
Mobil yang di kendarai Anel sudah sampai di perkarangan kediaman Miligan. Dia memakirkan mobilnya di garansi, lalu turun dan segera masuk ke dalam rumah. Anel langsung menuju ke dapur karena haus.
"Non, baru pulang ya" tanya bi Ola tiba-tiba di belakang Anel yang sedang minum.
"lya bi, mamah kemana kok tumben gak ada di dapur?" tanya Anel, heran biasanya mamahnya akan memasak di sore hari untuk makan malam.
"Ouh, nyonya ada di kamarnya bersama tuan, non.." jawab bi Ola lalu diangguki Anel.
"Yaudah kalau gitu saya ke atas ya bi, mau bersih-bersih sekalian istirahat" ucap Anel sambil mengendus-ngendus nyium bau badannya yang sudah tida sedap.
"Iya non" jawab bi Ola.
Anel pun pergi melangkah naik ke lantai dua tempat kamarnya berada. Saat sudah sampai di dalam kamar Anel pun meletakkan tasnya di meja belajarnya. Lalu mengambil baju ganti di lemari dan segera mandi untuk menyegarkan badannya serta biar wangi.
Setelah beberapa menit di kamar mandi, Anel keluar dengan memakai baju rumah.
"Uhh, segarnya habis mandi dan udah wangi pula" ucap Anel sambil berjalan ke meja rias.
Setelah selesai merias dia berjalan menuju ranjang, dan membaringkan tubuhnya yang sudah lelah di atas kasur empuknya. Dia tidak menyadari jika di sampingnya ada Zafano juga yang sedang tidur, karena dia tidak melihat tubuh Zafano yang tertutup dengan selimutnya semua.
Di tidurnya yang sudah sangat nyenyak, tiba - tiba dia merasakan ada sesuatu yang berat di atas perutnya. Saat Anel mencoba membuka matanya untuk melihat ada apa di atas perutnya, dia tersontak kaget. Melihat tangan kekar milik Zafano kini berada diatas perutnya, Zafano memeluk Anel dengan posisi miring menghadap Anel.
"Huuuuwwwaaaaa....." teriak Anel bangun melihat Zafano tidur berada di samping dan memeluknya. Suara teriakan Anel membangunkan Zafano, dengan segara Zafano membekap mulut Anel dengan tangannya. Supaya suara teriakan Anel tidak di dengar oleh semua orang yang berada di dalam rumah Miligan dan melihat ke kamar Anel.
"Apaan sih pak, main bekap mulut saya. Bau lagi tangannya" ucap Anel ketus sambil melap mulutnya yang sudah di lepaskan Zafano.
"Ya kamu, kenapa teriak-teriak bikin telinga saya sakit, ganggu orang tidur" ucap Zafano tak mau kalah.
"Cih, seharusnya saya yang marah. Kenapa bapak bisa ada di sini dan tidur di kamar saya lagi" ucap Anel marah sambil matanya melotot.
"Saya disini main ketemu mamah papah, kalau saya bisa tidur di kamarmu itu perintah mamah. Dia nyuruh saya buat istirahat tidur di kamarmu karena kamar tamu kotor ga sempat dibersihkan"jawab Zafano santai dan Anel diam mendengar perkataan Zafano.
"Ta...tapi kan bapak bisa tidur di sofa, gak harus di ranjang di samping saya pula"jawab Anel sedikit membentak.
"Buat apa tidur di sofa kalau ada kasur yang empuk" ucap Zafano.
"Lagian tadi waktu saya tidur di ranjang ini, belum ada kamu. Ya seharusnya kamu yang tidur di sofa, udah tau ada saya disini." sambungnya.
"Ya mana saya tau kalau ada bapak disini, kalau saya tau. Saya gak akan tidur sama bapak" jawab Anel.
"Cih, bilang tidak tau. Badan segini gedenya gak lihat apa" ucap Zafano.
"Ya saya memang gak melihat bapak tidur di ranjang saya" ucap Anel membela diri karena memang dia tadi tak melihat Zafano yang tertutup selimut.
"Udah deh kalau mau tidur disamping saya tuh, bilang aja ga usah cari alasan" ucap Zafano mendekat dengan nada meenggoda.
"Idih, pede banget. Saya aja gak suka sama bapak" jawab Anel kesal karena di tuduh Zafano, walaupun ada sedikit rasa senang di hatinya.
