
Adam dan Sarra kembali ke indonesia setelah mendapat kabar Rarra akan segera melahirkan dan saat ini Rarra sudah berada di rumah sakit bersama Vino yang selalu setia disampingnya juga Prasetyo , Sinta, Kakek Surya dan Nenek Larasati yang datang dari perkebunan setelah di beritahu Prasetyo sebelumnya
''ahh... sakit... Vin... sakit sekali...''
rengek Rarra dengan mencengkram tangan Vino dengan kuatnya sampai-sampai kuku-kuku tajamnya tertancap di tangan Vino , Vino mencoba untuk tetap tenang mendampingi sang istri
''iya sayang, aku tau kuatlah dan berjuang demi bayi kita aku disini bersamamu ''
ucap Vino dengan mengecup kening Rarra agar sang istri bisa bertahan dan berjuang demi melahirkan sang bayi
Sinta juga tak jauh dari sisinya ikut mendo'akan dan memberi semangat untuk sang putri
''benar, sayang kau harus kuat demi bayi kalian , berjuanglah sayang kami disini akan selalu bersamamu ''
kakakmu juga dalam perjalanan kemari, kakek dan nenek juga Ayah berada di sini menemanimu''
tutur Sinta
Rarra mengangguk pelan dengan merasakan sakit yang terus menderanya Dokter Wira memasuki ruangan Rarra dengan di ikuti beberapa perawat untuk memeriksa Rarra
''pembukaannya sudah sempurna , suster cepat bawa pasien ke ruang bersalin ''
titah Wira
''baik Dok''
Rarra kemudian di pindah kan keruang bersalin bersama Vino yang ikut mendampinginya Sinta , Prasetyo, Kakek Surya dan Nenek setia menunggu di luar ruangan
tak lama derap langkah kaki Sarra dan Adam yang baru saja tiba menghampiri mereka di ikuti Alex dan Jenny juga para pengawal mereka
''Ayah, Ibu bagimana Rarra?''
Sarra penuh kecemasan
''Rarra baru saja di bawa keruang bersalin sayang, kenapa kau tidak beristirahat saja kau juga sedang mengandung kau pasti lelah setelah perjalanan''
ungkap Sinta
''tidak apa-apa bu, Sarra baik-baik saja, lagi pula Sarra tidak akan bisa tenang di mansion ''
ucap Sarra
Sarra yang melihat keberadaan Kakek dan Neneknya menghambur memeluk orang yang sangat ia rindukan dan begitu ia sayangi itu begitu juga Adam
''Kakek, Kakek juga datang? Sarra sangat merindukan Kakek dan Nenek ''
ucap Sarra memeluk sang Kakek
''Kakek juga merindukan cucu Kakek ini , tampaknya kau sangat bahagia terlihat dari pipimu yang semakin berisi''
canda Kakek
''Kakek.... ''
Sarra mencebik karna merasa di ledek dengan tubuhnya yang semakin berisi membuat semua orang tertawa melihat Sarra merajuk
begitu juga Adam yang merengkuh tubuh Sarra kedalam pelukannya
2 jam kemudian ahirnya Rarra melahirkan bayi perempuannya dengan selamat Vino keluar dengan mengendong bayi mungil mereka semua orang begitu bahagia menyambut malaikat cantik itu dan memindahkan Rarra kembali kamar inapnya bersama suster dan Wira tentunya
''sayang , dia lucu juga cantik sekali''
Sarra dengan antusias dan menggenggam tangan Adam disampingnya saat ia melihat bayi mungil di pelukan Vino begitu juga Prasetyo , Sinta , Kakek Surya dan Nenek Larasati
''Tuan Vino , boleh saya ambil bayi nya waktunya untuk Nona Rarra menyusuinya ''
''biar saya yang membawanya kepada istri saya''
jawab Vino
semua orang nampak bahagia dengan kelahiran bayi Rarra , dan memberikan ucapan selamat pada Rarra dan Vino
''selamat ya sayang, kau sudah menjadi ibu semoga kau bisa menjaga dan mendidiknya dengan baik ''
ucap Prasetyo dan memeluk sang putri begitu juga Sinta , Kakek dan Nenek bergantian memeluk dan memberi ucapan selamat pada Rarra
