MY RECTOR MY HUSBAND

MY RECTOR MY HUSBAND
Terbongkarnya (kehamilan Emelly pada keluarganya)



Kini Anel sudah pulang dan berada dikamarnya, setelah diantarkan Zafano pulang dari cafe Daniel.


Malam pun telah tiba, Anel dengan segera keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju lantai satu untuk makan malam bersama.


"Malam mah..pah" sapa Anel sambil duduk.


"Malam sayang" jawab William dan Wilna.


"Ayo pah..Nel..makan. Setelah itu bisa istirahat lagi" ucap Wilna.


"Kak Emelly dimana mah, kok gak ikut makan" tanya Anel.


"Iya, tumben Emelly gak ikut makan bersama" sambung William.


"Emellynya lagi gak enak badan, mungkin dia lagi masuk angin. Dari tadi pagi dia mual-mual terus" jelas Wilna.


"Udah kamu panggilkan dokter" tanya William lagi.


"Emellynya tak mau dipanggilkan dokter, katanya dia lagi masuk angin dan sudah minum obatnya" jawab Wilna dan diangguki William.


"Anel, setelah makan nanti tolong antar makanan ke kamar kakakmu. Kasihan dia pasti perutnya kosong" ucap Wilna pada Anel. Karena dia merasa khawatir pada Emelly yang mual terus dari tadi pagi. Dan setiap makanan yang masuk kedalam mulutnya selalu di keluarkan lagi. Namanya aja orang hamil ya, pasti begitu....


"lya mah" jawab Anel.


Setelah selesai makan, Anel pun berjalan ke dapur untuk mengambilkan makanan buat Anel.


"Bi Ola, bikin susu untuk siapa" tanya Anel penasaraan, setahunya bi ola tak suka dengan susu.


"Ini susu buat non Emelly, tadi dia nyuruh bibi bikinin susu" jawab Bi Ola.


" Non Anel, mau ngapain" tanya Bi Ola.


"Mau ngambil makan buat Kak Emelly" jawab Anel.


"Ini sudah bibi siapin, dan mau saya anter ke kamar non Emelly" ucap Bi Ola.


"Yaudah, biarin saya aja yang bawa ke kamar kak Emelly.Bibi lanjutin pekerjaan bibi atau nggak istirahat saja" jawab Anel.


"Tapi non.." ucap bi Ola terpotong.


"Biar saya aja" ucap Anel sambil mengambil alih nampan yang berisi makanan dan minuman susu, dipegang bi Ola.


Dengan segera Anel melangkahkan kakinya menuju kamar Emelly yang berada di sebelah kanan kamarnya.


Tokk...tok...


"Kak Emelly" teriak Anel depan pintu kamar.


"Iya sebentar" jawabnya sambil berjalan ke arah pintu untuk membukanya karena dikunci.


Clekk


"Ada apa Nel" tanya Emelly.


"lni makanan dan susu buat kak Emelly" jawab Anel sambil masuk kedalam kamar Emelly dan meletakan nampan makanan di atas meja.


"Makasih Nel, silahkan kalau mau pergi." ucap Emelly.


"Aku mau memakan makanan dan juga susu ku" sambungnya.


"lshhh, jadi kakak mengusirku" jawab Anel sedikit cemberut karena dia baru mendudukan bokongnya di sofa dan juga sedikit lelah menaik anak tangga yang begitu banyaknya.


"Bukan mengusirmu tapi menyilahkan kamu, jika kamu mau kembali kekamarmu. Biar piring dan gelasnya nanti di ambil oleh bi Ola" jelas Emelly.


"Ouh, kalau gitu ijinkan. Aku untuk duduk sebentar di sini ya kak, aku lelah menaiki anak tangga yang begitu banyaknya." ucap Anel sambil membaringkan tubuhnya di sofa.


"Baiklah" jawab Emelly singkat.


"Kakak, sakit apa. Kata mamah kak Emelly muntah-muntah terus dari tadi pagi" ucap Anel.


"Aku hanya kelelahan saja dan mungkin masuk angin karena sibuk bekerja" jawab Emelly berbohong.


"Makanya kakak jangan sibuk bekerja terus jadi sakit kan, Dan kalau saat kerja jangan lupa buat minum vitamin dan makan secara teratur biar gak mudah sakit" ucap Anel membuat Emelly yang mendengarnya merasa sedikit terenyuh dengan perkataan Anel, hatinya merasa sedih saat mendengar nasehat dari adiknya itu. Tak di sangka kalau adiknya itu juga begitu perhatiaan kepadanya, menyesal pasti. Emelly saat menyesal dengan perilakunya terhadap adiknya dulu, jika Emelly sadar dan tau kalau adiknya itu sangat menyayangi dan baik terhadapnya mungkin dia tak akan pernah jahat padanya.


