
Rion menarik Aily agar berbalik menatapnya saat memasuki kamar Aily, wanita itu terkejut dan menahan agar tubuhnya tidak saling bersentuhan.
"Katakan padaku, apa maksud mereka?" tanya Rion dengan menatap tajam Aily dengan jantung yang sudah tidak rmkaruan.
"Tidak ada maksud lain, ya tentu saja mereka bilang jika aku sedang hamil." jawabnya pasrah mau bagaimana lagi dirinya tidak bisa terus membohonginya.
"Kamu hamil?" tanya nya dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Iya, apa kakak kecewa saat mengetahui aku hamil? apa kakak tidak suka?" tanya Aily karena wajah oria itu tidak menggambarkan jika dia sedang bahagia.
"Bodoh!" Rion mentoyor jidat Aily gemas bagaimana mungkin Aily berpikiran jelek tentangnya.
"Kakak!" bebrmtaknya karena lagi-lagi sikap Rion tidak berubah kepadanya.
"Aku bukan tidak suka, Aily bodoh!" ujarnya membenarkan.
"Lalu apa kalau bukan itu!" ketusnya kesal.
"Aku sangat kecewa padamu, karena aku bukan orang pertama yang tau tentang kehamilan mu. Dan aku kecewa padamu karena aku tau tentang kehamilanmu dari mulut orang lain bukan dari kamu, wanitaku." ujarnya sambil mencubit kedua Aily.
"Lepaskan, aku bukan anak kecil lagi yang bisa kamu perlakukan aku seperti ini. Kakak tau? aku akan menjadi seorang ibu, jadi jangan perlakukan aku seperti anak kecil." komplain Aily karena dia malu jika nanti anaknya melihat perlajuan Rion yang seperti itu.
Namun sedetik kemudian Aily berpikir apa itu akan terjadi? atau bahkan mungkin saat melahirkan dirinya sudah tidak ada. Jantung Aily kembali berdebar, matanya memanas seperti akan keluar cairan dari sudut matanya.
"Jangan menangis, maafkan aku. Seperti apapun sikapmu, dan seperti apapun perlakuan ku kepadamu. Kamu tetap nomor satu dan kamu tetap seperti anak kecil di mataku," ujar Rion sambil memeluk Aily. Aily tidak dapat menolak pelukan itu karena dirinya pun sangat merindukan Rion jujur saja Aily sangat takut jika membayangkan perpisahan yang mungkin lebih parah dari pada sekarang.
"Nomor satu? siapa yang kamu pilih antara aku dan anak ku?" tanya Aily pria yang sedang menatapnya.
"Apa yang sedang kakak lajukan?" tanya Aily.
"Aku ingin bertemu dengan anakku," ujarnya. "Dia adalah anak kita, aku harus meminta ijin padanya." jawabnya, Rion menatap perut Aily yang datar itu sambil mengelusnya pelan.
"Daddy sayang padamu nak," ujarnya menatap perut Aily yang tertutup kain dengan bangga jujur saja Rion sangat bangga pada dirinya sendiri karena bisa menghasilkan sebuah maha karya yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Tapi Daddy sudah sangat mencintai Mommy mu jauh sebelum kehadiranmu, jadi Daddy akan memilih Mommy mu." Ucap Rion sambil menatap Aily seolah memberikan jawaban yang sebelumnya ditanyakan Aily mana yang akan dia pilih.
Jantung Aily berdebar sangat kencang, pernyataan cinta secara tidak langsung itu membuat dirinya kembali terbuai rasa senang dan sedih bercampur aduk di dalam hatinya.
Rion mencium perut Aily dan kembali berdiri memeluk wanitanya.
"Tapi jika kelak aku pergi lagi, kamu harus bertanggung jawab dengan baik pada anakku. Jangan pernah marah padanya, apa kamu janji?" tanya Aily.
Rion mengangguk, "tentu saja, dan ingat itu adalah anak kita. Bukan hanya anak mu." jawab Rion. "Memangnya kamu akan kabur lagi Ai?" tanya Rion menunduk menatap Aily.
Aily mendongakan kepalanya untuk menatap Rion dan mengangguk tanda membenarkan pertanyaan Rion.
"Kalau begitu, aku akan mencarimu lagi sampai dapat." jawabnya lalu mencium kening gadis itu dengan perasaan bahagia.
.
.
to be continued...