"Yakin kamu tidak suka sama saya" tanya Zafano menggoda.
"Ya, saya tidak suka sama bapak" jawab Anel.
"Baiklah, kalau gitu mari kita buktikan" ucap Zafano mendekat lagi pada Anel.
"Bapak mau ngapain, jangan macam-macam ya. Saya aduhin ke papah mamah nanti" jawab Anel memundur saat Zafano makin mendekati dirinya, merasa takut jika Zafano akan berbuat yang tidak -tidak kepadanya.
"Ya, saya mau buktiin saja. Apa kamu bisa tidak membalas ciuman saya, jika kamu benar tidak suka sama saya."ucap Zafano tambah mendekat pada Anel dan mendorong tubuh Anel hingga terlentang di ranjang. Dan menggenggam salah satu tangan Anel.
Anel yang melihat Zafano mendekatkan wajahnya pada dirinya pun menelan savila. Kini wajah Zafano dan Anel sudah menempel begitu pula bibir mereka yang saling menyentuh. Anel yang melihat Zafano akan mencium dirinya, dia langsung menutup matanya.
Zafano yang melihat Anel menutup mata, dia segera mencium bibir Anel dan sedikit menggigit bibir Anel supaya terbuka. Anel yang merasakan sakit pada bibirnya langsung membuka matanya. Dia melongo menatap Zafano yang kini sedang mencium bibir Anel dengan cara ******* menyesap bibir seksi milik Anel. Anel pun hanya diam dan melihat Zafano menciumi bibirnya tanpa membalasnya. Lama kelamaan ciuman itu memabukan, Anel menikmati sentuhan yang diberikan oleh Zafano dan membuatnya ikut membalasnya. Mengikuti permainan Zafano.
"Emmmhh" lenguh Anel di sela- sela ciuman mereka.
Kini lidah Zafano dan Anel saling mengikat membuat mereka bertukar savila. Anel kembali mendesah saat mereka bersama merengkuh kenikmatan berciuman.
"Emmmhh"
"Eemmm"
Zafano yang mendengar desaahan Anel pun menindihi tubuh Anel. Ciuman panas itu turun kejenjang mulus leher Anel tak lupa dia memberi tanda merah disana. Di sela- sela desahan Anel, Zafano membisikan tiga kata di telinga Anel.
"I Love You" bisik Zafano lalu kembali menciumi leher Anel. Sambil tangannya membuka kancing bagian atas baju Anel lalu menenggelamkan wajahnya di belahan gunung kembar besar milik Anel. Zafano pun langsung *******, menyesap pada benda kenyal itu tak lupa tangan yang satunya dibuat meremas gunung kembar yang satunya hingga membuat Anel mendesah.
"Aahhh"
Diluar pintu kamar Anel kini sedang ada seorang gadis yang menguping kegiatan panas mereka dan sedikit mengintip karena pintu kamar Anel sedikit terbuka tidak tertutup rapat.
"Sayang..emmhh punyamu sangat enak" ucap Zafano sambil mendesah.
"Aaaaaahhhh..Zafano" desah Anel sambil menekan kepala Zafano biar menyesap lebih dalam pada miliknya.
"Kamu sepertinya sangat menyukai Anel, sekarang aku rela jika kamu bersamanya" gumannya lagi sambil menitihkan air mata.
"Semoga papa mu mau menerimamu sayang" batin gadis itu sambil mengelus perutnya yang masih rata dan meninggalkan mereka menuju kamarnya.
Zafano pun menghentikan aksinya pada saat sadar kalau yang dilakukannya adalah salah. Dia segera bangun dari tubuh Anel dan duduk. Anel yang melihat Zafano menghentikan aksinya sedikit kesal. Karena Anel sudah hampir berada di puncaknya dan menginginkan lebih, Anel pun segera ikut duduk sambil membenarkan bajunya saat Zafano melihat dirinya.
"Kenapa berhenti" tanya Anel polos yang masih tidak rela Zafano berhenti main sambil menatap punggung Zafano dan membuat Zafano tersenyum sambil membalik badannya menghadap Anel.
"Hahaha..kenapa kamu bicara begitu" ucap Zafano menatap wajah Anel yang merasa kesal.
"Bukannya kamu tidak suka sama saya bukan? saya nglakuin itu ke kamu cuma melihat apa kamu bisa tidak membalasnya" jelas Zafano sambil tersenyum sinis.