"Kak, kalau gitu aku pamit ya mau istirahat di kamarku" ucap Anel dan diangguki Emelly.


Saat Anel sedang berjalan, tak sengaja dia menyenggol tas Emelly yang berada di meja terjatuh ke lantai dan saat ingin mengambilnya. Anel melihat amplop berwarna putih terjatuh dari dalam tas Emelly. Saat Anel mau memasukkan ke dalam tas Emelly tak sengaja dia membaca tulisan yang berada di di amplop itu yang bertuliskan nama rumah sakit. Anel yang merasa penasaran pun membuka amplop itu untuk mengetahui isinya. Anel terkejut dan tak percaya saat melihat tulisan yang berada di kertas itu menunjukkan kalau Emelly positif hamil dan usia kandungannya sudah lebih dari 1 bulan. Seketika Anel berbalik badan berjalan ke arah Emelly untuk bertanya, apakah Emelly beneran sedang mengandung. Dan siapa ayah dari anak yang dikandung Emelly, isi pikiran Anel.


"Anel, kenapa kamu kembali lagi" tanya Emelly sambil meletakan piring di atas nakas samping ranjang.


"Kak, aku mohon kakak jujur sama aku" ucap Anel sambil menunjukan amplop yang berisi kertas menunjukan bahwa Emelly positif hamil.


"Kamu dapet ini darimana" tanya Emelly gemetaran mengambil amplop itu dari tangan Emelly.


" Aku mendapatkannya dari tas kakak, tak sengaja aku tadi menjatuhkannya" jawab Anel.


"Beraninya kamu mengambil itu dari dalam tas kakak, tanpa ijin dulu" bentak Emelly yang sekarang ini merasa sedih, marah dan khawatir jika keluarganya tau kalau dia tengah mengandung buah hatinya dengan Dion.


"Kak, aku bertanya apa benar. Kalau kak Emelly sedang hamil dan usianya satu bulan lebih. Kenapa kak Emelly gak jujur dan bilang kepada kita" ucap Anel sedikit keras.


Tak terasa air mata Emelly kini jatuh membuat Emelly menangis. Anel yang melihat kakaknya menangis, dia pun menghampiri dan ikut duduk disampingnya sambil memeluk.


"Kak,sekali lagi aku tanya apa kakak beneran hamil" tanya Anel lembut dan diangguki Emelly dengan wajah tertunduk sedih.


"Astaga kak, kenapa kakak bisa ceroboh seperti ini. Kalau papah dan mamah tau pasti, mereka marah dan kecewa sama kakak" ucap Anel ikut sedih dia tak tau harus berbuat apa dan juga bingung dengan jalan pikiran Emelly.


"lya aku tau, maka dari itu tolong jangan beritahu papah dan mamah" ucap Emelly menatap Anel sambil memohon padanya.


"Huufhh" Anel menghela nafas panjang.


"Tapi siapa yang telah menghamilimu kak" tanya Anel.


Brak


Pintu dibanting oleh William dari luar, dia merasa sangat marah kepada putri sulungnya itu. William tak sengaja mendengar percakapan Anel dan Emelly, saat ingin masuk ke kamar Emelly untuk mengetahui kondisinya. Tapi saat sampai didepan pintu ingin masuk dia mendengar percakapan kedua putrinya itu. Lalu dia mengurungkan dirinya untuk masuk terlebih dahulu dan memilih untuk menguping pembicaraan kedua putrinya itu sampai selesai. Tapi William yang sudah merasa sangat marah dan emosi mendengar kenyataan kalau Emelly tengah hamil diluar nikah, dia pun langsung membanting pintu kamar Emelly untuk masuk.


"Pa...papah.." ucap Anel dan Emelly gugup karena kaget mendengar pintu dibanting oleh William sangat keras. Anel dan Emelly yang melihat wajah William merah padam karena marah dan emosi. Seperti macam yang ingin menerkan mangsanya pun menjadi sangat takut.


"Papah" ucap Emelly takut melihat William yang sudah berdiri di depannya yang ingin memarahi serta menghajarnya.


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Emelly dan memberi bekas tanda merah disana. Membuat Emelly meringis kesakitan dan menangis.


"Papah" ucap Anel keras, dia tak percaya melihat William pertama kali menampar Emelly dengan begitu kerasnya. Pasalnya dia tak pernah melihat William berlaku kasar terhadap dirinya dan Emelly selama ini.


