
Kabar Rarra yang dibawa oleh Vino sampai ke telinga Sarra dari Sinta
Sarra menjadi gelisah akan kesehatan Prasetyo yang sempat memburuk namun ia juga lega mendengar Rarra mau mengikuti keinginan dan mematuhi Vino
Sarra mengirim pesan pada Adam yang tengah berada dikantor
My Hubby π¨
''sayang, aku izin ke rumah Ayah
boleh tidak? Ibu mengirim pesan
kalau Ayah sempat sakit''
Adam membuka pesan singkat dari Sarra dimana saat ini ia tengah meting Adam mengulas senyum tipis dan membalas pesan Sarra yang selalu meminta izinnya untuk keluar dari rumah
My Hubbyπ¨
'' pergilah, jangan menyetir sendiri
biar supir yang mengantar dan
pengawal tetap menjagamu , nanti
sore biar Mas yang akan jemputπ''
Sarra tersenyum saat mendapati pesan balasan dari Adam
Adam tak jauh berbeda dengan Sarra iapun tersenyum sendiri mendapati pesan balasan dari Sarra
My Love π¨
'' baiklah, sampai nanti suamiku sayang
Love you π
Adam tersenyum sendiri mendapat pesan dari Sarra disertai emoticon , para stap dan para pemegang saham menatap Adam heran begitu juga Alex mereka mengenal sosok Adam yang dingin kini tersenyum mereka pun saling menatap satu sama lain
Alex sekilas melihat layar handphone ditangan Adam iapun paham akan situasi itu
'ehemmm''
Alex pura-pura berdehem mengalihkan perhatian Adam dan kembali fokus meting begitu juga para stap dan pemegang saham yang kembali fokus pada pembahasan perusahaan
diam -diam Adam membalas pesan Sarra
My Love π¨'' I love you tooππ''
Sarra yang sedang bersiappun mengambil handphone nya kembali ia tersenyum dengan pesan balasan dari Adam
setelah dirasa sudah siap Sarra keluar dari kamar menuju lantai bawah
''Nona anda sudah siap , supir sudah siap mengantar anda''
Pak Yhang yang sudah di beritahu Adam menunggu Sarra turun
''baiklah, pasti Mas Adam yang memberitahu Pak Yhang kan?''
ucap Sarra dengan tersenyum dan berjalan menuju halaman dimana mobil dan beberapa pengawal sudah menunggunya
''benar Nona''
jawab Pria paruh baya itu
''ya sudah terima kasih Pak Yhang, Sarra pamit dulu sampai nanti sore ''
Sarra pamit dengan sedikit membungkukan tubuhnya Pak Yhang sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Sarra yang selalu ramah dan baik terhadapnya meskipun ia seorang nyonya rumah, pria paruh baya itu tersenyum balas menunduk akan sikap ramah Sarra
pengawal membukakan pintu mobil untuk Sarra dua pengawal Sarra bertugas menjaga Sarra dengan membawa mobil dan memjaganya duduk di kursi depan
satu mobil di belakang dengan 4 pengawal mengikuti mobil Sarra sesuai perintah Adam awal nya Sarra menolak namun sejak kejadian kado berdarah itu Adam menjadi lebih protektif pada Sarra dengan pengawalan ketat dan Sarra pun mau tak mengikuti keinginan Adam
jarak tempuh mansion Adam ke rumah keluarga Lim memakan waktu sekitar 45 menit dengan kecepatan maksimal Sarra menikmati perjalanan dengan memandang keluar jendela mobilnya para pengawal di buat kagun akan kecantikan sang Nyonya Mahendra itu
tak berapa lama Sarra pun sampai dikediaman keluarga Lim
Sarra di sambut Sinta dengan antusias memeluk dan menciumi putri sambungnya itu
''sayang , Ibu rindu sekali denganmu sudah lama kau tak berkunjung kemari''
tukas Sinta
jawab Sarra dengan memeluk manja sang Ibu
Sinta menatap beberapa pengawal yang menjaga Sarra
''sayang, suamimu sebegitu cemasnya denganmu sampai-sampai mengawalmu segala''
Sinta kembali berkata Sarra tersenyum ke arah para pengawal dan sang Ibu