Membuat Anel diam seketika, dimana dia masih menginginkan sentuhan itu lagi tapi dia juga begitu malu dengan apa yang diucapkannya tadi. Sungguh kini Anel dibuat bingung dimana dia selalu menikmati setiap Zafano menyentuhnya tapi Anel masih bingung apakah dia sudah benar-benar mencintai Zafano belum.
"Kenapa kamu diam" tanya Zafano lembut pada Anel.
"Ehhh..apa" tanya Anel balik saat sadar dari lamuannya.
"Kamu mikirin apa" tanya Zafano melihat Anel sedang melamun seperti memikirkan sesuatu.
"Ahh..tidak kok" jawab Anel singkat dan diangguki Zafano.
"Apa bapak..eh kak Zafano beneran, sama yang kak Zafa katakan tadi"tanya Anel saat keingat Zafano menyatakan perasaannya pada dirinya saat menyumbunya tadi.
"Ngatakan apa dan yang mana" tanya Zafano tak ingat.
"l...itu tadi kak Zafa bilang mencintai aku, waktu gituan" jawab Anel gugup dan menunduk.
"Hahaha... ouh itu" jawab Zafano tertawa.
"Apa itu serius" tanya lagi.
"Kalau beneran gimana? apa kamu mau menerima aku dan ninggalin cowokmu?" tanya Zafano santai.
Anel yang mendengar perkataan Zafano pun menatap mata Zafano apa ada kebohongan disana. Dan Anel pun mengangguk saat melihat tidak ada kebohongan di mata Zafano.
"Kamu serius?" tanya Zafano tak percaya dengan perkataan Anel yang menerima dirinya, sekaligus bahagia.
"lya, tapi aku masih belum sangat mencintai kak Zafa, tapi aku akan berusaha mencintai kakak selamanya dihatiku" jawab Anel tersenyum dan Zafano sangat bahagia mendengar jawaban dari Anel lalu dia memeluk Anel dan mencium keningnya.
"Makasih kamu udah mau menerima aku" ucap Zafano dan di balas Anel dengan senyuman manis.
"Bearti kamu setuju buat putusin cowokmu" tanya Zafano membuat Anel terkejut dan tertawa bahak-bahak.
"Buuwaa..hahaha..putusin cowok, maksudnya" tanya Anel balik sambil tertawa. Zafano yang melihat Anel tertawa pun bingung.
"Iya, kamu putusin cowokmu, Nathan" jawab Zafano kesal yang melihat Anel terus tertawa.
"Bapak mengira kalau saya pacaran sama Nathan gitu" tanya Anel tersenyum dan diangguki Zafano.
"Kenyataannya kan begitu kamu menerima Nathan, saat dia nembak kamu" ucapnya lagi dan membuat Anel kembali tertawa yang pasti membuat Zafano menjadi kesal.
"Kalau itu bapak salah paham" ucap Anel sambil menatap Zafano.
"Salah paham gimana? jelas-jelas kamu menerima bunga dari Nathan" tanya Zafano.
Anel pun menceritakan semuanya saat Nathan menembak dirinya hingga menerima bunga dari Nathan dan menolaknya, karena dia sadar kalau dirinya sudah dijodohkan walaupun tidak bilang sama Nathan.
"Ouh jadi gitu" ucap Zafano.
"Iya, apa bapak cemburu saat melihat Nathan menembakku" tanya Anel.
"Tidak, saya tidak cemburu saat itu. Karena saya belum suka sama kamu" jelas Zafano dan membuat Anel sedikit cemberut.
"Apa kamu mau nerusin yang tadi lagi" tanya Zafano menggoda Anel biar tidak cemberut lagi. Anel yang tau arah pembicaraan Zafano pun malu dan pipinya menjadi merah merona.
"Kenapa diam dan pipimu merah" tanyanya lagi sambil tertawa karena dia tau kalau kekasihnya itu sedang malu dengannya.
"Ngak papa kok, cuma takut aja" ucap Anel lirih lalu menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Tenang saja saya gak akan nglakuin itu sama kamu, sebelum kita nikah dan kamu sudah siap" jawab Zafano lembut sambil mengacak -acak rambut Anel. Anel benar-benar bahagia setelah mendengar perkataan Zafano. Dan dia sudah salah mengira kalau Zafano orangnya dingin, cuek, galak dll.
"Makasih" ucap Anel tersenyum lalu memeluk Zafano.