My Husband Is My Protector

My Husband Is My Protector
Cemburu Adam



Kembali dari rumah sakit Adam masih sedikit kesal dengan Sarra karna pertemuannya dengan Davin dalam perjalanan Adam lebih banyak diam dan tak menghiraukan Sarra


Sarra yang menyadari kekesalan Adam terhadap dirinya mencoba menjelaskan namun tak di dengar Adam dan tetap mendiamkan Sarra dan bersikap dingin ahirnya Sarra memilih untuk diam juga sepanjang perjalanan kembali ke mansion


pintu gerbang terbuka dengan otomatis saat mobil Adam memasuki gerbang mansion Sarra berusaha membuka sabuk pengamannya namun nampaknya begitu kesulitan Adam yang melihat itu pun membantu Sarra membukakannya


''Mas, masih marah ? sudah ku katakan aku dan Dokter Davin hanya bicara sebentar tidak ada yang lain, kumohon Mas jangan marah lagi ya''


ucap Sarra menatap Adam


Adam masih saja mendiamkannya Sarra pun semakin sedih dan bingung menghadapi kemarahan Adam


''baiklah terserah Mas saja , aku tidak peduli Mas mau percaya atau tidak ''


Sarra beranjak dengan kasar ia membanting pintu mobilnya keluar meninggalkan Adam, Sarra mengusap air mata yang mrmbasahi pipinya Adam terkejut dengan sikap Sarra yang berubah dengan cepat ia keluar mengejar Sarra


Pak Yhang dibuat bingung dengan Sarra yang menangis memasuki lift dan Adam yang mengejarnya


''Tuan Muda, semua baik-baik sajakan ? kenapa Nona terlihat menangis sedih?''


tanya Pak Yhang membuat Adam semakin di dera rasa bersalah karna mendiamkan Sarra


''tidak ada apa-apa Pak Yhang, Sarra hanya sedang sensitip saja baiklah aku ke atas dulu''


Adam bergegas memasuki lift untuk segera menemui Sarra yang sudah berada di roptoop dan mengunci pintunya dari luar agar ia bisa sendirian di roptoop itu


Adam begitu memasuki kamar ia tak mendapati Sarra rasa cemas semakin membuatnya panik


Adam bernapas lega begitu melihat Sarra yang terduduk di gazebo roptoop sembari menangis terisak Adam semakin merasa bersalah rasa cemburunya membuat wanita yang ia cintai tersakiti


''sayang , maafkan aku buka pintunya ''


teriak Adam dari balik pintu kaca kamarnya yang Sarra kunci Adam berusaha mengetuk dan menggedor-gedor pintu kaca itu namun sia-sia Sarra tak menggubrisnya sama sekali


''kamu keterlaluan Mas, sebegitu tak percayanya kau padaku hingga kau mendiamkan aku ''


Sarra mengusap air matanya dengan kasar dan mengelus perutnya yang membuncit


''sayang Daddymu sangat keterlaluan Mommy sedih dengan Daddymu mendiamkan Mommy ''


Sarra berbicara dengan bayi di perutnya sambil terisak


tiba-tiba bayi di perut Sarra bergerak dengan kuatnya


''aww.... ''


Sarra dibuat meringis memegangi perutnya Adam yang melihat hal itu dibuat kalang kabut dengan cepat ia mengambil kunci cadangan dari meja nakas tempat tidurnya Adam membuka pintu roptoop dan berlari ke arah Sarra


''sayang, kau kenapa ?''


''Mas, perutku sakit tadi dia menendang... tapi tak seperti biasanya''


Sarra mencengkram tangan Adam dengan kuatnya Adam panik melihat Sarra kesakitan seperti itu dengan cepat ia merogoh sakunya menghubungi Wira


''cepat ke mansion istriku kesakitan ''


tanpa menunggu jawaban Wira , Adam menutup panggilannya secara sepihak ia kembali memeluk Sarra dengan khawatir dan paniknya Adam membopong tubuh Sarra kembali ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur


Adam mengelus-elus perut Sarra dan berbicara dengan sang bayi


''sayang nya Daddy, apa kabarmu maafkan Daddy yang mendiamkan Mommy , Daddy cemburu pada uncle Davin yang bicara dengan Mommymu, Mommy hanya boleh tersenyum dengan Daddy apa Daddy bersalah ?


maafkan Daddy, Daddy sangat mencintai Mommy dan kau my boy, sehat terus didalam sana jangan buat Mommy mu kesakitan ya maafkan Daddy''


Adam berbicara dengan penuh kasih sayang di perut buncit Sarra , Adam menciumi perut Sarra sembari terus berbicara dan seperti mengerti apa yang Adam katakan bayi di dalam perut Sarra menuruti perintah Adam


Sarra membelai rambut Adam perutny dan mendengar semua keluhan Adam , Sarra mulai mengerti tentang kecemburuan sang suami dan sikap posesifnya


''sayang, bilang pada Daddy, Mommy hanya mencintai Daddy selamanya tidak ada dan tak akan pernah ada yang lain ''


apa yang dikatakan Sarra membuat Adam beranjak dan menatap Sarra yang terlihat sedih Sarra memegangi kedua kupingnya dan meminta maaf Adam tersenyum dengan apa yang dilakukan Sarra


''i'm sorry''


lirih Sarra dengan cepat Adam mendaratkan ciumannya di bibir Sarra dan ******* bibir Sarra dengan rakusnya kedua tangan Sarra meremas kerah kemeja Adam menikmati ciuman Adam dan membiarkan Adam mengabsen isi mulutnya ia membalas ciuman Adam tak kalah panasnya


Wira yang bergegas ke mansion langsung menuju kamar Adam tanpa menunggu lama karna perintah Adam yang membuat Dokter itu panik dan segera ke mansion


tanpa mengetuk pintu Wira memasuki kamar Adam yang memang terbuka tidak terkunci karna Adam. lupa menutup pintu saking paniknya tadi


Wira di buat syok saat ia melihat Adam dan Sarra tengah bercumbu


''haissshhh''


Wira mematung saat melihat adegan suami istri di depan matanya Adam melepas kan pagutan bibirnya dan menatap tajam Wira


''apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu hahh''


bentak Adam kesal Sarra menutupi wajah nya dengan selimut karna malu kegiatan nya bersama Adam di lihat orang lain


''kau sendiri yang menyuruhku datang tadi lagi pula pintunya terbuka dari tadi aku pikir kalian tidak sedang... hah... sudahlah, istrimu sepertinya juga baik-baik saja''


tukas Wira


''dia tadi kesakitan, perutnya keram cepat periksa ''


titah Adam, Dokter itu pun mulai memeriksa Sarra yang malu-malu di hadapan Wira