My Husband Is My Protector

My Husband Is My Protector
Ketegaran Davin



''jangan meminta maaf Sarra, kau tidak bersalah aku sadar disini akulah yang bersalah karna mencintaimu , tapi aku ingat kau Sarra bukan Sherindaku dan aku sadar cintaku hanya untuk istriku jadi jangan merasa bersalah atau sungkan padaku''


ungkap Davin , Sarra kembali menatap Davin dengan mata mulai berkaca-kaca


''Sarra, orang yang aku cintai sudah tiada tapi dia masih disini dan akan tetap di sini seperti kau mencintai Adam seperti itu juga aku mencintai Sherinda ''


kembali Davin berbicara sambil menunjuk dadanya sendiri Sarra tak kuasa menahan airmatanya untuk tidak menetes rasa bersalah pada Dokter itu berubah menjadi rasa haru juga kagum akan cinta pria itu pada mendiang sang istri yang tetap besar terjaga


tanpa Sarra dan Davin sadari pembicaraan mereka didengar dengan jelas oleh Adam melalui pengawal Sarra yang tak jauh berjaga dengan handphone yang terus tersambung bukan Adam tidak mempercayai Sarra namun ia yang merasa ragu akan Davin


begitu ia mendengar perkataan Davin ahirnya ia bisa merasa lega dan yakin pada sahabatnya itu yang tak akan pernah menghianatinya


''kau pria baik Dokter, aku yakin kau akan menemukan kebahagiaanmu suatu hari nanti''


ucap Sarra


''semoga saja, jangan menangis atau suamimu akan membunuhku karna membuatmu menangis ''


tutur Davin


Sarra tertawa dan mengusap airmatanya Davin memberikan saputangannya dari balik saku celananya ia mencoba untuk tegar dan menyimpan rasa cintanya jauh di lubuk hatinya agar Sarra tak merasa tertekan dan kembali merasa bersalah padanya


''bagaimana kalau kita berteman usia kita tak terpaut jauh juga ?''


tawar Davin


''baiklah, sepertinya itu tidak buruk aku juga tidak begitu banyak memiliki banyak teman ''


tukas Sarra


''mana mungkin wanita secantikmu tidak memiliki banyak teman, aku pikir pasti banyak pria yang ingin menikahi dan mendekatimu dulu''


tutur Davin


Sarra tertawa mendengar pertanyaan Davin yang mulai bicara santai dengannya


''ada beberapa tapi aku tak pernah menanggapinya, kau tau kan disini sudah ada pemiliknya''


Sarra menunjuk dadanya sendiri dan mengelus perut buncitnya Davin terbahak dengan jawaban Sarra


''Bigbos kau benar-benar beruntung ''


teriak Davin yang sebenarnya tau kalau Adam tengah mendengarkan pembicaraan mereka sedari awal Sarra membelalakan matanya dengan teriakan Davin karna orang-orang menatap mereka


sementara Adam segera menutup sambungan telponnya


''shittt''


Adam kesal dan beranjak menuju keluar ruangan Rarra membuat semua orang menatapnya kebingungan dengan apa yang dilakukan Adam


Sarra dan Davin nampak semakin asyik berbincang dengan sesekali Sarra tertawa bahagia dengan candaan Davin


Adam menghampiri mereka dengan wajah terlihat kesal


Sarra beranjak dari duduknya melihat Adam yang terlihat kesal Davin ikut beranjak dan tersenyum tenang dihadapan Adam yang menatapnya tajam


''kelihatannya kau senang sekali bisa bicara dengan istriku''


geram Adam


''Mas''


Sarra menjadi kikuk dihadapan Adam yang terlihat kesal itu Davin malah tersenyum timbul keinginan untuk membuat Adam semakin kesal terhadapnya Dokter muda itu memasukan kedua tangannya kesaku celananya


''Tuan Muda, kau sudah mendengar semua pembicaraan kami , kenapa kau masih terlihat kesal ''


tutur Davin , Sarra menatap Adam tak mengerti apa yang Davin bicarakan


''apa maksud Dokter Davin , Mas? jangan bilang kalau Mas, menguping pembicaraan kami ''


Sarra menatap Adam yang mulai kebingungan harus berkata apa


''sayang, Mas bisa jelaskan ''


tukas Adam dengan meraih tangan sang istri namun Sarra menepis tangan Adam


''Mas Adam keterlaluan , maaf Dok, saya permisi dulu ''


