
Eria dan Aily lumayan lama berpelukan karena sahabatnya itu merasa menyesal tidak menemani Aily sejak awal, dia terlalu sibuk dengan kuliahnya akhir-akhir ini.
"Jangan bersedih Eria, ini bukan salahmu." ujar Aily berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Maafkan Aku Aily, harus nya aku peka dengan kondisimu. Harusnya aku selalu ada di sisimu untuk menjagamu Aily," ungkapnya dengan isak tangis yang juga di ikuti orang yang berada di sana.
Rion yang masuk bersama kedua orang tuanya langsung menjewer Eria untuk menjauh dari tubuh wanitanya, "sudah cukup jangan bersedih lagi, Aily biar Kakak yang jaga." ujar Rion karena Eria terus memeluk Aily dengan erat.
"Aduh kakak, aku masih merindukan Aily." ucaonya tidak biasanya kakaknya bersikap kasar seperti ini pikirnya lagi.
"Kamu hanya akan membuat Aily dan bayiku kehilangan nafasnya jika memeluknya seerat itu Eria," keluh Rion tidak ingin Aily kesakitan.
"Maafkan aku Aily, aku lupa kalau sekarang kamu sedang mengandung keponakanku." ujarnya.
"Keponakanku juga," ujar Rihana yang baru datang keruangan Aily bersama dua perawat lainya. "Aku akan membawa Aily untuk pemeriksaan lebih lanjut, kalian akan mengetahui hasilnya sore ini." ujar Rihana.
"Tolong jaga menantuku Hana," ujar Meria pada anak saudaranya itu dan di jawab anggukan oleh Rihana.
Sudah hampir satu jam pemeriksaan Aily di ruangan khusus, Aily kembali dan duduk di atas ranjang nya kembali menunggu hasil pemeriksaan dengan seluruh anggota keluarganya di dalam ruang rawat inap VVIP itu.
Rion sejak tadi gelisah sambil merangkul pundak Aily dan juga para anggota keluarga yang lain, tidak ada yang berbicara sedikitpun karena mereka sibuk dengan pikiranya masing-masing mereka berdoa agar mendapat hasil yang baik. Berbeda dengan Aily yang terlihat santai karena sudah pasrah dengan nasibnya, dia hanya tidak rela meninggalkan Anak dan juga pria yang sudah mulai ia cintai itu.
"I Love You," bisik Aily di telinga Rion membuat wajah Rion merona karena Aily baru saja mengungkapkan isi hatinya. "Apa kakak akan tetap menikahiku walau hasilnya sudah pasti positive jika aku menderita tumor otak?"
Rion meraih wajah Aily dengan kedua lengan yang memegang pipinya, "jujur aku berharap jika kamu sehat Aily, tentang pernikahan sejak awal tidak ada yang berubah dan akan tetap kita laksanakan apapun kondisinya." ujarnya lalu mencium lembut bibir strawberry Aily yang sangat terasa manis itu.
Keduanya memperdalam ciuman tanpa mereka sadari seluruh anggota keluarganya menatap aksi keduanya, "sepertinya kita harus mempercepat acara pernikahan." ujar Albert saat melihat putranya begitu agresif mencium Aily, sementara yang lain hanya terkekeh pelan.
"Maaf papi, aku tidak sadar jika kalian di sini." ujar Rion saat setelah menghentikan ciumanya saat mendengar sindiran dari Albert.
"Apa sekecil itu sampai tidak terlihat, Nak?" tanya Meria. "Anak-anak kita sedang di mabuk cinta," tambahnya lagi berbicara pada Agatha yang juga sedang tersenyum menatapnya. Alvin hanya diam dia masih gelisah menunggu hasil pemeriksaan, namun satu yang pasti dia juga sangat senang karena Aily menemukan pria yang sangat mencintainya.
Aily dan Rion hanya tersenyum malu, tiba-tiba Rihana datang keruangan itu dengan beberapa dokter lainya termasuk dokter yang juga dulu memeriksa Aily.
.
.
To be continued...