucap Rendi.


" Biarin saja, mungkin dia bosen tinggal dirumah terus lagian dia sudah besar, dia nanti juga bilang katanya mau ikut Kita ketemu dengan William dan Wilna" jelas Ratna.


" Bagus itu bund " jawab Rendi singkat.


Kembali di Apartemen Zafano


" Ya sudah sekarang kita sarapan dulu" ucap Zafano pada Anel sambil melangkah pergi ke dapur.


"Iya" jawab Anel singkat mengikuti langkah Zafano pergi.


Dimeja makan tak ada yang berani untuk saling berbicara hanya sepatah kata saja. Hanya bunyi sendok dan piring yang menemani mereka.


"Ouh ya, gue baru inget. Kenapa bekas tanda merah yang ada di gunung kembarku sama di leher saat pak Zafano memberinya. Apa bener ya itu juga olah pak Zafano?" batin Anel sembari mengingat tanda merah yang berada di gunung kembarnya saat berada di kamar mandi.


"Kamu mikiran apa, kenapa nasi gorengnya ga di makan cuma dimainin saja? apa tidak enak rasanya?" ucap Zafano yang dari tadi melihat Anel tidak memakan makanannya.


"Haa..tidak kok pak, ini nasi gorengnya enak banget" jawab Anel gugup sambil menyuapi mulutnya biar Zafano percaya padanya.


"Issh...gara gara mikirin itu jadi gugup begini, apa gue tanyain aja sama pak Zafano" batin Anel lagi sambil makan.


"Pak Zafano..apa saya boleh bertanya" ucap Anel lirih dan hati hati pada Zafano.


"Dia mau tanya apa, oh ya aku baru inget..semoga dia ga nanya tentang itu" batin Zafano sambil menggerutuki dirinya dan raut wajahnya terlihat khawatir.


"Bapak baik baik saja kan?" tanya Anel yang kini melihat wajah Zafano khawatir.


"Oh iya kamu mau nanya apa" jawab Zafano menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Hmm..apa pak Zafano emm...telah..emm" ucap Anel bingung mau bicara gimana karena dia juga malu pada Zafano jika bertanya tentang itu.


"Kalau bicara tuh yang bener,bukan hmm....emm...emm" jawab Zafano ketus dan panik.


"lya ....maaf pak"ucap Anel lirih dengan menunduk.


Sarapan pun telah selesai kini Anel beranjak dari duduknya untuk mencuci piring bekas makan dirinya dan Zafano.


"Ternyata kamu bisa mencuci piring juga" ucap Zafano sambil tersenyum melihat Anel.


"Ya bisa lah pak, masak dan mencuci baju aja saya bisa" jawab Anel sedikit ketus.


"Bagus dong, bearti kamu ga kayak cewek di luaran sana yang cuma bisa.." ucapnya terpotong oleh Anel.


"Maksud bapak yang cuma bisa ngabisin uang suami dan main di atas ranjang doang" ucap Anel spontan dan langsung membekap mulutnya dengan tangan.


"Uhh..kenapa aku bisa keceplosan bicara kek gitu" batin Anel malu.


"Hahaha...ternyata kamu bisa berpikir kotor juga ya..haha" ucap Zafano sambil tertawa bahak bahak mendengar perkataan Anel.


"Minggir saya mau pulang" ucap Anel ketus melewati Zafano tapi tangannya ditarik dan jatuh dipelukan Zafano.


"Ihh..lepasin saya bapak"ucap Anel memberonta karena terkejut di tarik dan dipeluk oleh Zafano.


"Kalau saya ga mau gimana" jawab Zafano tersenyum smirk dan mendekatkan wajahnya pada Anel, lalu dia menutup matanya sambil tersenyum karena sudah siap jika harus dicium oleh Zafano. Zafano yang melihat tingkah Anel pun tertawa.


"Hahaha...siapa yang mau menciummu gadis aneh" ucap Zafano tertawa membuat Anel tersadar membuka matanya dan merasa lalu karena tingkahnya yang dikira akan di cium oleh Zafano.


"Siapa juga yang mau dicium oleh bapak...apalagi bapak sudah tua" jawab Anel ketus memalingkan mukanya.


"Apa katamu saya sudah tua? apa kamu tidak lihat wajah handsome saya yang masih fresh gini kamu bilang tua" ucap Zafano sedikit menyolot.


"Iya bapak sudah tua...wlee" jawab Anel sambil meledek.


"Ouh kamu menghina saya ya, rasa kan ini...cup.. "Zafano mencium bibir Anel


"ltu hukaman buat kamu sudah mengatakan kalau saya sudah tua" ucap Zafano dan Anel diam membeku setelah dicium oleh Zafano.


Zafano yang melihat Anel berdiri membeku dipelukannya lalu melepaskannya.


"Ayo sekarang saya antar kamu pulang" ucap Zafano pada Anel dan dia cuma diam tanpa menjawab perkataan Zafano.