Sarra bergegas meninggalkan Adam dan Davin begitu saja ia begitu kesal dengan yang dilakukan Adam


''kau sengaja?''


teriak Adam pada Davin yang terbahak-bahak melihat Adam kelimpungan di acuhkan Sarra begitu saja


''sesekali aku mengerjaimu boleh kan? hahaha... benar kata Alex dan Wira kau bucin akut Tuan Muda hahaha... ''


Davin terpingkal-pingkal memegangi perutnya yang sakit karna tertawa Adam semakin kesal dengan apa yang dikatakan Davin


''kau... shittt, aahhh ... sudahlah aku tak punya waktu meladeni leluconmu ''


("meskipun hatiku sakit, tapi aku bahagia kau bersama orang yang tepat Sarra semoga kau bahagia selalu ")


lirih Davin menatap punggung Adam yang semakin menjauh


sementara Sarra kembali ke ruangan Rarra untuk berpamitan dengan semua orang dengan tergesa-gesa tanpa menunggu jawaban semua orang diruangan Rarra dibuat bingung dengan Sarra


tak lama Adam memasuki ruangan setelah kepergian Sarra , tanpa bertanya Adam yang tak melihat Sarra berada di ruangan itu pun memutuskan untuk segera mencari Sarra


Prasetyo dan semua orang tampak saling menatap satu sama lain dengan sama-sama memasang wajah bingung akan sepasang suami istri itu


''apa mereka sedang bertengkar ?''


gumam Rarra dan semua orang serempak menggelengkan kepala bersamaan


''tidak mungkin''


kompak membuat Rarra tersenyum kikuk dan memasukan kepalanya kedalam selimut


Sarra bersama para pengawal yang setia mengikutinya kembali ke mansion tanpa Adam disambut Pak Yhang , Alex dan Jenny yang heran melihat Nona mereka terlihat begitu kesal untuk pertama kalinya


''Kak Alex , jika Mas Adam mencari ku katakan aku tidak mau menemuinya sampai dia sadar akan kesalahannya padaku ''


Sarra memasuki lift dengan wajah kesal dan bibir mengerucut membuat Alex dan yang lainnya nampak terkejut


''ada apa dengan Nona ?''


Jenny dengan bingungnya


''tampaknya perang dingin akan segera di mulai untuk pertama kalinya Pak Yhang''


gumam Alex


''anda benar Tuan ''


jawab Pak Yhang


membuat Jenny semakin kebingungan tak berapa lama Adam tiba dengan berlari-lari Adam memasuku mansion


''Lex, dimana Sarra?''


Adam panik juga cemas


''Nona baru saja memasuki kamar Tuan Muda''


jawab Alex


Adam bermaksud untuk segera ke kamar namun baru beberapa langkah Jenny menghentikan langkah Adam


''maaf Tuan Muda, Nona bilang ia tak ingin bertemu dengan anda sampai anda sadar dengan kesalahan anda''


ucap Jenny


''apaa''


Adam pun menatap ke 3 orang di hadapannya yang berusaha mengahalanginya


''kalian berani melawan ku ?''


geram Adam


''maafkan kami Tuan Muda, kami hanya melakukan perintah Nona''


tukas Pak Yhang


''jangan lupa ini di rumah dia adalah adikku jadi aku berhak menjaganya''


timpah Alex


''benar Tuan Muda maafkan kami''


Jenny ikut berbicara


Adam mengheula napas nya dengan kasar dan mengacak-ngacak rambutnya sendiri tak tau harus berbuat apa lagi agar Sarra mau menemuinya Alex , Jenny dan Pak Yhang ikut iba dengan sang Tuan


''memang ada masalah apa antara kalian ? sampai Nona Sarra begitu marah ''


tanya Alex


Adam pun menceritakan apa yang terjadi hingga Sarra begitu marah dengan duduk bersama di ruang santai


''pantas saja Adikku marah, kau keterlaluan kau seolah -olah tak mempercayainya ''


ucap Alex yang nampak kesal setelah mendengar cerita Adam


''Bigbos, kalau aku jadi Nona aku juga akan marah, tapi jika aku jadi dirimu aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama mengingat Dokter Davin yang begitu tampan ''


timpah Jenny berbanding terbalik dengan Alex semua kini menatap Jenny dan apa yang di katakan Jenny memang ada benarnya juga ahirnya mereka pun terdiam dengan pemikiran masing-masing