
Aily menghela napas panjang membuat Rion yang sedang memainkan ponselnya di samping Aily melirik gadis itu, "ada apa sayang? apa kamu bosan?" tanya Rion pada sang istri. Sudah berapa hari ini Rion meliburkan diri karena landungan Aily yang semakin besar dan permintaan ibu hamil ini yang setiap harinya selalu meminta hal di luar batas normal.
Contohnya kemarin mereka baru saja pulang dari Thailand karena ibu hamil ini ingin melihat langsung Banci Thailand, Tentu saja Rion marah. Namun apalah daya dia tidak bisa marah dan hanya melampiaskanya pda orang lain yang tidak bersalah, walaupun demi kian Rion tetap memenuhi keinginan Aily.
"Sayang?" tanya Rion lagi karena melihat Aily yang malah melamun.
"Ah, iyah apa sayang?" tanya Aily langsung tersadar.
"Kenapa kamu menghela napas? apa kamu bosan? atau bayi kita ingin sesuatu?" tanya Rion sambil mengusap perut Aily yang semakin membesar itu.
"Aku bingung, sejak tadi di pikiranku hanya makanan dan makanan sayang." jawab Aily padahal dirinya masih kenyang namun otaknya terus memikirkan makanan dan membuat dirinya ngiler sendiri setelah membayangkanya.
"Mungkin bayi kita menginginkan itu, katakan apa yang kamu bayangkan tadi? aku akan menyuruh koki membuatknya." ujar Rion sambil merangkul Aily dan mengelus-elus perutnya.
"Anak kita ingin Ayam betutu dan sate lilit. Tapi--" ucapanya menggantung sambil kembali menghela napas. "Tapi rasanya aku ingin makan di sana sambil menikmati pantai bali," lanjutnya sejujurnya Aily sangat malas untuk pergi kesana.
Rion berjongkok dan menghadap Aily yang tengah duduk di sofa, "kamu nakal nak, kamu selalu membuat Ibumu kelelahan dengan mengajaknya bepergian jauh." bisiknya di depan perut Aily sambil menciumi perut Aily yang sudah besar.
"Kamu bicara apa sayang?" tanya nya.
"Tidak ada, Ayo kita berangkat." Ajak Rion pada istrinya itu.
"Tapi sayang, kamu jadi tidak bekerja karena terus mengikuti keinginan bayi kita." ucap Aily merasa tidak enak pada suaminya yang selalu siap siaga di sampingnya.
Mereka akhirnya pergi ke bandara dan naik jet pribadinya, Aily sudah tertidur di dalam. Sementara Rion kembali keluar menunggu seseorang yang akan ikut pergi dengan mereka.
"Astaga maafkan aku Rion, Dimana Aily? apa dia baik-baik saja?" tanya Rihana yang berlari mendekati Rion saat keluar dari mobil.
"Dia sedang tidur dan baik-baik saja," jawab Rion dengan kedua lengan yang menyilang di bawah dadanya.
"Baik-baik saja? lalu kenapa aku di suruh kesini?" tanya Rihana penasaran karena Sekertaris Lee terlihat sangat buru-buru saat menjemputnya tanpa berbicara apa-apa.
"Kamu harus ikut kita ke bali, dia ingin makan sate lilit." ujarnya dengan santai dan menaiki anak tangga jet itu dan lalu di ikuti Rihana yang terlihat nampak kesal.
"Astaga kenapa ga bilang dari tadi dan malah membuat ku hawatir, tau begitu aku dandan dulu yang cantik. Lagian kan kalian punya koki dan bisa membuatkan nya untuk Aily," gerutu Rihana sambil membawa kotak menis nya yang berat itu.
"Anakku ingin makan di bali, dan dia bilang nanti malam dia ingin makan pempek di palembang. Jadi siapkan dirimu aku takut jika Aily kelelahan karena ulah anakku." ujarnya seolah tau jika anaknya kelak saat lahir akan membuat Aily semakin kerepotan.
"Oalahhh,, anak sultan mah beda yah. Baru kemarin pulang dari thailand, aku saja belum sempat istirahat setelah kepulanganku dari Thailand dan sekarang aku harus dinas luar lagi menjaga wanita hamil." keluhnya namun dirinya senang karena dinas luar yang membuatnya tidak suntuk dan malah membuatnya bersemangat karena Aily selalu membayar belanjaanya tentu saja memakai uang sepupunya Rion.
.
.
to be continued...