" Dasar anak tak tahu diri, apa ini balasanmu untuk kami yang menjaga dan merawatmu" bentak William pada Emelly. Dan ingin melayangkan tamparan lagi pada Emelly. Tapi tangan Willian ditahan oleh Anel supaya tidak kena pipi Emelly.


"Pah, sudah jangan menampar kak Emelly lagi. Kasihan kak Emellynya pah." ucap Anel sambil menangis.


Wilna yang mendengar suara keributan dari kamar Emelly pun langsung menghampirinya. Dilihatnya kedua putrinya menangis dan wajah William yang merah karena sangat marah dan emosi dengan salah satu tangannya di pegang Anel saat ingin menampar Emelly tadi.


"Stop..ada apa ini" teriak Wilna.


"Apa yang papa lakukan sampai kedua putri ku menangis" sambungnya.


"Ada apa sebenarnya ini Nel" tanya Wilna pada Anel dan Anel pun melepas tangan William yang ditahannya tadi.


"Papah ingin menampar kak Emelly lagi, jadi aku menahannya" ucapnya lirih dan dia tak berani untuk memberitahu Wilna jika Emelly tengah hamil.


"Pah..kenapa papah menampar Emelly" tanya Wilna lirih sambil menatap William.


" Tanya saja pada putrimu itu, kenapa dia bisa membuatku marah seperti ini sampai aku menamparnya" jawab William sedikit keras. Wilna pun beralih menatap Emelly karena dia penasaran apa yang dilakukan Emelly sampai suaminya itu berbuat kasar pada Emelly. Jika karena bukan masalah besar karena William juga tak pernah berbuat kasar pada kedua putrinya sama seperti dirinya.


"Emelly, bicara pada mamah. Apa yang sebenar terjadi dan sedang kamu lakukan" tanya Wilna sedikit keras dan Emelly hanya diam dengan wajah tertunduk menangis.


"Emelly tatap mama dan jawab pertanyaan mama" bentak Wilna.


Emelly pun mengangkat wajahnya yang sedih untuk menatap Wilna.


"Mah,, maafin Emelly" ucap Emelly lirih sambil menangis.


"Emelly hamil"sambungnya.


Wilna yang terkejut mendengar pernyataan putri sulungnya itu, seperti mendapat ribuan duri yang menghantam hatinya hingga membuatnya merasa sedih dan lemas hingga terduduk dilantai.


Anel yang melihat Wilna terduduk lemas dilantai, segera menolongnya dan di ajak buat duduk di sofa.


"Sekarang kamu sudah tau kan, apa yang dilakukan putri sulungmu itu" ucap William keras dan segera menyalangkan tangannya untuk menampar Emelly lagi tapi di cegah oleh Wilna.


"Pah..mama mohon jangan tampar Emelly, jika papa melakukannya bearti papa juga menyakiti mama" teriak Wilna menangis pada William. William pun menurunkan tangannya dan tak jadi menampar Emelly setelah mendengar perkataan istrinya itu.


"Tapi mah.." ucap William terpotong oleh Wilna.


"Papah, gak berhak buat bertindak kasar kepada Emelly putriku dan juga Anel nanti, mereka anakku." ucap Wilna.


"Emelly dan Anel juga anakku, jadi aku berhak buat ngasih pelajaran buat mereka saat melalukan kesalahan. Termasuk Emelly sekarang" ucap William kesal.


"lya pah, aku tau tapi jangan dengan cara kasar kasihan Emelly dan juga anak yang dikandungnya itu" jawab Wilna. William yang sudah merasa kesal pun mendudukan dirinya di sofa samping Anel.


"Sekarang kita tanya dan bicara kepada Emelly dengan baik-baik" ucap Wilna dan William hanya menghela nafas.


"Emelly, kenapa kamu sampai melakukan perbuatan terlarang itu dan dengan siapa kamu melakukannya" tanya Wilna.


"Maaf kan aku, pah..mah..dan Anel. Maafkan aku yanng sudah berbuat hubungan terlarang itu bersama Dion" jawab Emelly lirih dan menceritakan kronologi dirinya dan Dion karena telah berani melakukan hal itu tanpa ditutupi.


"Jadi Dion pria yang melakukan hal itu sama kamu hingga hamil" ucap Wilna tak percaya, karena dia kenal dan melihat Dion karena sering main ke kediamannya dan Wilna berpikir jika Dion teman cowok yang baik untuk Emelly yang tak akan merusak Emelly putrinya itu tapi kenyataannya.