''iya Yah, Bu , Kakek , Nenek terima kasih berkat do'a kalian aku bisa melahirkan dengan selamat Kak Sarra , semoga kau juga segera menyusul ku supaya nanti kita bisa bermain dengan bayi-bayi kita bersama''
Rarra menatap Sarra yang mengahampirinya bersama Adam
''amiin , do'akan saja yang terbaik , bayi perempuanmu sangat cantik Ra, selamat ya untukmu juga Vino ''
balas Sarra
Rarra dan Vino mengangguk akan ucapan Sarra semua orang bahagia dengan kelahiran bayi Rarra dari balik pintu tampak Davin yang tak sengaja melihat Sarra dari kejauhan diam-diam ia memperhatikan Sarra
''syukurlah kau baik-baik saja ''
lirih Davin yang belakangan selalu menghawatirkan Sarra dari kejauhan namun tanpa sengaja Sarra melihatnya untuk sesaat keduanya saling beradu pandang , ada rasa bersalah dalam diri Sarra karna ia mengingatkan Davin akan masa lalunya sementara Davin menatapnya penuh kerinduan
Adam melihat Sarra yang tiba-tiba terdiam ia pun sadar saat melihat Davin yang berada di balik pintu tiba-tiba ada rasa sesak dan sakit tapi tak terlihat menusuk di hatinya
''Mas, bolehkan aku berbicara sebentar dengan Dokter Davin? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya''
Sarra menatap Adam ia tau kalau Adam pasti merasa tidak nyaman saat ini ia meraih tangan Adam dan mencoba membuat Adam yakin padanya Adam mengangguk pelan bagaimanapun Sarra harus bicara dengan Davin
Sarra melepas tangan Adam dan melangkah meninggalkan ruangan Rarra sementara Adam menatap Sarra dengan rasa sakit yang entah darimana asalnya pun ia tak mengerti
Prasetyo menepuk bahu sang menantu ia paham apa yang kini tengah Adam rasakan
''yakinlah semua akan baik-baik saja setelah Sarra bicara dengannya''
ucap Prasetyo
Adam mengangguk semua tau tentang Davin yang mencintai Sarra karna wajah Sarra mirip dengan mendiang istri Davin
sementara itu Davin dan Sarra berjalan menuju sebuah bangku di sudut lobi dimana biasa orang duduk menunggu antrian rumah sakit itu hanya beberapa orang saja yang terlihat disana karna suasana yang sudah malam pengawal Sarra tak jauh berada dari tempat Davin dan Sarra berbicara
''bagaimana kabarmu Sarra? aku mendengar dari Wira kau sempat stres karna ancaman Damon apa sekarang kau sudah baik-baik saja?
Davin memulai pembicaraan diantara mereka
''aku baik-baik saja terima kasih kau sudah mencemaskan aku, memang aku sempat stres akan ancaman itu, tapi berkat Mas Adam dan orang-orang di sekalilingku aku bisa melewatinya dengan baik''
tukas Sarra
Davin tersenyum simpul dengan penuturan Sarra tak bisa di pungkiri ia merasa sakit hati mendengar Sarra begitu mencintai Adam
''Bigbos, sangat mencintaimu Sarra, hingga kau begitu memujanya dan tidak ada tempat lagi untuk orang lain mengisi hatimu ''
Davin dengan menatap Sarra , wanita kesayangan Adam itu balas menatap Davin
''kau benar Dokter, aku sangat memuja dan sangat mencintai suamiku sejak pertama kami bertemu ia adalah cinta pertamaku juga pelindung bagiku aku tak tau bagaimana nasibku jika tak ada dia''
lirih Sarra , Davin dapat melihat cinta Sarra yang terlihat jelas dimata nya begitu besar untuk Adam ia hanya bisa pasrah dengan itu
''aku hanya ingin meminta maaf karna aku mengingatkan mu pada mendiang istrimu sekali lagi maafkan aku , aku tak bermaksud untuk membuatmu tersiksa setiap melihat ku , aku merasa berdosa dengan memiliki wajah ini membuat orang lain terluka aku sungguh menyesal''