''nanti Sarra ceritakan alasannya, Ayah dimana Bu, pastinya Ayah dikantor untuk apa aku bertanya dasar bodoh ''
Sarra menjawab pertanyaan nya sendiri membuat Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya karna tingkah Sarra yang polos dan selalu ceria ia menarik tangan sang putri untuk masuk kedalam rumah
Sinta dan Sarra ahirnya bisa kembali bercengkrama dan saling bertukar cerita Sinta menceritakan tentang Rarra yang di bawa Vino dan sebenarnya itu adalah rencana Ayah dan Vino yang ingin Rarra bisa merubah sikapnya yang selalu manja dan egois
''semoga saja rencana Ayah dan Vino bisa membuat Rarra berubah lebih baik ya Bu, sebenarnya Rarra gadis yang baik hanya saja Kakek membuat Rarra jadi seperti itu''
ucap Sarra
Sinta menatap Sarra dengan penuh rasa bersalahnya akan perbuatan yang Rarra lakukan pada Sarra
''Sarra, apa kau tidak dendam atau membenci adikmu setelah apa yang ia lakukan padamu sedari dulu''
tanya Sinta
''Bu, kenapa Ibu bicara seperti itu ?, Sarra tak pernah sedikit pun membenci Rarra bagaimanapun Rarra adik Sarra yang harus Sarra jaga dan sayangi lagi pula, Sarra sudah bahagia dengan kehidupan Sarra saat ini
malah mungkin Sarra akan berterima kasih pada Rarra secara tidak langsung berkat Rarra , Sarra bisa bertemu kembali dengan Mas Adam cinta pertama Sarra''
Sarra menggenggam tangan Sinta yang menatapnya bangga dan bahagia dengan pemikiran Sarra itu
''Ibu bahagia mendengarnya dan Ibu bisa bernapas lega karna selama ini Ibu selalu menyesali perbuatan Rarra padamu juga Ayah, kini kami bisa lega terima kasih sayang ''
ungkap Sinta dengan berkaca-kaca
Sarra mengusap airmata Sinta dengan penuh kasih sayang
''Bu jangan menangis nanti, Ayah akan memarahiku karna membuat wanitanya menangis''
Sarra menggoda Sinta agar tersenyum dan berhenti menangis dan benar saja Sinta jadi tertawa dengan perkataan Sarra
''kau ini senang menggoda Ibumu ''
Sarra dan Sintapun tertawa bersama-sama dengan perasaan bahagia
''kalian menertawakan apa?, sampai-sampai suara kalian terdengar keluar''
tiba-tiba suara Prasetyo memecah tawa Ibu dan anak di ruang tamu itu yang tengah tertawa bersama Sarra melirik ke arah suara yang selama ini ia rindukan
''Ayah''
Sarra beranjak dan menghambur ke pelukan sang Ayah yang juga memeluk putrinya dengan erat dan sama rindunya
''Ayah, Sarra rindu Ayah''
ucap Sarra
''Ayah juga merindukan putri Ayah ini, oh ya suamimu itu ketat sekali menjagamu apa karna model genit itu?''
tanya Prasetyo yang di iyakan Sarra dan Sinta yang menghampiri mereka dengan tersenyum
Prasetyo melihat Sinta seperti habis menangis pria itu menjewer telinga Sarra
''apa yang kau lakukan pada wanita Ayah hingga membuatnya menagis ''
Sarra pura-pura kesakitan karna memang Prasetyo hanya ingin menjaili putrinya itu Sinta membelalakan matanya dengan apa yang dilakukan suaminya
''aawwww.... sakit Yah... Sarra tidak berbuat apa-apa Ibu saja yang cengeng ya kan Bu... tolong putrimu ini sedang di aniayaya''
teriak Sarra cengengesan
''Yah, sudah jangan menjaili putriku terus ''
Sinta menarik tangan Prasetyo dari kuping Sarra Prasetyo memeluk dua wanita kesayangannya dengan bahagia
''kalian adalah hartaku yang paling berharga Ayah sangat menyayangi kalian ''
ucap Prasetyo
''kami juga sayang Ayah''
Sinta dan Sarra dengan kompak membuat Prasetyo tertegun namun juga bahagia kembali ia memeluk istri dan putrinya dalam hati kecilnya seandainya Rarra bisa seperti Sarra alangkah bahagianya