"Emelly...Emelly apa yang ada di pikiranmu itu. Papah benar-benar malu dan pusing dengan sifat dan perilalumu itu. Dulu kau meninggalkan Zafano dengan cara menghina, lalu setelah tau kalau Zafano calon suami adikmu karenna dijodohkan kamu memintaku buat membatalkannya, sekarang kamu ngasih kenyataan yang paling membuat kami sangat kecewa terhadapmu. Papah tak pernah menyangka jika kamu berani melakukan hal itu hingga hamil" ucap William pusing dengan perilaku putri sulungnya itu.


"Mamah, juga sangat kecewa padamu Ly. Apa selama ini kamu merasa kurang dengan kami yang memberimu kasih sayang, harta yang cukup untuk hidupmu hingga lebih, apa pun keinginanmu kami turuti hingga memberimu kebebasan untuk bergaul dengan teman-temanmu"ucap Wilna sedikit keras.


"Kami memberimu kebebas untuk bergaul itu, bukan bearti kamu bisa seenaknya sampai masuk pergaulan bebas hingga kamu hamil di luar nikah" sambungnya dengan sedih.


"Mama dan papa sangat merasa kecewa telah memberimu kebebasan padamu"ucap Wilna lagi lirih.


"Ya Tuhan, apa salahku hingga kau memberi cobaan ini untuk ku" ucap William frustasi sambil mengelus wajahnya dengan tangan.


"Aku telah gagal mendidik putri sulung ku sebagai ayahnya" ucapnya lagi.


"Sabar pah, mama juga merasa begitu" jawab Wilna.


Emelly kini menatap kedua orang tuanya yang begitu sedih dan kecewa terhadapnya. Dia menangis sejadi-jadinya dan juga merasa sangat menyesal pada dirinya. lngin rasanya dia kembali ke waktu itu jika waktu bisa di putar kembali. Dia ingin sekali memperbaikinya dan tidak melakukan hubungan terlarang tapi apalah dayanya nasi sudah jadi bubur dan semuanya sudah terjadi. Anel pun hanya bisa diam untuk melihat dan mendengarkan saja, ingin rasanya dia ikut berbicara tapi dia juga tak ingin membuat orangtuanya jadi marah saat mendengarkan perkataannya jika tak sesuai dengan pikiran orang tuanya.


" Sekali lagi maafkan aku, pah..mah" ucap Emelly memohon sambil duduk bersujud di kaki kedua orang tuanya supaya mendapatkan ampunan.


"Kak, berdiri jangan seperti itu" ucap Anel sambil mengangkat tubuh Emelly supaya mau berdiri.


"Apa kamu sudah menemui Dion dan memberitahu keadaanmu sekarang" tanya Wilna.


"Aku sudah mengirim pesan kepadanya tapi dia tak membalasnya. Dan aku sudah mendatangi apartemennya tapi dia tak ada. Dan aku bertanya pada temannya, temannya bilang kalau Dion tengah berada diluar kota mengurus bisnisnya dan tak bisa diganggu" jelas Emelly.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Ly" tanya William pasrah.


"Aku menemui Dion sekali lagi untuk meminta pertanggung jawabannya" jawab Emelly.


"Kalau Dion tak mau bertanggung jawab" tanya William lagi.


"Aku tetap akan membesarkan dan merawat anak yang aku kandung ini, sendiri. Walaupun dia harus tidak merasakan kasih sayang seorang ayahnya." jawab Emelly lirih.


"Apa kamu yakin bisa melakukannya sendirian" tanya Wilna.


"Aku yakin bisa untuk menjalani ini semua sendirian tanpa adanya Dion. Setelah Anel menikah aku akan pergi ke paris untuk menjalani hidupku yang baru. Sekalian mengurus perusahaan papa yang ada disana" jawab Emelly.


"Baiklah jika itu semua keinginanmu, semoga kamu bahagia. Dan jangan ulangi itu lagi membuat kami kecewa padamu, hingga membuat kami malu" jelas William.


"Aku janji gak akan mengulanginya, dan apa papah mamah memaafkanku" ucap Emelly menangis.


"Sudahlah sayang semuanya sudah terjadi, papah dan mamah memaafkan kamu. Tuhan saja mau memaafkan hambanya kenapa kita orang tuanya tak mau memaafkan anaknya"jawab Wilna tersenyum.


"Makasih pah..mah..udah mau memaafkan Emelly" ucap Emelly menangis bahagia lalu memeluk kedua orangtuanya. Anel yang melihat kakak dan orangtuanya berpelukan, dia pun ikut berpelukan bersama mereka. Anel merasa bahagia karena orangtuanya mau menerima Emelly yang tengah hamil dan memaafkan kesalahannya.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya ya...


Author udah capek-capek ngetik hampir sampai 2300 masak gak mau beri author like, vote dan hadiah...nanti authornya kecewa dan sedih lho kalau gak dikasih...


Makasihh