
Rion memeluk Aily yang menangis histeris, "kak aku sudah bikin Ibuku sendiri meninggal. aku tidak pantas hidup di atas penderitaan Ibuku selama ini," tangis nya benar-benar pecah di dada bidang pria nya sambil memeukulnya pelan.
"Itu bukan salahmu Aily, ini semua salah Ayah. Maafkan Ayahmu ini yang tidak bisa membuat kalian hidup bahagia," ujarnya.
"Lalu kenapa Ayah sekarang berusaha memisahkanku dengan anakku?" tanya nya mengingat ucapan Ayahnya tadi yang melukai hatinya.
"Ma- af kan Ayah," ujarnya tubuhnya yang sedang berdiri tiba-tiba terduduk lemas di atas lantai dengan isak tangis dan tubuh yang bergetar. "Ayah sayang padamu dan tidak bisa meoihatmu menderita lebih banyak lagi," ujarnya dengan wajah yang menunduk Alika dan Agatha memeluk Alvin bagaimana pun mereka berdua tau percis seperti apa pengorbanan Alvin selama ini yang.
"Aily, ayahmu benar-benar menyayangimu." ucap Agatha yang ingin sekali bercerita tentang masalalu keluarganya sejak lama, namun Aily selalu enggan berbicara denganya karena selalu di ujungi dengan pertengkaran di antara mereka.
Aily tersenyum pahit, "kalian bohong! Buktinya kalian selalu meninggalkan ibuku yang kesakitan dan menderita karena penyakitnya." ucap Aily tepat sebelum dirinya pingsan.
"Aily!" teriak semua orang yang ada di ruangan itu, Rion dengan sigap menahan Aily agar tidak terjatuh.
"Cepat kita bawa ke rumah sakit," ujar Meria yang juga tidak kalah paniknya dengan yang lain.
Rion pun menggendong Aily masuk kedalam mobil yang di kendarai Albert karena Alvin tidak bisa mengendarai mobil dengan tubuh yang bergetar karena syok melihat anaknya yang pingsan.
Sesampainya di rmah sakit Aily langsung di periksa oleh dokter Rihana yang juga sepupu Rion, "bagaimana keadaan nya Hana?" tanya Rion tidak sabaran.
"Sabar! aku sedang memeriksanya kamu keluar dulu!" ketus Rihana yang juga kesal karena Rion mengganggu konsentrasinya.
Rion di tarik leluar oleh Meria dan mereka berdua pun menunggu di luar ruangan bersama yang lainya, Alvin tidak kalah gelisahnya dengan Rion mereka semua menghawatirkan Aily.
Alvin kaget dan langsung menatap Rion dengan mata yang berkaca-kaca, dia sangat senang karena akhirnya pria angkuh yang akan menjadi menantunya memanggilnya Ayah.
"Pulang lah dan beristurahat, aku akan mengabari Ayah saat Aily sadar." ujar Rion sambil memegang telapak tanganya yang mengepal dan bergetar.
"Aku tau jika Aily tidak akan mau menemuiku, tapi biarkan aku menunggunya di sini." ujar Alvin berusaha kuat. "Maafkan Ayah, sudah membuatmu terluka juga karena permintaanku yang egois."
Rion mengangguk dan memeluk pria itu, "aku mengerti. Tapi mereka berdua akan baik-baik saja percaya padaku Ayah."
Tiba-tiba salah satu perawat keluar, "tuan Rion anda di persilahkan masuk. Nona Aily sudah sadar dan ingin bertemu denganmu," ujar perawat itu.
"Masuklah, tolong jaga dia." ujar Alvin lalu Rion pun mengangguk dan pergi masuk kedalam.
"Suster bagaimana kondisi anakku?" tanya Alvin dan yang lainya karena ingin mendengar kabar Aily.
"Nona Aily sudah sadar, dia sangat kelelahan dan sedikit stres. kandunganya baik-baik saja," ujar Perawat itu membuat semua orang yang ada di sana bisa bernaoas dengan lega.
.
.
to be continued...